MOJOK.COManchester United berubah menjadi anak baik. Mereka gemar bersedekah poin kepada fakir poin. Sementara itu, stadion Tottenham Hotspur tetap bau jamban.

Tahun 2015 yang lalu, Google Maps sempat dikerjai orang. Jika membuka halaman Google Maps lalu mengetik kata kunci “the shithole”, kamu akan menemukan White Hart Lane sebagai tujuan. White Hart Lane adalah kandang Tottenham Hotspur. Sebuah klub kasta ketiga di London, di bawah Crystal Palace dan West Ham United.

Tottenham Hotspur mungkin sadar kalau mereka memang medioker sejati. Sadar diri kalau mereka memang “shithole” di Inggris. Kesadaran itu mereka tuangkan ke dalam desain stadion baru. Stadion yang diberi nama Tottenham Hotspur Stadium itu punya atap yang terinspirasi dari tutup toilet duduk. Jadi, jika dilihat dari atas, stadion mereka seperti jamban raksasa.

Dan begitulah mereka, sebuah klub yang “penuh kotoran”. Di dalam “jamban raksasa” itu, Antonio Rudiger menjadi korban rasisme fans Tottenham Hotspur setelah hampir menjadi korban tendangan berbahaya Son Heung-Min.

Beda Tottenham Hotspur, beda Manchester United. Keduanya sama-sama konsisten untuk tidak konsisten. Namun, kini, kok kayaknya Manchester United berubah menjadi sebuah klub yang lebih “anak baik”. Meskipun perlu diakui, sikap mereka yang berubah menjadi anak baik ini nggak cocok sama sekali dengan lambang setan megang garpu dan kapal hampir tenggelam di atasnya.

Manchester United konsisten untuk selalu kalah ketika melawan tim papan tengah ke bawah. Manchester United pernah mengalahkan Manchester City dan Tottenham Hotspur dalam rentang satu minggi saja. Namun, mereka bisa begitu mudah tumbang justru ketika melawan tim medioker. Ini klub maunya apa?

Atas “kebaikan” ini, Manchester United mendapat julukan sebagai Robin Hood. Mereka mengambil poin dari yang kaya, lalu memberikannya kepada para miskin. Terakhir, mereka memberikan sedekah kepada Watford, juru kunci Liga Inggris dan baru satu kali menang dalam 17 laga. Di laga ke-18, menjamu Manchester United, Watford menang dengan skor 2-0.

Kebaikan hati Manchester United adalah sebuah inspirasi. Dan, dua pemain mereka yang paling menginspirasi adalah David De Gea dan Jesse Lingard.

Baca juga:  Saka dan Ansu Fati: Menjadi Garam dan Terang Dunia Arsenal dan Barcelona

De Gea sudah bukan kiper terbaik Liga Inggris lagi. Performanya menurun sangat jauh dibadingkan dua musim ke belakang. Mungkin, performanya jeblok setelah mesin fax menggagalkan kepindahannya ke Real Madrid. De Gea sadar kalau Manchester United bukan klub yang bisa memberikan masa depan.

Jesse Lingard bagaimana? Sama seperti Theo Walcott, sampai pensiun nanti, Jesse Lingard akan selalu dikenang sebagai wonderkid sepanjang masa. Sampai saat ini, Lingard sudah satu tahun belum mencetak gol di Liga Inggris. Bukan karena nggak niat, tapi cuma nggak mampu saja. Plus Lingard sadar kalau menjadi pemain Manchester United harus bisa mengilhami jiwa kalahan.

Manchester United begitu kesulitan ketika meladeni tim yang bermain dengan deep block. Pemain-pemain depan mereka yang lebih menyerupai sprinter alih-alih atlet sepak bola, kehilangan cara. Atau, mereka memang sengaja tidak mengontrol bola dengan baik? Bisa saja. mengingat Manchester United sudah punya jiwa pertapa yang mendahulukan kebahagiaan orang lain.

Kembali ke Tottenham Hotspur “tutup toilet” Stadium….

Dua hari sebelum tim jamban ini bermain, rapper dari Inggris, Stormzy bikin geger. Ketika wartawan bertanya apakah masih ada rasisme di Britania, Stormzy menjawab: “Tentu saja. 100 persen.”

Jawaban itu dipelintir oleh ITV menjadi: Stormzy berkata bahwa Britania 100 persen rasis. Saya kok curiga kalau ITV ini studi banding ke Indonesia, terutama bikin berita click bait dan memutar fakta. Padahal, yang dimaksud oleh Stormzy adalah di Britania, masih ada rasisme. Masih ada orang-orang dengan otak isi pupuk kompos yang hidup dan bernapas di Inggris.

Pernyataan Stormzy menyentak publik. Dia dituding cuma mencari sensasi. Orang-orang Britania yang sok bersih dan egonya tinggi tidak mau mengakui kalau mereka rasis. Tottenham Hotspur, dengan gobloknya justru membuktikan ucapan Stormzy.

Fans Tottenham Hotspur menyerang Rudiger dengan gesture dan membuat suara-suara monyet. Pengeras suara di stadion jamban itu sampai tiga kali memperingatkan penonton untuk tidak berbuah rasis. Seharusnya, jika patuh kepada protokol pertandingan, pemain-pemain boleh walk out dan pertandingan dihentikan.

Baca juga:  Manchester United dan Paul Pogba Tak Lagi Menjual Jiwanya Kepada “Setan” yang Salah

Inggris memang punya budaya yang “mau kreatif sendiri”. Ini saya berbicara soal sepak bola, ya. Terutama wasit-wasit mereka yang, meski sudah dibantu VAR, tetapi gobloknya nggak berkurang. Seolah-olah VAR cuma seperti lebah yang terbang di dekat telinga. Sangat mengganggu. Maka, ketika seharusnya stadion jamban Tottenham Hotspur dikosongkan, panitia pertandingan tidak bergeming.

Fans Tottenham Hotspur adalah etalase tindakan rasis di Inggris. Namun, perlu diakui, kalau semua fans sebuah klub pada dasarnya sama. Ada yang agak waras, ada yang suka hidup di jamban seperti fans Tottenham Hotspur.

Ini kenyataan. Lha wong fans Chelsea pernah melakukan kekerasan atas nama ras yang lebih keras. Fans Manchester City juga sama saja. Bahkan, salah satu fans City yang tertangkap kamera meledek Fred dengan gesture monyet kena hukuman. Intinya adalah rasisme itu nyata dan perlu diperbincangkan secara terbuka.

Gary Neville secara tegas bicara kalau rasisme itu ada di Inggris. Tidak perlu dibantah karena nyata. Perlu sebuah aksi nyata untuk meredamnya. Kamu tahu apa yang terjadi? Sky Sports, tempat Gary Neville memberikan komentar justru menghindar dari subjek yang benar-benar nyata. “Pernyataan Gary Neville bukan pernyataan Sky Sports.” Tai kucing!

Kenapa sih saya ikut marah dengan sikap umat Tottenham Hotspur “Jamban” Stadium? Karena rasisme bukan masalah Inggris saja. Ini masalah dunia. Jujur saja, saya masih menemui gesture-gesture, suara-suara, dan makian dari fans klub Indonesia yang bernada rasis. Terutama ketika menjumpai pemain berkulit hitam.

Orang-orang goblok memang membelah diri lebih cepat ketimbang orang waras. Saya setuju dengan Gary Neville dan Rudiger. Isu rasisme perlu dibicarakan secara terbuka. Dicari solusi dan diperdebatkan. Supaya manusia-manusia dengan otak pupuk kompos itu tidak cepat lupa. Cepat lupa bahwa harkat dan manusia itu semua sama.

BACA JUGA Gooners Terancam Berdosa Ketika Arsenal Dijamu Tunawisma atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.