MOJOK.COReal Madrid yang mulai karatan seperti menjadi kaca terbaik bagi banyak klub. Bahwa ego dan kesalahan mengambil keputusan adalah ancaman bagi kelestarian masa depan.

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih bekerja untuk sebuah media khusus sepak bola bernama Football Tribe, Real Madrid menjadi semacam mesin perang yang sulit sekali dikalahkan. Mereka tidak bermain dengan indah. Misi mereka sesederhana cara bermainnya, yaitu menang dengan cara paling mudah.

Ketika memenangi tiga gelar Liga Champions secara berturut-turut, tidak ada pujian “sepak bola indah”. Media dan analis sepak bola memandikan Real Madrid dengan pujian “sepak bola efektif, efisien, dan mematikan”. Terdengar kurang mewah untuk klub paling sukses di Eropa. Namun, nyatanya, mereka sangat dominan berkat kesederhanaan itu.

Saya masih ingat, salah satu tulisan saya paling ramai dibaca adalah tulisan yang membedah betapa sederhananya Real Madrid bermain. Ide dasarnya cuma ada dua. Pertama, jika bisa menguasai lapangan tengah, kamu akan menguasai sisi lapangan juga. Kedua, jika bisa menguasai sisi lapangan, kamu akan dominan di tengah.

Trio Casemiro, Toni Kroos, dan Luka Modric adalah trio lini tengah terbaik saat itu. Dominasi mereka membuat dua bek sayap bisa bermain dengan nyaman. Dua bek sayap yang menjadi standar tertinggi itu diisi Marcelo dan Dani Carvajal, sebelum kemunculan Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson milik Liverpool.

Di depan, duet Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema ditopang Isco atau Marco Asensio. Duet Ronaldo dan Benzema, bagi saya adalah duet yang seimbang. Keduanya sama-sama pandai membuka ruang sekaligus menjadi eksekutor di kotak penalti.

Momen dominasi Real Madrid di Eropa juga menjadi titi kala mangsa puncak evolusi Ronaldo dari creative winger menjadi poacher paling mematikan saat itu. Segala jenis umpan silang yang dikirim ke kotak penalti, hampir selalu bisa dimaksimalkan Ronaldo. Kemampuan sprint jarak pendek, keseimbangan tubuh, dan teknik menendang bola menjadi dasarnya.

Saat itu, dominasi Real Madrid menjadi standar. Mereka seperti emas dengan karat dan kualitas tertinggi. Selain banyak pemain yang sedang berada di usia matang, kegemilangan Madrid juga dibidani oleh dua tangan emas; Zinedine Zidane dan Florentino Perez.

Saat itu, Zidane dianggap bukan sosok pelatih dengan ide bermain yang mewah. Dia tidak seperti Pep Guardiola, misalnya, dengan ide bermain yang terlihat njelimet. Legenda Madrid itu bisa “mengontrol” para pemain bintang berkat aura juara yang sudah ditumpuk sejak masih bermain. Siapa yang tak gentar berdiri di depan dia yang sudah memenangi semua piala yang disediakan, baik di level klub maupun negara.

Sementara itu, Florentino Perez, salah satu presiden klub yang ikonik, selalu bisa menyelesaikan pembelian pemain dengan mulus. Bahkan di Spanyol sampai muncul ungkapan berbunyi: Florentino Perez siempre gana. Artinya, ‘Florentino Perez selalu menang’. Pada akhirnya, yang dia sentuh akan menjadi emas dan memberi keuntungan berlipat.

Namun, tidak ada “bulan madu” yang bakal awet. Yang pasti di dunia ini hanya perubahan dan jalannya waktu….

Real Madrid memasuki masa kemunduran, yang bagi saya, terasa sangat gemilang. Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa Madrid bisa menjadi juara musim lalu dengan susah payah. Performa sudah tidak konsisten, baik secara tim maupun individu.

Zidane melewatkan kesempatan untuk meremajakan lini tengahnya. Dia seperti enggan mencopot bintang dari dua jenderal tua, Modric dan Kroos. Saya masih ingat Madrid juga terlibat dalam perebutan tanda tangan Tanguy Ndombele. Jika Perez serius, saat ini Madrid sudah memiliki salah satu gelandang potensial, konsisten, bisa bermain di banyak posisi, alih-laih Tottenham Hotspur.

Sentuhan tangan Zidane dan Perez juga layak diperkarakan ketika melepas Achraf Hakimi ke Inter. Padahal, di dalam skuat, dua bek sayap Real Madrid sudah menua dan kehilangan konsistensinya. Belum lagi jika menengok riwayat cedera dua bek sayap ini.

Tidak berhenti sampai di Hakimi, blunder Madrid berlanjut ke dua nama potensial, yaitu Reguilon dan Brahim Diaz. Pemain-pemain muda yang “dikumpulkan” Perez demi masa depan Madrid malah dipreteli dan dilego ke klub lain. keputusan yang membuat skuat Madrid kehilangan vitalitasnya.

Kemudian, masalah terbesar itu datang. Sejak awal, Zidane bukan pelatih dengan kekayaan strategi yang melimpah. Ketika aura juara itu luntur, beberapa pemain mulai berani “melihat langsung ke arah mata” ketika berbicara.

Efek berantai pun terjadi. Zidane memang punya kesalahan, tetapi pemain tak luput dari dosa. Terutama para jenderal tua yang mulai kehilangan “kewaspadaan” dan determinasi. Oleh sebab itu, kejatuhan Real Madrid musim ini sebetulnya sudah mulai terasa sejak musim lalu. Sayang, gelar juara La Liga seperti mengaburkan karat yang mulai muncul itu.

Emas bisa berkarat? Seharusnya, yang namanya emas tidak bisa mengalami oksidasi. Namun, jangan-jangan, sentuhan dari petinggi itu bukan emas. Tetapi sepuhan semata di atas logam berkualitas rendah tetapi dipoles secara cantik dengan sebatas “nama besar” saja.

Real Madrid yang mulai karatan seperti menjadi kaca terbaik bagi banyak klub. Bahwa ego dan kesalahan mengambil keputusan adalah ancaman bagi kelestarian masa depan. Terima kasih Real Madrid atas contoh yang kamu tunjukkan.

BACA JUGA Real Madrid, Gareth Bale, dan Cara Cantik ‘Mengerjai’ Klub Tak Berdaya Bernama Tottenham Hotspur dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Balikan Sama Mantan Itu Bukan Aib, Kayak Zidane Balikan dengan Real Madrid