MOJOK.CO Menggantungkan semua hal kepada keberuntungan adalah langkah yang kurang bijak. Manchester United dan Ole seakan menggantungkan semua kepada keberuntungan hingga detik ini, dan belum ada tanda mereka akan sadar.

Odion Ighalo berpeluang dimasukkan dalam skuat Manchester United ketika bersua Chelsea. Setelah melewati masa karantina selama 14 hari, Ighalo diperkirakan akan menjadi pelapis di laga tersebut. Semua mata akan mengarah ke Ighalo, meski dia bukan pemain besar. Orang akan bertanya-tanya seperti apa kualitas Ighalo, transfer panik Manchester United.

Semua pemain yang dibidik MU gagal mendarat di Old Trafford di transfer musim dingin yang sudah berakhir. Erling Haaland, Cavani, menolak Manchester United. Belum kering air mata penolakan, Haaland meneteskan air jeruk di luka MU dengan mencetak banyak gol. Tapi tentu saja kita tahu bahwa jika Haaland mendarat di Old Trafford, bukan gol yang dia dapat namun jepretan kamera yang menyilaukan.

Tidak ada yang tahu apa yang ada di benak Ole, para scout, dan Woodward soal alasan kenapa Ighalo menjadi bidikan mereka. Siapa pun setuju kualitas Bruno Fernandes, tapi Ighalo? Dari membidik striker top Eropa, ujungnya mereka mendaratkan pemain dari Shanghai Shenhua, tentu ada yang salah di sini.

Apakah Manchester United sial? Jelas. Apakah mereka kurang beruntung? Tidak juga. Bentar, kenapa ada kata sial dan beruntung?

Begini, Ighalo adalah tanda kesialan Manchester United. Nasib mereka begitu jelek hingga tak ada nama besar yang mau bermain untuk mereka. Ambil contoh Haaland. Haaland mungkin memilih tim yang tidak punya sejarah sebesar MU dan juga kekuatan finansial yang sama, namun pilihan Haaland tepat. Dia bermain dengan pemain yang tahu sistem dan terkenal akan permainan mereka. Setidaknya, dibandingkan Wan Bissaka, Achraf Hakimi jauh lebih reliable.

Tapi bukan berarti karena nasib MU yang sial maka MU kurang beruntung, kita tidak bisa menerapkan logika seperti itu kepada MU. Kau pantas bernasib baik kalau memang kau berjuang untuk menjadi lebih baik. Kalau melihat sesumbar Woodward, kita akan berpikir bahwa Manchester United benar-benar berjuang untuk menjadi lebih baik, tapi apakah benar begitu?

Baca juga:  Anthony Martial Membantu Manchester United Mengukur Gawang

Ada kabar di mana MU memantau 15 ribu pemain dan dari 15 ribu pemain itu nama Daniel James, Harry Maguire, dan Aaron Wan Bissaka lah yang akhirnya mereka beli, tapi nama Maguire mengganggu pikiran saya.

Katakanlah Maguire adalah pilihan utama Ole. Maguire adalah bek yang sudah dicari Ole sesuai apa yang dia dan tim butuhkan. Dengan logika seperti ini, maka harusnya performa Maguire terjaga. Alih-alih memberi rasa aman, Maguire justru bermain macam pemain tarkam. Dari tembok Inggris yang membawa negaranya ke semifinal Piala Dunia menjadi pemain yang bertingkah ajaib di lapangan.

Jelas bahwa sebenarnya usaha MU untuk berubah lebih baik hanyalah mencoba menggoda pemain dengan uang yang amat besar. Dibanding Liverpool, metode MU terlihat amat cupu. MU jelas tidak belajar sama sekali dari pengalaman proyek Los Galacticos Real Madrid yang tidak berhasil. Kalau pun proyek Galacticos dianggap berhasil, itu hanya jilid 2 dan mereka butuh waktu lama untuk mampu mendominasi Eropa.

Menggelontor uang dengan jumlah besar memang diperlukan untuk membangun skuat yang hebat. Tapi bukan berarti membeli pemain dengan harga mahal berarti skuat akan menjadi bagus. Lihat bagaimana Barcelona menggelontorkan uang 300 juta euro lebih untuk 3 pemain, yaitu Coutinho, Griezmann, dan Dembele. Di antara ketiga pemain itu, hanya Griezmann yang bisa dibilang lumayan. Itu untuk sekelas Barcelona yang punya pemain dengan kualitas yang rata, lha MU?

Baca juga:  Bersama Paul Pogba dan Papua, Tendang Rasisme Jauh-jauh

Manchester United seperti tidak punya pikiran apa pun ketika mau membeli pemain dan juga dalam permainan. Mereka seakan mengambil semua pemain yang ada dan memainkannya berharap bahwa mereka akan membawa hasil. Mereka mengincar Maddison, Grealish, Sancho, dan Messi tanpa tahu sebenarnya mereka mau apa dari pemain tersebut.

Saya berani bilang seperti itu karena Ighalo adalah contoh bahwa Manchester United tidak tahu apa yang mereka butuhkan. Semua orang optimis kalau Ighalo akan mencetak gol, tapi itu adalah hal yang mereka juga bilang saat Lukaku, Sanchez, dan Di Maria mendarat ke MU. Bagaimana bisa sebuah tim berkata bahwa mereka berusaha lebih baik tanpa tahu langkah apa yang sebenarnya mereka sedang lakukan?

Keberuntungan itu dilatih dan diraih, bukan diberikan. Gol kemenangan di menit akhir tidak datang dari keberuntungan, tapi datang dari determinasi pemain dan taktik yang sudah dilatih ribuan kali. Nasib sial datang jika kau berusaha, tapi kalau kau tidak berusaha, lalu yang kau maksud kesialan itu apa?

BACA JUGA Inter Milan vs AC Milan, Yang Nyata dan Yang Abstrak dan tulisan menarik lainnya dari Rizky Prasetya.