MOJOK.COPunggung seorang kapten Arsenal harusnya menjadi tameng untuk rekan-rekannya. Apologia yang ditulis Granit Xhaka justru menjadi terasa sangat hambar.

Ancaman pembunuhan hingga mendoakan anak Granit Xhaka kena kanker itu bukan perbuatan manusia. Sebenci apapun, sesengit apapun, mendoakan orang lain untuk celaka tidak boleh dilakukan.

Saya pernah “mengutuk” seorang fans Arsenal yang mendoakan Olivier Giroud cedera. Striker asal Prancis yang kini berseragam Chelsea itu didoakan kakinya patah. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mem-block akun Twitter fans Arsenal itu.

Benci kepada pemain sepak bola adalah hal lumrah. Misalnya karena si pemain bermain buruk dalam waktu yang lama. Padahal, pelatih begitu percaya kepada dirinya. Menit bermain yang disediakan selalu melimpah supaya si pemain sadar bahwa dirinya memikul beban bernama harapan.

Seperti yang menimpa Giroud. Arsene Wenger hampir selalu percaya kepada Giroud meskipun periode mandul di depan gawang terjadi dalam waktu yang lama. Giroud juga membuang banyak peluang. Jika saja dia lebih klinis di depan gawang, bisa jadi Mesut Ozil sudah menjadi pembuat asis terbanyak dalam sejarah sepak bola Liga Inggris.

Saya pun tidak ketinggalan menulis sebuah kritikan. Namun, saya usahakan tetap proporsional dan tidak menyerang pribadi. Teriakan saya adalah sebuah harapan kepada Wenger supaya menyediakan sebuah periode kepada Giroud untuk duduk di bangku cadangan. Rotasi membuat si pemain bisa mendinginkan kepala dan lebih klinis di lain waktu.

Wenger memang melakukannya. Beberapa kali Alexis Sanchez atau Theo Walcott dimainkan sebagai penyerang. Hasilnya memang baik. Setelah menjadi “korban” rotasi, Giroud menemukan kembali sentuhannya di depan gawang.

Saya ingin pembaca mencermati pembuka di atas. Ada empat hal penting yang harus selalu diingat. Pertama, mendoakan orang lain celaka itu tidak elok. Kedua, pemain yang performanya menurun. ketiga, pelatih yang sadar diri. keempat, kemauan pemain untuk memperbaiki performanya. keempat hal itu saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Sekarang, kita bicara soal Xhaka.

Saya tidak pernah bosan untuk mengingatkan kalau masalah Xhaka bukan “perkara tunggal”. Pemilihan ban kapten oleh Unai Emery saya rasa menjadi kesalahan kedua. Apa masalah pertama? Performa Xhaka yang terus menurun dan tidak mendapatkan treatment sebagai mana mestinya.

Baca juga:  Daniele De Rossi Serupa Thierry Henry: Bukan Pergi, Mereka Abadi

Xhaka pernah bermain sangat buruk ketika Wenger masih melatih. Namun, Wenger mencoba mengubah fakta itu. Dia menyesuaikannya dengan sistem supaya Xhaka tidak perlu bertahan seorang diri, mengawasi wilayah yang luas sebagai seorang gelandang bertahan. Ada usaha dari pelatih.

Emery gagal menempuh jalan yang sama. Fakta berbicara bahwa ketika Torreira, Guendouzi, dan Joe Willock bermain bersama, Arsenal menjadi lebih fluid dan stabil. Torreira terlihat sangat nyaman bermain sebagai gelandang bertahan dengan cover dari dua box to box.

Ketika performa Xhaka terus menurun, Emery tidak mau memberikan waktu untuk “bernapas” kepada kaptennya. Hasilnya bisa kamu tebak, kapten Arsenal itu menjadi sasaran kekesalan fans. Apalagi, meskipun menjadi pemain dengan kemampuan umpan di atas rata-rata, Xhaka juga menjadi pemain Arsenal yang paling banyak membuat kesalahan yang berujung gol untuk lawan.

