MOJOK.COSaling memberi dan saling menerima antara pemain Manchester United dan Ole Gunnar Solskjaer. Kebahagiaan pemain sudah seperti setengah langkah menuju kemenangan.

Kalau membicarakan paruh pertama Liga Inggris musim 2019/2020 dan Manchester United, satu kata yang akan muncul adalah inkonsisten. Manchester Merah ini bisa bermain sangat rapi, sangat terorganisir ketika melawan tim-tim enam besar Liga Inggris. Namun, skuat asuhan Ole Gunnar Solskjaer bisa bermain sangat buruk ketika menghadapi mereka yang seharusnya bisa dikalahkan dengan mudah.

Mundur satu musim ke belakang, istilah “inkonsistensi” itu terasa sepanjang musim. Tidak konsisten membuat MU gampang kalah. Padahal, di laga tersebut, Manchester United punya segala hak untuk membawa pulang kemenangan. Apa, sih, akibat lanjutan dari penyakit inkonsistensi yang diderita sebuah klub seperti MU?

Jawaban paling jelas adalah Manchester United menjadi mudah kalah. Mengapa? Karena beberapa pemain tidak tampil profesional. Aura tim yang buruk dan kesulitan meraih kemenangan akan membuat pemain kehilangan kepercayaan, baik terhadap dirinya maupun kepada pelatih atau rekan satu tim.

Pemain menjadi tidak bahagia bermain untuk, misalnya Manchester United. Sejak musim lalu, kita tahu kalau Paul Pogba sudah tidak jenak mengenakan seragam merah MU. Perasaan itu terbawa hingga musim ini. Ketika dikabarkan cedera, Pogba malah bepergian untuk mengahadiri sebuah acara di mana dirinya menjadi brand ambassador. Gimana Ole Gunnar Solskjaer nggak pusing ketika menghadapi pemain yang enggan bermain lagi….

Saya tahu, seorang pesepak bola profesional dengan gaji tinggi seharusnya bertindak selayaknya “pesepak bola profesional”. Namun, dalam kondisi seperti ini, sisi menusia mereka yang biasanya mendominiasi. Rasa jengah, bosan, marah menjadi satu. Biasanya, perasaan ini akan ditumpahkan kepada agen masing-masing. kalau sudah begitu, lahir gosip-gosip transfer.

Selain menyusun taktik dan merancang latihan, kerja paling sulit bagi pelatih kepala seperti Ole Gunnar Solskjaer adalah menghadapi sifat pemain. Terutama menghadapi mereka yang sudah enggan bermain untuk Manchester United. Nama besar, kharisma, dan ketegasan seharusnya menjadi pilihan bagi pelatih. Namun, semuanya tidak sesederhana itu.

Baca juga:  Manchester United dan Ole Gunnar Solskjaer Bermain di Masa Depan

Mungkin, Ole Gunnar Solskjaer akan dihadapkan kepada situasi di mana pemain yang lagi “ngambek” itu harus dimainkan. Misalnya karena beberapa pemain lainnya cedera. Mau tidak mau, Ole Gunnar Solskjaer harus bisa memacu semangat pemain itu. Ole bukan pelatih baru, tetapi perlu diakui kharismanya belum sebesar Jurgen Klopp.

Rasa tidak bahagia pemain itu akan menular ke performa di atas lapangan. Mereka tidak mau berlari lebih jauh atau bergerak lebih cepat untuk Manchester United. Berbagai campuran perasaan itu membuat pemain semakin tidak betah. Sifat seperti itu pasti berpengaruh di seisi ruang ganti. Gloomy, mungkin istilah yang pas untuk menggambarkan situasi tersebut.

Manchester United sayang Ole Gunnar Solskjaer

Satu hal yang pasti, manajemen MU masih sayang Ole Gunnar Solskjaer. Terlihat dari kepercayaan yang masih diperlihatkan manajemen ketika Manchester United sedang kalahan. Kepercayaan itu juga terlihat dari sikap manajemen yang mau mengabulkan ide Ole untuk melepas Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez untuk kemudian membeli Bruno Fernandes.

Pembelian Bruno Fernandes di Januari 2020 seperti menjadi penanda. Sebuah titik di mana Ole Gunnar Solskjaer akan menemukan kembali kebahagiaan dari para pemainnya. Bruno Fernandes tidak hanya sumur kreativitas Manchester United. Pemain asal Portugal itu memberi contoh cara mencintai sebuah klub yang sudah memberinya kepercayaan.

Bruno Fernandes seperti bermain dengan semua napas yang dia punya. Fred, yang lebih banyak menjadi rekan Bruno di lapangan tengah menemukan pasangan yang bisa melengkapi dirinya. Kamu bisa menemukan buktinya di beberapa pertandingan MU melawan Manchester City dalam dua bulan terakhir.

Baca juga:  Chelsea vs Liverpool: Filosofi Tanpa Filosofi Lampard Adalah Filosofi Berbahaya

Fred yang ceroboh sudah tidak terlihat lagi. Pemain asal Brasil itu lebih “bisa dipercaya” di lapangan tengah. Dia tidak sembunyi dari duel-duel fisik, umpan-umpannya lebih akurat, determinasinya lebih terasa.

Ole Gunnar Solskjaer juga menemukan kebahagiaan dari bergabungnya Odion Ighalo. Pemain pinjaman yang sempat menjadi bahan ledekan karena datang dari Liga China itu langsung bisa bermain stabil. Dia sudah membuat tiga gol dan bermain sangat rapi di ujung babak kedua ketika MU mengalahkan City dengan skor 2-0. Ighalo punya peran penting di gol kedua MU.

Manchester United dengan pemain yang lebih bahagia dan punya pikiran positif memudahkan kerja Ole. Dari 10 laga terakhir, MU belum pernah kalah. Posisi lima masih bisa dipertahankan dan jarak dengan Chelsea di peringkat empat bisa dijaga dengan baik. Peluang lolos ke Liga Champions masih terbuka lebar, bahkan ketika memasukkan kasus FFP City ke dalam hitung-hitungan.

Manajemen sayang Ole dan Ole sayang kepada semua pemainnya. Saat ini, Ole masuk ke dalam “daftar khusus” pelatih yang bisa dua kali mengalahkan Pep Guardiola dalam satu musim. Sebelumnya, hanya dua pelatih yang bisa, yaitu Nuno Espirito Santo dan Antonio Conte. Kamu tahu apa yang Ole katakan kepada media?

“Bukan saya yang tiga kali mengalahkan Pep Guardiola musim ini, tetapi para pemain.” Sebuah kalimat yang pasti membuat para pemain Manchester United tersenyum bahagia. Artinya, kerja keras mereka diakui. Saling memberi dan saling menerima. Kebahagiaan pemain sudah seperti setengah langkah menuju kemenangan.

BACA JUGA Sosok Ole Gunnar Solskjaer dengan Siluet Sir Alex Ferguson di Belakangnya atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.