Laju AC Milan dan Everton, Perkembangan Arsenal: Ketika Keagungan Proses Dipandang Sebelah Mata MOJOK.CO
Laju AC Milan dan Everton, Perkembangan Arsenal: Ketika Keagungan Proses Dipandang Sebelah Mata MOJOK.CO

Laju AC Milan dan Everton, Perkembangan Arsenal: Ketika Keagungan Proses Dipandang Sebelah Mata

MOJOK.COProses itu periode yang berharga. Sebuah proses agung yang menentukan kualitas sebuah klub setelah “penderitaan” berakhir. AC Milan, Everton, dan Arsenal mengajarkannya dengan sangat bijak.

Ada orang berkata kalau puisi terindah adalah tentang manusia yang kehilangan arah. Ketika manusia ini tidak lagi punya pilihan. Ketika semua indera dimatikan dan tersesat adalah pilihan paling menjanjikan. Ia kehilangan rasa, kehilangan identitas. Tidak lagi bisa memilih, harus menanggalkan semua jati dirinya.

Beberapa tahun terakhir, AC Milan menjadi “si manusia” itu. Ia kehilangan arah, kehilangan identitas, bahkan jati diri. Ahh, apa arti identitas di dunia sepak bola saat ini selain kemenangan yang begitu egois menuntut? Indahnya sebuah proses tidak lagi mendapatkan tempat mulia. Tidak ada lagi perayaan akan perjuangan untuk “sekadar mencoba”.

Apa yang dilakukan manusia ketika ia tersesat di tengah hutan lebat? Apa yang dilakukan manusia ketika ia kehilangan kemerdekaan untuk memilih? Si manusia hanya bisa berharap dan menerima semua kemungkinan yang ada. Yang berkecamuk di dalam benaknya adalah cara untuk bertahan dan tidak ditelan oleh hutan belantara itu.


Selama bertahun-tahun, bahkan sudah satu dekade, Everton tidak pernah bisa mengalahkan Liverpool, rival satu kota. Sudah satu dekade mereka merunduk di bawah bayang-bayang sayap burung liver, burung mistis yang menjadi simbol kejayaan Liverpool. Jika Liverpool bermandikan gemilang karya, Everton masih suntuk dengan geliat membangun konsistensi.

Hingga kemudian Carlo Ancelotti, pemain dan pelatih legendaris AC Milan, menjadi juru kemudi Everton. Musim ini, geliat The Toffees membangun konsistensi semakin kuat. Mereka tengah berada dalam proses berkembang menjadi klub yang lebih stabil. Sebuah proses yang berbahaya.

Proses, adalah bagian penting dalam kehidupan. Terutama setelah sebuah entitas kehilangan identitas dan arah terang. Arsenal, semenjak ditinggal Arsene Wenger belum menemukan pijakan terbaik. Bahkan hingga saat ini, ketika Mikel Arteta, salah satu murid terbaik Wenger, menjadi pelatih Arsenal.

Proses berdarah-darah tengah ditempuh Arsenal. Namanya juga proses, ada kegagalan, ada secercah keberhasilan di sana. Trial and error menjadi dua hal yang selalu diukur. Semua hal diukur, dianalisis, dan dicarikan solusi. Proses yang agung itu tengah bergulir cepat.

Proses yang tengah dititi AC Milan, Everton, dan Arsenal adalah periode menyakitkan. Ingat, akan selalu ada kegagalan di sana, menyembul di tengah keberhasilan dari sebuah usaha. Semakin menyakitkan ketika proses yang agung itu dipandang sebelah mata, diremehkan, bahkan oleh kekasih mereka sendiri, yaitu para fans.

Tangis darah AC Milan

Sebelum bangkit di paruh akhir musim lalu, AC Milan tidak jauh dari kata inkonsistensi. Bahkan sampai kehilangan identitas setelah Don Silvio mundur dari jabatannya sebagai Presiden Milan.

Yonghong Li membeli AC Milan dengan sesumbar, membawa rasa congkak ke dalam tubuh lelah AC Milan. Ia menyediakan 200 juta euro untuk bersolek. Namun, yang tidak disadari adalah uang itu hanya fatamorgana. AC Milan membelanjakan sesuatu yang tidak betul-betul bersih. Mereka bermandikan kebahagiaan, yang sesaat dan berujung menyakitkan.

Belum genap satu tahun, belum sempat balik modal, Yonghong Li dinyatakan bangkrut. Pria asal Cina tersebut dinyatakan pailit karena tidak sanggup melunasi utang-utangnya senilai lebih dari 600 juta euro.

Yonghong Li sebetulnya sudah jatuh sejak Mei 2016. Ketika itu, Bank Jiangsu menagih utang perusahaan induk Mr. Li, Shenzhen Jie Ande, yang tercatat memiliki 11,39 persen saham di perusahaan Zhuhai Zhongfu. Saham tersebut sudah dipegang sejak Januari 2015.

Jie Ande bahkan dituntut oleh dua bank sekaligus, Bank Jiangsu dan Bank of Canton. Pengadilan Futian pun menetapkan Jie Ande bangkrut dan harus melepas 11,39 persen kepemilikan sahamnya. Tercatat, pada 7 Februari 2017, saham tersebut dilelang oleh pengadilan.