Bangku cadangan bukan hanya berfungsi sebagai tempat duduk pemain. Bangku cadangan adalah sebuah simbol bahwa pesepak bola profesional harus sadar diri. Sadar bahwa dirinya belum layak masuk tim utama karena berbagai alasan. Kesadaran itu yang akan menjadi bekal bagi pemain untuk memperbaiki diri.

Terlibat dalam pertandingan yang intens dan bermain dengan performa buruk, si pemain kesulitan menemukan “apa yang salah” dalam dirinya. Fans sepak bola adalah sekumpukan mamalia tidak sabaran. Mereka memandang pesepak bola profesional sebagai “profesional” yang harus memberikan yang terbaik ketika terpilih masuk tim utama.

Apalagi kalau dirimu adalah kapten, seperti Xhaka. Punggungmu yang lebar adalah tonggak bagi tim. Kamu boleh bermain buruk, tapi pada titik tertentu kamu harus bangkit.

Sebagai kapten Arsenal, bermain dengan performa buruk, harusnya dia sadar akan kejamnya dunia “selebritas”. Jangan salah, pesepak bola adalah selebritas. Dan dunia selebritas adalah dunia yang kelas, kejam.

Ledekan, siulan, cemoohan, hingga ancaman fisik adalah hal yang biasa. Makian dan ancaman kepada Xhaka bukan hal baru. Coba saja hitung sendiri ada berapa banyak legenda Serie A yang pernah mendapatkan ancaman fisik dari ultras selama mereka bermain. Serie A dan sepak bola di Amerika Latin lebih kejam ketimbang Liga Inggris.

Baca juga:  Untung Saja, Hector Bellerin Punya Role Model Dalam Diri Laurent Koscielny

Saya bukan hendak memaklumi ujaran kebencian dan ancaman fisik. Saya ingin menegaskan bahwa hal-hal negatif itu berjalan beriringan dengan dunia selebritas. Punggung kapten yang lebar seharusnya menjadi tameng pertama untuk melindungi rekan-rekan. Bukannya merajuk lewat sebuah tulisan.

Sebagai kapten kamu tidak boleh kehilangan kontrol diri untuk suporter dan klub. Kamu masih boleh, kok, memaki “Fuck off!” kepada suporter. Namun, kamu tidak pernah boleh mendahulukan emosi pribadi ketimbang kepentingan dan harga diri klub.

Xhaka tidak segera keluar lapangan ketika diganti. Padahal Arsenal sedang butuh gol. Dia merasa emosi dengan performa dan ledekan fans. Sejurus kemudian, Xhaka membuang ban kapten alih-alih mendatangi Aubameyang dan memakaikannya. Ketika berjalan ke lorong, dia membuang seragam Arsenal.

Kapten bukan sekadar mereka yang populer. Kapten adalah mereka yang sadar dengan besarnya nilai emblem di dada, bukan nama di belakang.

Ketika melihat kembali video kemarahan Xhaka, kamu akan menemukan kalau fans di stadion baru “meledak” ketika si pemain ini tidak segera berlari keluar ketika diganti. Semakin menjadi ketika si pemain melemparkan ban kapten ke tanah.

Xhaka boleh marah dan kecewa kepada fans. Dia juga boleh “merasa bersalah” dengan aksinya. Namun, fans juga sudah mencatat bahwa ada kapten yang membuang dirinya demi ego pribadi. Fans memang tidak sabaran, tetapi mereka pendendam. Maka jangan heran apabila apologi Xhaka tidak akan diterima fans Arsenal dengan lapang dada.

Ketika dia mendapatkan kesempatan untuk bermain dan kembali “gagal”, fans tidak akan segan-segan memaki lagi. Bahkan bisa jadi ancaman yang dikeluarkan lebih tidak manusiawi. Mengontrol perilaku seseorang bukan hal mudah. Maka, yang bisa dilakukan para profesional adalah mengontrol diri sendiri terlebih dahulu.

Jika punggung Xhaka terlalu ringkih untuk menahan kelamnya dunia selebritas, jalan keluar dari klub selalu terbuka. Kapten Arsenal penuh dengan kutukan dan hanya mereka yang punya mental baja yang bisa menanggungnya.

BACA JUGA Kemarahan Xhaka dan Cara Emery Menumpuk Bangkai di Gudang Arsenal atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles