MOJOK.CODear fans Arsenal, mari nikmati menit-menit indah bersama Martin Odegaard. Bersama keserasiannya ketika bermain bersama Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka.

Ketika hanya bisa bermain imbang dengan Benfica, untuk kali pertama sejak September 2018, Arsenal tidak melakukan perubahan di susunan pemain dari pertandingan sebelumnya. Martin Odegaard, yang diprediksi akan dicadangkan, justru dimainkan sejak awal.

Apakah ini pertanda Mikel Arteta sudah menemukan 11 pemain terbaiknya? Pertanyaan tersebut sebetulnya terlalu absurd. Apalagi jika hanya melihat susunan pemain di lini depan. Saya rasa, 11 pemain terbaik Arsenal baru komplet ketika Kieran Tierney sudah fit dan Hector Bellerin duduk di bangku cadangan.

Mohon maaf sebelumnya. Di mata saya, Bellerin tidak lagi berada dalam level kualitas yang dibutuhkan Arsenal untuk maju berkembang. Dia bukan lagi sosok bek kanan penuh vitalitas seperti ketika usia 19 sampai 21 tahun. Bellerin kehilangan semua kelebihannya.

Badannya terlalu kaku untuk melakukan manuver. Umpan-umpannya tidak lagi prima. Tidak bisa melakukan umpan silang yang proper untuk rekan satu timnya. Celakanya, sense bertahan Bellerin juga tak lagi konsisten. Dia terlalu mudah “dikadalin” lawan yang berlari mengeksploitasi ruang di belakangnya.

Oleh sebab itu, sudah saatnya Arsenal mempertimbangkan dua hal terkait Bellerin. Pertama, ban kapten di lengannya tidak boleh diberikan atas alasan lama pengabdian. Kedua, sudah saatnya mempertimbangkan menjual dan membeli bek kanan baru yang lebih “cocok dengan zaman”.

Yah, itu satu poin terkait Bellerin. Saya di sini sedang tidak ingin bicara panjang lebar soal bek kanan asal Spanyol itu. Saya di sini ingin mengingatkan fans Arsenal untuk jangan jatuh cinta dulu dengan sosok Martin Odegaard.

Memang, saya akui, sangat sulit untuk tidak langsung jatuh cinta kepada Martin Odegaard. Bagaimana tidak apabila pemain berusia 22 tahun itu bisa langsung beradaptasi. Langsung cocok dengan pemain-pemain di lini depan. Langsung bisa menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu pemain terbaik La Liga Spanyol musim lalu.

Celakanya, bagi banyak fans Arsenal, Martin Odegaard seperti reinkarnasi dari Mesut Ozil. Sama-sama berkaki kiri, berposisi gelandang serang, mampu melihat ruang terbaik untuk mengumpan ketimbang rekan-rekannya, dan lebih suka mengumpan ketimbang menembak.

Namun, sekali lagi, saya mengingatkan, jangan jatuh cinta kepada dirinya terlebih dahulu. Jika kamu sudah kadung cinta, sebaiknya ditahan dulu. Jangan diungkapkan. Jangan diekspresikan terlebih dahulu. Jadilah orang yang agak jual mahal.

Saya cuma ingin menjaga hati kalian. Biar nggak retak ketika cinta sudah memanas tetapi keadaan memaksamu bertepuk sebelah tangan. Tidak ada kisah paling memilukan selain kamu cinta dia, tapi dia dicintai orang lain yang punya kekuatan mematikan cintamu.

Melihat potensi Martin Odegaard sejauh ini, akan sangat bodoh jika Real Madrid tidak memulangkannya di musim panas nanti. Menengok performa Madrid sejauh ini, akan sangat ajaib jika Zinedine Zidane tidak mengundurkan diri atau dipecat di akhir musim.

Jika pemecatan itu terjadi, ditambah Isco yang akhirnya dijual, tidak ada pemain lain selain Martin Odegaard yang punya kualitas menjadi penerus. Usianya sudah 22 tahun. Momen menjelang usia emas adalah periode penting dari kemapanan karier pesepak bola.

Jika saya menjadi Florentino Perez, sejak sekarang, Martin Odegaard sudah saya pagari dengan janji-janji manis. Bukankah begitu cara “politikus” memenangi hati rakyat lima tahun sekali? Dengan janji-janji manis yang tidak perlu ditepati ketika terpilih nanti. Pokoknya panen dulu hati rakyat. Urusan tanggung jawab pikir belakangan… sambil duduk manis di dalam sel khusus koruptor.

Nah, sangat masuk akal ketika Real Madrid “memukul balik” Arsenal di musim panas nanti. Di dalam kontrak Martin Odegaard, tidak ada klausul pembelian secara permanen. Oleh sebab itu, Arsenal hanya bisa bertanya dan bernegosiasi, tidak bisa “memaksa” Madrid melepas si pemain, kecuali dengan tawaran duit dengan nominal besar.

Maka dari itu, saya mengingatkan, patah hati itu seperti kamu jatuh ke dalam kekecewaan yang dibuat sendiri. Ketika ekspektasi hati terlalu tinggi, kamu cuma akan menemukan kekecewaan yang membakar seperti api.

Saat ini, mari nikmati menit-menit indah bersama Martin Odegaard. Bersama keserasiannya ketika bermain bersama Emile Smith Rowe dan Bukayo Saka. Atas imajinasi dan kerja kerasnya dengan Dani Ceballos di momen build-up Arsenal.

Terkadang, titik tertinggi mencintai adalah mengagumi tanpa berniat memiliki. Mendoakan kekasih di dalam hati dalam sunyi. Untuk kebahagiaan kekasih yang tak pernah bisa dimiliki. Supaya kehidupannya sejahtera dan penuh kasih lestari.

BACA JUGA Martin Odegaard Menolak Cinta demi Petualangan yang Menantang Bersama Arsenal? dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Anthony Martial Membantu Manchester United Mengukur Gawang