MOJOK.COPada titik tertentu, ada rasa bangga melihat Bukayo Saka menjadi pemain andalan Arsenal dan timnas Inggris sebelum usia 20. Namun, di sisi lain, sungguh menakutkan melihat pemain muda memikul beban terlalu berat.

Ketika usianya menginjak 17, semua fans Menyambut kedatangan Bukayo Saka di tim utama Arsenal dengan ekspektasi rendah. Menyentuh usia 18 tahun, Saka tampil lebih baik ketimbang beberapa pemain senior. Saat ini, di usia 19 tahun, dia menjadi tumpuan dan “dipaksa” menanggung beban terlalu berat.

Sejauh ini, saya hanya bisa mengingat dua pemain muda Inggris dengan lesatan karier secepat Saka. Mereka adalah Jack Wilshere dan Wayne Rooney. Dua pemain ini, di usia 16 tahun, sudah menyandang status generational talent. Artinya, Wilshere dan Rooney adalah pemain muda terbaik di satu angkatan usia mereka.

Wilshere menjadi bagian penting dari skuat Arsenal ketika masih dilatih Arsene Wenger. Sementara itu, Rooney menjadi pencetak gol terbanyak untuk timnas Inggris dengan 53 gol. Bersama Manchester United, dia memenangi semua piala yang tersedia. Arah karier kedua pemain ini menjadi berbeda karena satu hal: cedera.

Satu hal itu, cedera, yang kini menjadi salah satu ketakutan saya ketika melihat Bukayo Saka. Saat ini, situasi yang saya rasakan sama persis ketika melihat Wenger memainkan Wilshere terlalu sering. Apalagi, saat itu, Wenger masih menggunakan metode latihan yang “sudah usang”, salah satunya adalah double training session yang sudah ditinggalkan banyak pelatih modern karena terlalu membebani pemain.

Samar-samar saya masih ingat, saat itu tahun 2013, Wenger terpaksa mengistirahatkan Wilshere karena menderita cedera tumit. Spesialis klub “sedikit memaksa” pelatih legendaris Arsenal itu untuk tidak menggunakan Wilshere. Wenger mengungkapkan bahwa Wilshere adalah seorang pemenang dan selalu bilang “baik-baik saja” ketika tes kebugaran.

Pada titik ini, sebuah kesalahan terjadi. Saya rasa, di dalam hatinya, Wenger menyesal karena tidak secara tegas memberi Wilshere jeda. Setelah terlalu banyak bermain di usia yang terlalu muda, Wilshere menderita banyak cedera. Beban yang ditanggung otot itu tidak pernah benar-benar pulih. Kariernya lebih banyak dihabiskan untuk mengunjungi ruang perawatan ketimbang di atas lapangan hijau.

Lesatan karier Bukayo Saka

Fans Arsenal harus berterima kasih kepada Unai Emery. Emery yang sulit dipahami itu adalah pelatih yang memberi kesempatan untuk Bukayo Saka. Emery juga yang memberi Joe Willock banyak menit bermain.

Salah satu daya tarik dari seorang pemain di mata pelatih adalah kesadaran akan tanggung jawab. Menit bermain di sepak bola itu bobotnya seperti murninya kepercayaan yang dipasrahkan dari satu manusia ke manusia lainnya. Kepercayaan itu sangat mudah retak. Setelah “terluka”, kepercayaan tidak mungkin bisa diperbaiki. Luka yang tergores tidak akan hilang.

Bukayo Saka, di usia sangat muda, sudah menunjukkan kesadaran akan kepercayaan. Dia tidak banyak mengeluh, salah satunya ketika banyak dimainkan di posisi tidak ideal oleh Mikel Arteta. Sesekali dia menegaskan bahwa peran idealnya adalah winger, bukan bek sayap atau gelandang sentral. Namun, sikap ini masih wajar karena Saka tetap bermain baik di posisi dan peran yang tidak ideal.

Bahkan dia bermain lebih bagus dan stabil ketimbang beberapa pemain senior. Saya pernah menulis di Mojok bahwa konsisten Saka adalah tamparan untuk pemain senior. Dia, yang jauh lebih muda, malah lebih sadar akan pentingnya menjaga kepercayaan.

Oleh sebab itu, Bukayo Saka diganjar menit bermain yang melimpah oleh Mikel Arteta di Arsenal dan Gareth Southgate bersama timnas Inggris. Di Arsenal, dia menjadi bagian yang tidak tergantikan. Mengingat satu-satunya pemain Arsenal yang bisa bermain sebagai penyerang sayap sebelah kiri belum pulih dari cedera.

Sementara itu, bersama timnas Inggris, Bukayo Saka bermain baik ketika dicoba di dua posisi dan peran, yaitu bek kiri dan bek sayap kiri. Aspek offensive yang ditawarkan Saka menjadi bagian favorit Southgate. Alhasil, di tiga laga terakhir timnas Inggris, Saka selalu bermain.

Lesatan karier ini, sekali lagi, sukses membuat saya ngeri. James Benge, seorang jurnalis menegaskan kalau Bukayo Saka terlalu banyak bermain setelah Project Restart berjalan.

Selama 151 hari setelah Project Restart, Bukayo Saka sudah bermain selama 1.763 menit. Ini jumlah menit yang terlalu tinggi untuk pemain muda. Namun, memang, angka ini masih di bawah beban yang ditanggung Wilshere dahulu. Pada musim 2010/2011, Wilshere bermain 20 persen lebih banyak ketimbang Saka saat ini. Gila!

Ancaman dan pemakluman

Bermain terlalu banyak dalam waktu yang singkat pasti menaikkan ambang toleransi cedera pemain. Kalau kamu bermain Football Manager, ketika pemain sudah memberi indikasi “jaded and needed a little rest”, tidak ada yang bisa dilakukan selain memberi istirahat. Kalau terus dimainkan, ambang toleransi cedera akan meningkat.

Untuk pemain seperti Bukayo Saka yang punya akselerasi tinggi, cedera otot adalah petaka yang lumrah terjadi. Cedera lain yang membayangi, bisa jadi, cedera engkel sampai cedera lutut. Saya sendiri yakin Mikel Arteta memahami ancaman ini. Namun, pada sisi lain, dia tidak bisa tidak menggunakan Saka ketika ada kesempatan.

Seperti yang saya tulis di atas, satu-satunya pemain Arsenal yang ideal bermain sebagai penyerang sayap sebelah kiri masih cedera. Gabriel Martinelli baru akan pulih di Januari 2021. Jadi, selama periode padat di Desember 2020, Bukayo Saka masih akan dimainkan sesering mungkin.

Pemakluman ini bisa berbahaya, tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan Arsenal. Mengingat beberapa pemain senior tidak sadar dengan tanggung jawab yang mereka pikul.

Pada titik tertentu, ada rasa bahagia dan bangga melihat Bukayo Saka berkembang pesat. Dia menjadi pemain andalan Arsenal dan timnas Inggris sebelum usia 20. Namun, di sisi lain, sungguh menakutkan melihat pemain muda memikul beban terlalu berat. Meskipun fans bisa melihat Saka sendiri menikmatinya.

BACA JUGA Bukayo Saka, Little Chilli, dan Pemain Senior Arsenal yang Dipermalukan dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Arsenal dan Freddie Ljungberg: Menyambut Kebijakan “Klub Miskin”