MOJOK.COInter vs AC Milan seperti laga orang sakit. Sementara itu, masalah juga tengah dihadapi Arsenal dan Liverpool. Suram sekali minggu ini.

Sejak pandemi menjadi keprihatinan dunia, saya merasa kompetisi sepak bola sudah tidak relevan lagi untuk terus digulirkan. Namun, argumen yang menyatakan banyak orang menggantungkan hidupnya di olahraga ini membuat saya berusaha memaklumi. Dan sekarang, saya semakin membenci keputusan liga terus berjalan.

Apalagi ketika otoritas tertinggi sepak bola tidak berpikir jernih. Salah satunya dengan terus menyelenggarakan kompetisi UEFA Nation League. Ketika pandemi belum akan minggat dalam waktu dekat, pesepak bola harus bepergian ratusan, bahkan ribuan kilometer, untuk membela negara masing-masing. Jadi jangan heran ketika banyak pemain tertempeli Covid-19.

Otoritas tertinggi sepak bola dunia merasa beberapa negara sudah bisa “mengontrol” virus ini. Yah, antara merasa dan kenyataan memang berbeda. Untung saja, penanganan di sana memakai akal sehat dan didukung pengobatan terbaik. Sudah semodern itu saja, masih kena corona.

Ini ada sebuah negara yang pemimpinnya berhalusinasi menganggap negaranya menjadi salah satu terbaik dalam penanganan corona. Otoritas sepak bola di negara ini ngotot sekali mau main bola lagi. Sudah penanganan amburadul, petugas kesehatan dan dokter disudutkan, warganya tidak mengenal kata disiplin, masih saja bersikeras mau main bola. Tentu saja ini bukan Indonesia hahaha… ini sebuah negara di sudut terjauh dekat Pluto sana.

Ah, niatnya menulis laga Inter vs Milan dalam tajuk Derby Milan dan penderitaan yang tengah dihadapi Liverpool dan Arsenal, malah ngelantur. Yah, intinya, Derby Milan, selain diwarnai gengsi seperti biasa, akan menjadi parade orang sakit. Beberapa dari mereka “sakit” karena pertandingan antarnegara. Suram sekali.

Sebelumnya, Inter sudah pasti tidak akan diperkuat enam pemain karena positif corona. Mereka adalah Radja Nainggolan, Milan Skriniar, Roberto Gagliardini, Alessandro Bastoni, Radu, dan Ashley Young. Setelah jeda antarnegara, Alexis Sanchez cedera dan kondisi Lautaro Martinez diragukan. Suram sekali.

Sementara itu, AC Milan juga tidak bisa menghindar dari virus corona. Matteo Gabbia dan Leo Duarte positif, sementara Ante Rebic cedera ketika bermain untuk Kroasia. Selain Rebic, kedua pemain yang disebut pertama, “untungnya”, bukan pemain inti AC Milan. Berita bagusnya, Zlatan Ibrahimovic sudah sembuh dari corona dan terlihat sudah berlatih lagi.

Sekali lagi, Inter vs AC Milan adalah parade orang sakit. Saya sedikit bersyukur, mereka tidak berkompetisi di sebuah negara di dekat Pluto itu tadi. Bayangkan, kalau Ibra atau Lukaku positif corona, mereka akan dirawat di sebuah wisma bertingkat puluhan dan disuruh minum jamu, lalu berdoa saja supaya sembuh. Setelah sembuh, mereka jadi duta corona yang nggak jelas manfaatnya.

Di satu sisi, Inter sudah punya kedalaman skuat yang cukup baik. Kehilangan enam pemain karena corona plus dua lainnya karena cedera, sepertinya, masih bisa diatasi Antonio Conte. Sementara itu, AC Milan sedang berada dalam jalur yang benar, meneruskan konsistensi di paruh akhir musim lalu.

Melihat kondisi skuat, memang mudah untuk memperkirakan Milan akan menang. Namun, Derby Milan selalu punya sejarah tersendiri untuk mengecewakan mereka yang terlalu berharap. Apalagi, sudah satu dekade AC Milan tidak bisa “menang tandang” melawan Inter. Dibilang “menang tandang” padahal keduanya berbagi petak kontrakan. Terkadang, perkara statistik ini memang ada-ada saja.

Bergeser ke Inggris, perkara pertandingan antarnegara juga bikin susah Arsenal. Ketika mereka membutuhkan semua pemain bisa dipakai ketika melawan Manchester City, Kieran Tierney “ditahan” otoritas Skotlandia. Salah satu pemain Skotlandia, Stuart Armstrong, positif Covid-19. Tierney dianggap “kontak dekat” dengan Armstrong.

