MOJOK.COBruno Fernandes akan menambah kreativitas di lapangan tengah, gol, serta asis untuk Manchester United. Namun, dia juga perlu didukung sebuah sistem yang ideal.

Jumat (17/1), Sporting CP akan menghadapi Benfica. Salah satu laga penting di Liga Portugal. Sebuah laga yang membuat usaha Manchester United untuk mendatangkan Bruno Fernandes sedikit tertunda. Lagi.

Lagi, karena Manchester United sudah melakukan pendekatan sejak dua musim ke belakang. Musim panas yang lalu, Bruno Fernandes memang menjadi rebutan antara Manchester United dan Tottenham Hotspur. Masing-masing klub sudah siap dengan uang tunai 70 juta euro. Namun, hingga jendela transfer ditutup, transfer tidak pernah terwujud.

Bruno Fernandes justru memperpanjang kontrak bersama Sporting CP. Untung saja, di Januari 2020 ini, nilai pasar pemain asal Portugal itu tidak akan naik terlalu tinggi. Mempertimbangkan sisi kebutuhan Manchester United akan gelandang kreatif, Sporting CP bisa menaikkan harga sang pemain hingga 80 juta euro. Masih terjangkau oleh Setan Merah tentunya.

Manchester United tidak akan berpikir dua kali jika kesempatan itu akhirnya terbuka. Mereka memang membutuhkan suntikan kreativitas di lini tengah. Namun, perlu diingat, membeli karena butuh dan memaksimalkan Bruno Fernandes ketika sudah resmi adalah dua pekerjaan yang sangat berbeda.

Selama ini, banyak analis hanya fokus ke kemampuan Bruno Fernandes. Mereka juga lebih fokus menganalisis kemungkinan posisi si pemain bersama Manchester United. Entah sebagai #8 dalam skema 4-3-3 atau #10 di skema 4-4-2.

Perlu diingat, sepak bola adalah tentang momen. Kemampuan satu pemain akan terlihat ketika dia didukung sistem. Dengan bahasa yang sederhana, Bruno Fernandes butuh rekan yang bisa memahami caranya bermain. Manchester United butuh menbangun lingkungan yang mendukung.

Kenapa begitu? Karena orang terlalu mudah terlena oleh angka-angka statistik. Sebagai perbandingan, kita baca akurasi umpan Bruno Fernandes dan Jesse Lingard, wonderkid sak lawase milik Manchester United.

Baca juga:  MU Adalah Orang Jahat yang Jadi Baik karena Layak Disakiti

Menurut catatan Wyscout, Bruno Fernandes membuat rata-rata umpan sebesar 50,54 per laga dengan akurasi 76,7 persen. Sementara itu, Lingard, yang mendapatkan menit bermain lebih sedikit membuat 38,4 umpan per laga. Akurasi Lingard mencapai 87,7 persen. Apakah Lingard lebih baik? Ha jelas tidak.

Jumlah dan akurasi umpan tidak menggambarkan kualitas sebuah umpan. Apakah umpan itu dikirim ke belakang atau ke samping? Atau, berupa umpan vertikal yang berbuah peluang? Bobot umpan itu yang perlu dihitung.

Bruno Fernandes punya mata yang jeli untuk melihat pergerakan kawannya. Dia juga pandai membuat ruang supaya umpan bisa lebih enak untuk dikirim. Kuncinya ada di “pergerakan kawan”. Kalau tidak ada sasaran umpan di depan, Bruno Fernandes hanya akan menjadi Lingard versi kedua saja.

Teori itu bisa kita baca lewat angka statistik umpan vertikal. Masih merujuk Wyscout, dari 50,54 rata-rata umpan, Bruno Fernandes melakukan 16,49 umpan vertikal. Sementara itu, Lingard hanya melakukan 8,47 percobaan dari 38,4 umpan per laga.

Sporting CP mengubah skema menjadi 4-2-3-1 dari 4-3-3 dan menggeser posisi Bruno Fernandes ke pos #10 atau di belakang striker. Dia menjadi titik progresi tim. umpan-umpan berbahaya di sepertiga akhir banyak berasal dari kaki Bruno. Oleh sebab itu, inilah asal catatan statistik 16,49 umpan vertikal. Dengan kata lain, ada pemain yang membuat pergerakan dan bisa menerima umpan.

Seiring catatan umpan vertikal, beriringan catatan umpan yang masuk ke kotak penalti dan diterima kawan. Saya rasa, bagian ini yang paling dibutuhkan Manchester United.

Baca juga:  AC Milan, Franco Baresi, Paolo Maldini, dan Agama Sepak Bola yang Dilungsurkan

Rata-rata, Bruno Fernandes melakukan 5 umpan vertikal masuk kotak penalti dan akurat diterima kawan. Rata-rata kesuksesan umpan ini mencapai 49,5 persen. Daniel James, pemain muda Manchester United yang mendekati rata-rata itu. James membuat 3,21 percobaan dengan rata-rata sukses sebesar 41,8 persen. Angka itu terlihat dekat, tetapi nilainya jauh berbeda.

Musim ini, Bruno Fernandes sudah membuat 10 asis dari 25 pertandingan yang sudah ia lakoni. James sudah membuat 6 asis. Kembali, rata-rata Bruno lebih tinggi, yaitu 0,92 per laga berbanding 0,39 milik James.

Kesimpulan awal yang bisa kita ambil adalah: Bruno memang lebih kreatif ketimbang gelandang-gelandang Manchester United lainnya. Asal, dia disokong oleh sistem yang membuat hampir semua umpan menjadi tidak sia-sia. Ada pemain yang berlari di belakang garis pertahanan lawan, lari diagonal menarik bek lawan, dan lain sebagainya.

Bruno Fernandes akan menambah sisi kreativitas di skuat Manchester United. Dia lebih efektif dengan seleksi umpannya. Dia juga lebih tajam ketika mengeksekusi bola dari luar kotak penalti. Gol dan asis, dua hal penting yang dibutuhkan Manchester United dan semua tim.

Bruno Fernandes akan menjadi ancaman untuk semua tim. Umpan yang akurat dan kemampuan sepakan jarak jauh di atas rata-rata. Bruno seperti Juggernaut yang punya kemampuan menabrak semua halangan lawan. Jenis pemain dengan status “pembeda” di dadanya.

Dan saya, nggak bosan untuk mengingatkan, kemampuan individu baru akan “bernilai” ketika dia didukung sistem. Mau Lionel Messi yang bisa mengubah jalannya laga pun, tetap bergantung kepada, misalya, decoy run dan late run pemain Barcelona lainya. Sebuah fakta yang perlu dipikirkan Manchester United.

BACA JUGA Anthony Martial Membantu Manchester United Mengukur Gawang atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.