MOJOK.COManchester United salip Liverpool, puncaki klasemen Liga Inggris. Ole Gunnar, untuk sementara jadi kepala sekolah bukan guru penjas lagi.

Manchester United mengalahkan Burnley dengan skor tipis, 1-0. Kemenangan yang menjadi lanjutan pameran kesabaran sekaligus peringatan untuk Liverpool. Kini, United menyalip The Reds untuk menduduki puncak klasemen Liga Inggris.

Selepas laga yang cukup ketat itu, Jan Aage Fjortoft, jurnalis ESPN, menyindir orang-orang yang selama ini meledek Ole Gunnar Solskjaer, pelatih Manchester United. Jan bilang kalau selama ini Ole diledek dengan istilah “guru penjas”. Kini, setidaknya sampai big match melawan Liverpool di 17 Januari, Ole adalah seorang “kepala sekolah”.

Sindiran ini begitu menggelitik. Melempar ingatan saya ke satu tahun yang lalu. Tepatnya Januari 2020 ketika kebetulan Manchester United baru saja menghadapi Burnley. Namun, saat itu, United menjadi pihak yang kalah dan resmi tertinggal 27 poin dari Liverpool di puncak klasemen.

Setelah tertinggal 27 poin, Manchester United mengalami ups and down yang membuat mereka menjadi bahan ledekan paling laris di jagat maya. Tentu Ole tak bisa menghindar dari ledekan. Banyak yang meledeknya lebih mirip guru olahraga ketimbang pelatih sebuah klub di mana turbulensi tak kunjung reda setelah Sir Alex Ferguson pensiun.

Saat itu, saya masih ingat, pemecatan sudah di depan mata. Ole dianggap bukan legenda klub yang cocok menghadapi besarnya ekspektasi melatih Manchester United. Namun, berkat “doa para rival”, manajemen United masih mau bersabar. Posisi Ole aman sampai sekarang.

Mungkin, para rival yang berdoa dengan tagar #OleIn itu sekarang menyesal. Setelah bersabar selama satu tahun, genap dari Januari 2020 ke Januari 2021, Manchester United mengalami perubahan drastis. Terutama dari sisi peningkatan performa beberapa pemain.

Satu tahun kemudian, Manchester United memuncaki klasemen sementara Liga Inggris di Januari. Capaian yang boleh dibilang sangat gemilang untuk seorang “guru penjas” mengingat kali terakhir United memuncaki klasemen di Januari terjadi pada 2013 ketika Sir Alex masih melatih.

Konon, kekuatan akan diberikan kepada mereka yang mau bersabar dan berusaha. Petuah kuno itu cocok sekali dialamatkan kepada manajemen Manchester United dan Ole sendiri. Meski masih jauh dari kata sempurna, United sudah menjadi ancaman nyata untuk konsistensi Liverpool.

Setelah mengalahkan Burnley dan memuncaki klasemen, banyak fans Manchester United yang menegaskan bahwa inilah yang dinamakan berkah “untuk yang teraniaya”. Maklum, selama ini, United lebih banyak menjadi bahan meme ketimbang mendapat apresiasi.

Namun, saya cuma ingin mengingatkan, di “liga pandemi” ini, tidak ada yang bisa diprediksi. Kemenangan atas Burnley memang “terlihat meyakinkan”.

Duet Paul Pogba dan Nemanja Matic menjadi duet pivot dengan ball recoveries terbanyak di Liga Inggris untuk sementara. Pogba bikin delapan sementara Matic 12. Rata-rata, di Liga Inggris, pivot sebuah klub membuat sembilan ball recoveries di satu pertandingan.

Di lini belakang, Harry Maguire terlihat kokoh ketika Eric Baily sudah pulih dari cedera dan lebih stabil. Namun, fans Manchester United perlu mencatat dan menggarisbawahi sebuah fakta bahwa mereka menjadi klub dengan jumlah kebobolan terbanyak di antara lima besar Liga Inggris.

Fakta yang sering luput dari pandangan ini justru yang paling mengganggu untuk saya. Salah satu prediksi saya menjadi kenyataan ketika menganalisis laga Roma vs Inter. Masalah Inter cuma satu, yaitu koordinasi bertahan. Ini penting untuk diperbaiki jika ingin mengejar AC Milan. Di ujung laga itu, Inter kebobolan dan harus puas dengan hasil imbang 2-2.

Hasil imbang di “liga pandemi” sangat berbahaya. Memang, imbang tidak berarti kalah, masih dapat satu poin. Namun, coba tengok berapa jumlah hasil imbang Liverpool saat ini. Liverpool mencatatkan enam hasil imbang, terbanyak di antara lima besar Liga Inggris.

Mari kesampingkan faktor cedera Virgil van Dijk. Di atas lapangan, performa lini belakang Liverpool menurun sangat jauh dibanding musim lalu, terutama dua bek sayap mereka. Dua bek sayap The Reds mungkin salah satu terbaik di dunia. Namun, jika abai dengan tugas bertahan, klub yang akan menderita, bukan satu lini saja.

Saya menekankan satu faktor ini karena “liga pandemi”, sepertinya, akan ditentukan sampai paruh akhir. Goal different akan menjadi satu faktor yang menentukan.

Saat ini, performa tandang Manchester United memang sangat baik. Bahkan mereka sering tertinggal lebih dulu ketika tandang untuk kemudian membalikkan keadaan. Sepak bola itu seperti catatan sejarah yang berulang. Akan ada masanya ketika United tertinggal dan kesulitan menemukan solusi menyamakan kedudukan.

Satu bekal untuk menghadapi kemungkinan itu adalah kesabaran. Ketika melawan Burnley, ada satu momen ketika Matic terburu-buru baik mendekati Luke Shaw. Padahal, pertahanan Burnley sudah “tertata” dengan baik. Alhasil, ketika terjadi turnover, United berada dalam bahaya karena Pogba harus mengawasi ruang yang terlalu luas.

Di momen selanjutnya, ketika terjadi situasi yang sama, Matic lebih bisa menahan diri untuk tidak maju. Hasilnya, Manchester United bisa mensirkulasikan bola dengan lebih nyaman. Intinya, United memang selalu agresif ketika mengejar gol. Namun, di satu sisi, unsur kesabaran ini yang justru menjadi senjata berbahaya.

Kesabaran memungkinkan United mendapat beberapa keuntungan. Pertama, tidak mudah kehilangan bola. Kedua, tidak terlalu sering mengalami turnover yang berbahaya. Ketiga, lebih mudah mendapatkan akses ke pertahanan lawan. Keempat, lebih tenang ketika tekanan pertandingan semakin berat.

Saya rasa, satu hal ini penting bagi Manchester United untuk benar-benar “mengejar” Liverpool. Mengejar bukan hanya mendahului soal posisi, tetapi menjadi juara di akhir musim “liga pandemi” yang acap sulit diprediksi ini.

BACA JUGA Memuji Sikap Manajemen MU yang Terus Percaya Ole Gunnar Solskjaer dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Bersama Paul Pogba dan Papua, Tendang Rasisme Jauh-jauh