• 104
    Shares

MOJOK.CO – Sebetulnya, Manchester United sudah menemukan penerus Sir Alex Ferguson. Namanya adalah Ole Gunnar Solskjaer. Pelatih bermental juara.

Selain keunggulan teknik, faktor apa yang bikin sebuah klub bisa mendominasi liga? Jawaannya bisa kamu temukan di Liga Inggris periode pertengahan 2000 ketika Manchester United sulit sekali diutundukkan para rival. Sir Alex Ferguson menanamkan dua hal penting bagi armada Setan Merah: mental juara dan determinasi tinggi.

Banyak yang mengakui bahwa United di rezim Sir Alex Ferguson bukan sebuah tim dengan corak permainan indah. Persetan dengan permainan indah, yang diincar United di setiap laga cuma satu, yaitu kemenangan. Dan terkadang, lewat berbagai cara, Setan Merah mengejar kemenangan yang sifatnya tunggal di sepak bola.

Manchester United banyak dibenci banyak orang karena dominasi itu. Memang, ketika kamu berada di level tertinggi, sulit dikalahkan dalam waktu lama, bakal melahirkan banyak haters. Tapi memang begitulah tim dengan mental juara. Saya, seorang fans Arsenal, untuk satu hal ini, mengakuinya secara terbuka.

Rivalitas antara Sir Alex Ferguson dengan Arsene Wenger menyadarkan saya satu hal. Untuk meraih kemenangan, permainan indah saja jelas tidak cukup. Syaratnya sangat mudah, yaitu tidak kalah di semua pertandingan. Dari yang awalnya ikut membenci, setelah bertahun-tahun rivalitas itu terjaga, berubah menjadi rasa respect yang cukup aneh memang.

Nah, selepas Sir Alex Ferguson pensiun, United kehilangan dua hal yang sudah mendarah daging, mental juara dan determinasi, situasi berubah. Yah, kalian sudah paham lah bagaimana proses “mediokerisasi” Manchester United. Dari penantang juara, menjadi klub papan tengah yang bakal merayakan posisi enam dengan gegap gempita.

Baca juga:  Rengekan Jose Mourinho dan Aroma Kutukan Tahun Ketiga

Mental juara berubah menjadi mental kalahan. United, yang kental dengan nuansa menyerang, diubah secara paripurna menjadi sebuah tim yang takut kebobolan. Padahal, dahulu, United tidak akan berhenti berlari, menyerang lawan untuk mengejar atau menambah gol. Legenda squeaky bum time melekat setelah anak asuh Fergie bisa membalikkan keadaan di detik-detik akhir pertandingan.

Setelah zaman kegelapan itu, setelah identitas medioker melekat kuat, perubahan terjadi. Setelah Ole Gunnar Solskjaer ditunjuk menjadi pelatih menggantikan juru parkir, United berubah wajah.

Setelah Ole Gunnar Solskjaer ditunjuk sebagai pelatih, Manchester United sudah delapan kali tidak kalah. Hebatnya, mereka mencatatkan delapan kali kemenangan beruntun. Memang, kemenangan sebanyak ini bukan hal baru di sepak bola. Namun, perubahan dari klub medioker menjadi menangan itu bukan proses singkat yang mudah.

Ole Gunnar Solskjaer tidak banyak melakukan perubahan. Para pemain yang lega setelah Mourinho minggat, tidak membutuhkan banyak treatment untuk kembali bangkit. Ole Gunnar Solskjaer tinggal mengingatkan kembali bahwa mental juara adalah modal dasar mengenakan seragam kebesaran Manchester United.

Ole Gunnar Solskjaer adalah salah satu bagian dari skuat Sir Alex Ferguson yang mencatatkan sejarah. Apalagi, Ole adalah pemain yang berkontribusi secara langsung di sebuah laga final Liga Champions yang melegenda.

Mental juara yang ditunjukkan Ole Gunnar Solskjaer berbanding terbalik dengan mental medioker Mauricio Pochettino, pelatih Tottenham Hotspur. Di sebuah wawancara dengan media setelah kegagalan Spurs di Piala FA, Pochettino mengeluarkan pernyataan yang bikin fans tim-tim besar mengernyitkan dahi.

Jadi, Pochettino bilang bahwa mengejar gelar juara hanya akan melahirkan ego. Pernyataan pelatih yang belum pernah juara memang begini. Beliau tidak tahu rasanya menjadi juara sehingga tidak bisa membayangkan hal-hal positif yang akan terbangun ketika sebuah tim menjadi juara. Kok ya masih ada yang menjadi fans tim medioker macam begini.

Baca juga:  Tekel: Chelsea vs Manchester United Itu Disebut Big Match Karena Ada Manchester United-nya

Coba kita bandingkan dengan pernyataan Ole Gunnar Solskjaer ketika ditanya peluang Manchester United masuk ke posisi empat besar. Pelatih asal Norwegia tersebut menegaskan bahwa posisi empat besar tidak cukup bagus bagi United. Target tim besar seperti United, atau tim mana saja yang merasa mampu, setiap tahun tentu saja menjadi juara.

“Posisi empat bukan target. Kami adalah Manchester United jadi target kami adalah selalu menjadi juara,” tegas Ole Gunnar Solskjaer seperti dikutip oleh Guardian.

“Kami masih punya Liga Champions dan Piala FA. Kami tidak akan pernah mengatakan bahwa posisi empat sudah cukup. Kami harus selalu punya pola pikir bahwa kami bisa memenangi sesuatu tahun ini,” tambahnya.

Sudah jelas bukan, siapa yang punya aura Sir Alex Ferguson. Pochettino dijagokan menjadi pelatih United musim depan. Namun, seharusnya, United sudah paham siapa yang punya mental juara, siapa yang punya mental pecundang.

Permainan indah dan atraktif Spurs, bukan apa-apa di depan mesin besar bernama United. Lha wong sama Arsenal saja mereka menjadi pecundang, kok mau menantang sebuah tim yang punya pelatih dengan mental juara.

Nampaknya, United sudah menemukan sosok yang tepat untuk menjadi penyambut tongkat estafet yang sebenarnya dari Sir Alex Ferguson. Namanya adalah Ole Gunnar Solskjaer.

  • 104
    Shares


Loading...



No more articles