MOJOK.CODahnil Anzar ternyata diam-diam turut memikirkan nasib kaum Uighur di Xinjiang. Katanya sih, umat Islam di sana tidak memperoleh kebebasan beragama. Apa betul, seperti itu?

Bang Dahnil Anzar, ni hai hao ma? Semoga selalu sehat dan kuat untuk menyuarakan jeritan umat. Begini, Bang.

Jujur saya kagum sekali pada Abang. Bahkan di sela-sela kesibukan merampungkan rekapitulasi internal maharahasia perolehan suara Om Prabowo yang dielu-elukan mencapai 62 persen itu. Abang Dahnil Anzar ikhlas menghibahkan tenaga dan waktu berharganya untuk intens memikirkan nasib kaum Uighur yang—katanya—tengah dirongrong kebebasan beragamanya oleh rezim kafir komunis Cina kandidat pasti penghuni abadi kerak neraka.

Tak pelak, beberapa hari terakhir saya jadi keranjingan stalking Twitter Abang Dahnil Anzar. Apalagi setelah mengetahui sejak 10 Mei kemarin, Abang beruntun ngoceh kalau akhir-akhir ini sedang dilanda keheranan mahadahsyat terhadap beberapa tokoh Islam dan ormas yang “diundang resmi dan dibawa jalan2 keliling Cina” oleh pemerintahan Xi Jinping. Abang memang tidak menyebut merek, sih. Cuma, we know who lah siapa yang dimaksud Abang.

Dari situ saya tahu Abang Dahnil Anzar geram. Mangkanya Abang lantas menuding mereka, “tiba2 jadi jubir pemerintah Cina” karena bilang, “bahwa tdk ada tindakan anti Islam di Cina.” Padahal, jelas-jelas, “Cina Hancurkan Puluhan Masjid di Xinjiang” sebagaimana judul artikel laman Republika yang ditautkan dan diyakini Abang sebagai kebenaran tunggal nan haqiqi.

Di tanggal yang sama, Abang lanjut ngegas me-retweet Twitter orang yang di dalamnya terdapat link berita dari tempo.co berjudul “China Tindak Keras Minoritas Islam Yang Jalani Puasa Ramadan”.

Belum puas. Esoknya, tanggal 11 Mei, Abang Dahnil Anzar masih menyempatkan diri menyebarkan kicauan Amnesty International Indonesia yang menyatakan muslim Uighur di Xinjiang dilarang menjalankan ibadah puasa selama Ramadan.

Sungguh luwar biyasa nian girah keislaman Abang. Saya rasa, Abang Dahnil Anzar sangatlah pantas diangkat sebagai ulama yang bisa diikutsertakan kalau-kalau nanti ada Ijtima Ulama jilid IV.

Baiklah. Supaya tidak melipir ke mana-mana, saya mau langsung ke pokok permasalahan terkait pemberitaan tempo.co yang intinya menulis bahwa, “di Provinsi Xinjiang, semua Muslim telah mengalami penahanan dan larangan praktik keagamaan” itu.

Baca juga:  Muslim Uighur, Natal, dan Glory! Glory! Hallelujah! ala Prabowo

Aduh, Bang. Coba mari sekali-kali kita patuh pada wejangan adiluhung filsufnya sari patinya filsuf bernama Rocky Gerung. Supaya kita sama-sama menggunakan “akal sehat” sehingga bisa melihat permasalahan ini dengan lebih jernih. Bukannya apa. Abang Dahnil Anzar kan tahu sendiri, jumlah penduduk Xinjiang itu kira-kira 24 juta per akhir tahun 2017.

Situs Asosiasi Islam Cina (Zhongguo Yisilanjiao Xiehui) memerinci, separuh dari populasi yang 24 juta itu, alias kira-kira 12 jutanya, adalah suku Uighur yang tak lain dan tak bukan merupakan ikhwan seiman dengan kita. Ya, sungguh sebuah angka yang mirip-mirip dengan ketertinggalan suara Om Prabowo dengan Jokowi versi real count KPU.

Itu belum termasuk etnis Kazakh, Kyrgyz, Tajik, Uzbek, Tatar, dan Hui yang mayoritas beragama Islam juga lho, Bang. Bila ditotal, jumlah mereka di Xinjiang mencapai hampir 3 juta orang.

Jadi logika sederhananya, kalau benar “semua Muslim” di Xinjiang yang keseluruhan berjumlah sekitar 15 juta jiwa itu “telah mengalami penahanan dan larangan praktik keagamaan” sebagaimana diberitakan tempo.co wa ṣahbihi ajma‘īn, mestinya yang kini ada di Xinjiang bukanlah masjid-masjid, peninggalan-peninggalan historis, toko-toko, dan pemukiman-pemukiman penduduk. Melainkan rumah-rumah tahanan berskala raksasa.

Tapi kenyataannya, kan, tidak semencekam itu juga, Bang?

Pasalnya, sependek dan sesempit daya jangkau pengamatan saya, kecuali anggota Partai Komunis Cina, aparatur negara, dan anak-anak sekolah yang masih dalam usia wajib belajar 9 sampai 12 tahun, semua rakyat Cina tidak dipermasalahkan untuk mengamalkan ibadahnya sesuai agama (zongjiao) atau kepercayaan (xinyang) yang diimani masing-masing.

Tentu, asal dilakukan dalam ranah privat atau di tempat yang semestinya. Yang beragama Islam, misalnya, silakan berpuasa di rumah dan salat di masjid. Jangan di Lapangan Tiananmen yang mirip Monas itu.

Soalnya, Masjid Id Kah di Kashgar (ibu kota Xinjiang selatan) yang mempunyai sejarah panjang dan merupakan masjid terbesar di Cina itu, masih mampu menampung ribuan jemaah sampai detik ini.

Kalaupun Masjid Id Kah dirasa belum cukup, merujuk Buku Putih Kondisi Kebebasan Beragama Xinjiang (Xinjiang de Zongjiao Xinyang Ziyou Zhuangkuang) yang dirilis Dewan Negara Cina pada Juni 2016, di setiap relung Xinjiang masih ada sekira 24 ribu masjid lengkap dengan 29 ribu imamnya yang siap kapan saja dipakai.

Baca juga:  Mendukung Ide Dahnil Anzar yang Sebut Jokowi dengan Prabowo Tak Perlu Rekonsiliasi

Oh iya, perlu Abang Dahnil Anzar ketahui, menurut penelitian lapangan Profesor Yang Shengmin, dekan Fakultas Etnografi dan Sosiologi Minzu University of China yang dilahirkan dari keluarga muslim taat, jumlah masjid di Xinjiang pada 1984 cuma berkisar 9 ribuan saja.

Artinya apa, Bang? Artinya ada tren kenaikan pembangunan masjid di Xinjiang semenjak Cina—mulai tahun 1980-an, menjalankan ideologi hibrid oplosan antara paham komunis dan kapitalis yang Deng Xiaoping ejawantahkan melalui kebijakan Reformasi dan Keterbukaan (gaige kaifang).

Walakin, bahwa terdapat kasus-kasus perobohan masjid di Cina, wabil khusus di Xinjiang, adalah fakta yang tidak patut dan memang tidak diingkari keberadaannya oleh pemerintah Cina.

Tetapi, perobohan-perobohan itu utamanya dilakukan terhadap masjid-masjid yang bentuk bangunannya dianggap kelewat kearab-araban (alabohua). Sementara yang beraksitektur lokal, tetap akan dibiarkan senyampang tidak mempunyai masalah administratif. Lahannya bermasalah atau mendapat sokongan dana terlalu besar dari pihak luar yang ditengarai berpaham radikal, umpamanya.

Harap maklum, Bang Dahnil Anzar. Pemerintah Cina juga ketar-ketir dengan fenomena kearab-araban yang belakangan makin menjamur di mana-mana itu. Sebab, mereka khawatir penduduk muslim di negaranya—yang jumlahnya mencapai 30 juta dan tinggal di wilayah strategis nan kaya sumber daya alam. Bakal tercemar paham garis kaku yang demen mengkopar-kapirkan liyan dan men-toghuttoghut-kan negara yang dianggap tidak syari demi memimpikan negara khilafah.

Oleh sebab itu, pemerintah Cina sangat mendukung ulama-ulama di negaranya yang sekarang sedang giat-giatnya memformulasikan Islam yang toleran terhadap perbedaan dan kearifan lokal melalui apa yang disebut sebagai Islam Konghucu (Huiru).

Mungkin karena itulah, tokoh-tokoh agama Indonesia yang diundang ke Cina kapan hari adalah mereka yang, meminjam istilah Gus Dur, “ramah-ramah, bukan yang marah-marah.” Alias, sekadar contoh saja ini lho, bukan sejenis homo sapiens bergamis yang gara-gara dikasih duit seribu perak lalu ngamuk-ngamuk tak jelas juntrungannya ke mbak-mbak Indomaret karena merasa dilecehkan itu.



Tirto.ID
Loading...

No more articles