MOJOK.COPenderitaan Atalanta adalah penderitaan kita. Ketika sebetulnya mampu untuk melawan tapi harus dikalahkan demi titan bernama Real Madrid.

Sebagai fans Arsenal, saya haturkan respect setinggi mungkin untuk Atalanta. Sebagai fans Arsenal, yang mana klub dari London ini tengah menjadi musuh wasit Inggris, saya bisa merasakan betapa wasit sangat sayang kepada Real Madrid dan terlihat gerah kepada pemain-pemain Atalanta.

Pertama, kartu merah yang diberikan kepada Remo Freuler. Kartu merah ini memang bisa diperdebatkan. Remo jelas melakukan pelanggaran ketika menghentikan penetrasi Ferland Mendy. Namun, situasi tersebut agak sulit dianggap sebagai usaha menghentikan peluang gol karena bola bergerak menjauhi gawang.

Sementara itu, Remo bukan pemain terakhir Atalanta sebelum kiper. Namun, terkadang, begitulah kehidupan. Keadilan tidak hadir untuk mereka yang kecil dan para marginal, kepada mereka yang dianggap tidak layak menikmati gemerlap puncak sebuah kejayaan.

Kedua, Casemiro seharusnya mendapatkan kartu kuning kedua setelah diving di dalam kotak penalti Atalanta. Gelandang Real Madrid itu sudah mendapatkan kartu kuning sebelumnya. Akal sehat manusia pasti tahu kalau diving adalah perbuatan jahat. Casemiro seharusnya menerima ganjaran yang sama seperti yang dirasakan Remo Freuler.

Namun, wasit cuma “ngobrol” setelah Casemiro berbuat jahat. Tidak ada hukuman lebih lanjut. Kontol sekali. Ah, maaf, konyol maksud saya. Malah typo.

Selain tidak hadir untuk mereka kaum kecil, keadilan juga seperti hanya diciptakan untuk mereka “para orang besar”. Enak sekali para raksasa ini. Sudah berbuat jahat, tapi lolos dari hukuman berat. Kayak koruptor di Indonesia. Embat miliaran rupiah, cuma penjara dua tahun. Maling kambing, kena lima tahun. Kontol, eh konyol, maksud saya.

Menderita bersama Atalanta

Pelatih Atalanta, Gianpiero Gasperini, tertangkap kamera sering berteriak “Calma!” Dia meminta anak asuhnya untuk tenang.

Dan yang terjadi adalah sebuah pameran perjuangan dari anak-anak Bergamo. Mereka tidak berhenti berlari sepanjang 70 menit pertandingan meski bermain dengan 10 orang. Ketika mendapat kesempatan menguasai bola, Atalanta mengalirkannya secara anggun. One-touch football membuat mereka begitu berbahaya meski keadilan tak ada untuk mereka.

Saya yakin, jika laga tersebut masih 11 vs 11, Real Madrid bakal pulang ke Spanyol dengan tangis berderai. Menjadi kompak bersama Barcelona dan Atletico Madrid yang menjadi pecundang. Maklum, di 16 besar Liga Champions ini, cuma Madrid, klub dari Spanyol, yang berhasil menang, lewat kasih sayang wasit.

Penderitaan Atalanta adalah penderitaan kita. Terutama di tengah pandemi ketika orang kecil selalu disalahkan. Sementara itu, pemangku jabatan, para orang besar, dan kaum borjuis, bisa menikmati privilege yang tidak mungkin dinikmati kaum papa seperti kita.

Atalanta seperti penjaja angkringan yang dipaksa tutup karena dianggap melanggar PSBB. Sementara itu, influencer, apalagi yang dapat “proyek pariwisata”, bisa piknik dengan tenang. Cuma bermodalkan surat sehat dan mematuhi “protokol kesehatan” yang hampa itu.

Ketika Atalanta, para orang kecil ini naik pitam, aparat diturunkan untuk “memaksa secara halus”. Ketika bergeliat melawan, orang-orang kecil dianggap menjadi penyebab munculnya cluster baru virus corona. Sementara itu, pejabat rapat di tempat mewah, tidak social distancing, dan berfoto tanpa masker, masih tersenyum pula. Konyol, eh kontol, maksud saya.

Aparat di laga Atalanta vs Real Madrid adalah wasit yang tidak waras. Kenapa Casemiro, yang jelas-jelas melanggar aturan, tidak mendapatkan hukuman yang layak? Sudah mirip koruptor, bukan. Senyam-senyum nggak tahu diri ketika pakai rompi oranye dan ditodong puluhan moncong kamera wartawan.

Atalanta sudah melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Mereka memang kalah di laga melawan titan ini. Mereka boleh kalah di lembaran tabloid sepak bola. Namun, Atalata sudah memenangi hati para penikmat sepak bola yang waras.

Masih ada leg kedua babak 16 besar Liga Champions. Mereka akan bertandang ke Spanyol. Ke rumah titan yang dikasihi wasit, di liga milik mereka sendiri. Jika kelak gugur, Atalanta harus tahu bahwa di penjuru dunia, suporter sepak bola mengangkat topi dan mengirimkan respect.

Hidup memang tak selalu adil. Terkadang kita harus dikalahkan meskipun sebetulnya mampu untuk melawan. Tidak mengapa. Ada saatnya untuk menghela napas barang sejenak, merenungi betapa manusia itu bajingan, dan bangkit demi kebahagiaan dirimu sendiri.

BACA JUGA Real Madrid Mulai Berkarat: Ketika 2 Tangan Emas Kehilangan Sentuhannya dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Bruno Fernandes, Juggernaut yang Dibutuhkan Manchester United