Padahal, dari rekaman video, keduanya tetap menjaga jarak, lebih dari dua meter dan Tierney sendiri sudah tiga kali menjalani tes. Hasil ketiga tes tersebut adalah negatif. Namun, otoritas Skotlandia masih saja tak mau “melepas” Tierney kembali ke Arsenal.

Anehnya, para pemain Portugal diizinkan untuk “pulang” ke klub masing-masing ketika Cristiano Ronaldo positif Covid-19. Saya paham, setiap negara punya aturan berbeda. Namun, masalah seperti ini tidak akan terjadi jika jeda antarnegara ditunda untuk sementara waktu. Sungguh tambahan beban yang tidak perlu bagi pemain.

Tahukah kamu, pemain Inter dan Milan baru kembali ke Italia dua hari sebelum Derby Milan sepak mula? Gila! Beberapa pemain yang bermain di Liga Inggris pun mengalami masalah yang sama. Gabriel Jesus, striker City, misalnya, juga baru kembali ke Inggris dua hari sebelum melawan Arsenal. Pesepak bola, terlepas dari gajinya yang tinggi sekali, sudah seperti “budak jadwal”.

Jika Arsenal bermasalah dengan pandemi, Liverpool harus berhadapan dengan cedera dan penurunan performa. Jurgen Klopp seperti dipaksa kembali ke titik nol, ketika Liverpool menjadi mudah ditebak. Apakah kembalinya Thiago Alcantara bisa menjadi jawaban untuk masalah ini? Melawan Everton, solusi itu bisa diujicobakan.

Untuk masalah lain, Liverpool berada dalam “bahaya”. Di bawah mistar, Alisson Becker masih cedera. Kiper Liverpool itu harus absen setidaknya sampai enam minggu ke depan karena cedera bahu. Adrian, yang saya kira dapat nilai minus ketika kebobolan tujuh dari Aston Villa, jadi tumpuan Liverpool.

Bukan pemandangan yang menyenangkan ketika Liverpool akan melawan Everton versi baru. Derby yang biasanya adem ayem, beda dengan Inter vs Milan, mungkin akan berbeda. Di bawah Carlo Ancelotti, Everton menjadi salah satu berbahaya musim ini. Mungkin mereka tidak akan mencetak tujuh gol seperti Villa. Namun, Adrian dan Klopp tak akan bisa tidur nyenyak ketika nama Everton lari-larian di dalam kepala mereka.

Untuk lini depan, Klopp harus mencari solusi di tengah penurunan Roberto Firmino. Memang, Firmino bukan goal-getter. Namun, aspek terbaik dari Firmino mengalami penurunan signifikan, yaitu kemampuan pressing dari lini pertama.

StatsBomb mencatat, pressing sukses yang dilakukan Firmino musim ini cuma 21,5 persen. Musim lalu, catatan pressing sukses striker Liverpool itu mencapai 31,1 persen. Penurunan 10 persen itu besar sekali. Padahal, Liverpool mengandalkan Firmino sebagai inisiator pressing dari lini pertama.

Tentu masih perlu dilakukan analisis mendalam terkait dampak penurunan intensitas pressing Firmino terhadap performa pressing Liverpool. Namun, yang pasti, ketika kebobolan tujuh gol, Liverpool memang sering terlihat gagap melakukan counterpress. Benarkah kedua hal ini saling berkaitan?

Akhir kata, kalau Inter vs Milan tidak berjalan seru, saya mau menyalahkan jeda pertandingan antarnegara untuk kesekian kali. Begitu juga kalau Arsenal kalah karena Tierney tidak bermain. Liverpool? Bikin penasaran melihat respons mereka setelah jadi bahan meme selama dua minggu penuh.

Oya, satu hal lagi: sudah waktunya jeda pertandingan antarnegara dibuang ke tempat sampah. Kualifikasi Piala Dunia juga ditiadakan, yang lolos ditentukan dengan hompimpa online saja.

Ketimbang kena Covid-19, dirawat di sebuah wisma bertingkat puluhan dan disuruh minum jamu, lalu berdoa saja supaya sembuh. Setelah sembuh, mereka jadi duta corona yang nggak jelas manfaatnya.

BACA JUGA Inter vs Milan, Bagi Milanisti: Menang Sudah Biasa, Kalah Itu Sedekah Semata dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Awkarin dan Pesona Remontada: Dari Barcelona, AS Roma, Hingga Liverpool