Mr. Li tidak mau jatuh begitu saja. Pada 20 Februari 2017 atau 13 hari setelah saham perusahaannya dilelang, dia mengajukan banding. Liciknya, ketika kondisi finansialnya memburuk, Mr. Li berusaha mencari sumber pendapatan lain untuk membeli AC Milan.

Dari mana uang Li? Dilansir Corriere della Sera, dari 740 juta euro yang digelontorkan Mr. Li untuk mengakuisisi Milan dari tangan Don Silvio Berlusconi, hanya 100 juta euro yang berasal dari kantongnya sendiri. Sisanya, 340 juta euro dari sebuah otoritas jasa keuangan, dan 300 juta euro lainnya dipinjam dari Elliott Management.

Gegabah, musim transfer 2017/2018 uang 200 juta euro lebih dibelanjakan. Fatal, situasi finansial i Rossoneri justru goyah. Situasi finansial yang memburuk, ditambah performa yang setali tiga uang, AC Milan kehilangan jati dirinya.

Prosesnya panjang. Tiga tahun, mungkin lebih, sebelum AC Milan sampai pada titik ini. Perombakan skuat, gonta-ganti pelatih, mewarnai proses agung mereka.

“Turbulensi masih sempat terjadi di masa-masa transisi yang mereka alami sejak 2017 hingga 2020 ini. Apa yang saat ini mereka capai di Serie A, bisa jadi merupakan buah dari turbulensi yang mereka alami beberapa tahun terakhir. Kini, mereka mulai karib dengan kemenangan lagi,” tulis Firda F di sebuah artikel yang tayang di theflanker.id.

Kekalahan Atalanta dari Napoli dan keberhasilan AC Milan “menenangkan” Internazionale Milano mengantarkan Milan ke puncak klasemen Serie A. Proses panjang untuk sekadar meraih status konsisten kini berbuah manis.


Memanusiakan Everton dan Arsenal

Pendekatan personal kini tengah dilakukan masing-masing pelatih Everton dan Arsenal, Ancelotti dan Arteta. Keduanya tidak hanya mengubah sistem di atas lapangan, tetapi merombak ulang “hubungan manusia” di antara pelatih dan pemain. Sebuah cara yang sangat sederhana, tetapi punya andil besar.

Rory Smith, lewat artikelnya yang tayang di New York Times menjelaskan bahwa cara Ancelotti mengambil hati pemain merupakan cara yang bijak. Ancelotti adalah pelatih yang berdedikasi kepada pekerjaannya. Dia sangat intens ketika melatih. Namun, hatinya sangat hangat ketika melakukan pendekatan kepada pemain.

Di tengah sesi latihan, misalnya, Ancelotti bisa tiba-tiba memanggil seorang pemain Everton untuk ngobrol di sisi lapangan. Tidak membicarakan sepak bola, tetapi Ancelotti bertanya soal rekomendasi acara televisi. Topik yang mereka obrolkan dari seri dokumentasi terbaru di Netflix berjudul The Cuba Libre Story sampai Game of Thrones.

Tema yang diobrolkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan pertandingan. Namun, pelatih pemenang tiga piala Liga Champions dan seorang serial winners bersama AC Milan, Chelsea, Real Madrid, dan PSG itu mampu membuat pemain nyaman. Ketika pemain nyaman dan keberadaannya dianggap penting, proses yang agung itu bisa dijalani dengan hati riang.

Pendekatan personal juga dilakukan Arteta kepada Arsenal. Terutama selama Liga Inggris berhenti karena pandemi. Arteta rutin mengajak pemainnya mengobrol lewat panggilan video. Bentuk perhatian ini sangat bermakna untuk pemain. Mereka merasa menjadi manusia karena diperhatikan.

Pendekatan personal juga dilakukan Arteta kepada calon pemain baru. Arteta selalu menyediakan waktu untuk sebuah panggilan video singkat dengan Gabriel Magalhaes, Willian, dan Thomas Partey. Semua pemain baru Arsenal ini selalu merujuk nama Arteta sebagai penentu pilihan mereka.

Sikap memanusiakan manusia Arteta ini diwarisi langsung dari Arsene Wenger. Francis Cagigao, mantan pencari bakat Arsenal, sempat mengungkapkan bahwa pemain baru harus didudukkan di meja yang sama dengan Wenger. Manajer karismatik itu akan menyediakan waktu untuk sekadar mengobrol 10 menit.

Pendekatan personal yang dilakukan Arteta sukses “membentuk ulang” kondisi mental Granit Xhaka dan Ainsley Maitland-Niles. Dimulai dari membangun kepercayaan, Arteta beralih ke sistem di atas lapangan. Sudah banyak perkembangan, masih banyak pula kritikan. Satu hal yang pasti, proses itu berjalan ke arah positif.

AC Milan memberi bukti nyata betapa proses itu menyerap energi sangat besar. Everton menjadi inspirasi tentang usaha klub keluar dari “sisi medioker”. Sementara itu, Arsenal menggambarkan bahwa proses yang positif membutuhkan waktu, bisa panjang, bisa sangat panjang.

Satu hal yang pasti, proses itu periode yang berharga. Sebuah proses agung yang menentukan kualitas sebuah klub setelah “penderitaan” berakhir. AC Milan, Everton, dan Arsenal mengajarkannya dengan sangat bijak.

BACA JUGA AC Milan Adalah Puisi Paling Sedih di Sejarah Serie A dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.