MOJOK.COKieran Tierney dan Hector Bellerin kembali di saat yang tepat. Ketika sisi lapangan Arsenal menjadi lesu dan kurang darah, ketika Unai Emery sangat butuh pertolongan.

Mari kita telusuri cara berpikir Unai Emery. Pelatih asal Spanyol itu pernah bilang kalau dirinya lebih suka menang dengaan skor 4-3 ketimbang dengan skor minimal seperti 1-0. Artinya, Unai ingin Arsenal lebih agresif menyerang. Bukan pernyataan yang buruk juga mengingat The Gunners memang punya platform sepak bola menyerang.

Maka, artinya juga, Unai membutuhkan komposisi yang mendukung. Mulai dari lini pertahanan, tengah, dan tentu saja lini depan. Bermain agresif menuntut semua pemain terlibat dalam “proses”, bukan hanya soal punya satu atau dua striker tajam. Termasuk di dalamnya, dua bek sayap, yang mana para pemain Football Manager pasti akrab dengan istilah: complete wingback.

Complete wingback adalah sebuah peran yang sangat menuntut bagi siapa saja yang memainkannya. Atribut bertahan dan menyerang harus seimbang. Atribut fisik juga harus menunjang. Dan entah seperti apa jalannya nasib, dua bek sayap agresif Arsenal kembali dari cedera di saat paling dibutuhkan: Hector Bellerin dan Kieran Tierney.

Bellerin akhirnya lepas dari cedera ACL yang membuatnya menepi selama beberapa bulan. Sementara itu, Tierney baru saja menjalani operasi double hernia dan sembuh setelah beristirahat selama dua bulan. Keduanya kembali ketika sisi bek kanan dan kiri butuh tambahan tenaga setelah Ainsley Maitland-Niles harus absen karena hukuman kartu dan performa Sead Kolasinac menurun.

Baik Bellerin maupun Tierney adalah complete wingback yang bikin skuat Arsenal jadi komplet. Kenapa bisa begitu? Mari kita selami jalan pikiran Unai Emery.

Di awal kedatangannya, Unai menggunakan skema dasar 4-2-3-1 yang diselingi 4-1-2-1-2 dan 3-5-2. Semua skema di atas bergantung kepada keberadaan dua bek sayap yang menyediakan width di sepertiga akhir lapangan. Width adalah pemain yang berdiri di sisi paling luar, biasanya bek sayap supaya gelandang sayap atau gelandang serang sebuah tim bisa bermain lebih ke tengah.

Dulu, ketika Kolasinac berada dalam level permainan terbaik dan Bellerin bersih dari cedera, pos bek sayap The Gunners sangat aman. Dinamisnya dua bek sayap itu menjadi kunci cara bermain Emery untuk mengokupansi sisi lapangan di wilayah lawan. kira-kira begini bentuk ideal yang dicari Emery:

Baca juga:  Kalau Real Madrid, Barcelona, dan PSG Bergerak, Deadline Day Eropa Bakal Memanas

Seiring perkembangannya, Bellerin menjadi lebih fasih melepas cut back berupa low cross ke tiga titik: tiang dekat, six yard box, maupun tiang jauh. Cara bermain ini membuat Bellerin bisa bikin banyak asis.

Bagi bek sayap dengan menit bermain di atas 1000 menit Liga Inggris, Bellerin hanya kalah dari Trent Alexander-Arnold dari sisi penciptaan asis per game rata-rata. Bellerin punya rata-rata 0,3 asis, sementara Trent mencatatkan 0,4 asis per laga rata-rata.

Nah, baik Bellerin maupun Ainsley Maitland-Niles sebetulnya sama-sama cepat. Namun, yang membedakan adalah pengambilan keputusan menentukan kapan harus bermain kombinasi 1-2 atau menerobos menggunakan dribble.

Perbedaan ini terbentuk karena hampir sepanjang kariernya, Bellerin sudah bermain sebagai bek sayap kanan. Sementara itu, Ainsley Maitland-Niles sebetulnya seorang gelandang. Proses belajar posisi baru Ainsley Maitland-Niles tidak berjalan dengan mulus, terutama sisi bertahan.

Sebagai bek, Ainsley Maitland-Niles terlalu mudah menjulurkan kaki dan menerjang. Membuatnya mudah dilewati. Ainsley Maitland-Niles juga kurang cepat mengambil keputusan kapan menekan pemain lawan dan kapan harus sit back.

Sementara itu, di sisi kiri, Tierney punya spesifikasi kemampuan yang berbeda dari Belllerin. Bek kiri baru milik Arsenal itu lebih jago melepas whipped cross, atau umpan silang cepat tujuannya untuk memberi efek kejut kepada lawan. Laju umpan silang Tierney lebih cepat ketimbang Bellerin.

Tierney juga lebih jago melepas float cross atau umpan lambung cepat dari luar kotak penalti. Kemampuan umpan silang mantan pemain Celtic itu mirip seperti kemampuan Andrew Robertson dari Liverpool. Persamaannya, baik Tierney, Bellerin, maupun Robertson sama-sama agresif dan (semoga) konsisten.

Selama empat musim penuh bersama Celtic, Tierney terlibat dalam 30 gol, dengan rincian lima gol dan 25 asis. Jadi, rata-rata, setiap musim, dia bisa membuat 6,25 asis. Angka yang cukup lumayan untuk bek sayap.

Baca juga:  Zidane Mundur dari Real Madrid: Potensi Bibit Badai?

Bagaimana dengan sisi bertahan kedua pemain ini?

Baik Tierney maupun Bellerin sadar betul kalau mereka punya agresivitas tinggi. Namun, kedunya juga sadar dan waspada kapan kudu menekan lawan, kapan harus sit back dan mencegah lawan mengokupansi ruang di belakang bek.

Fans Arsenal tentunya masih ingat dengan gol Mo Salah. Pemain asal Mesir itu menemukan ruang kosong di belakang Nacho Monreal. Jarak antara Monreal dengan David Luiz terlalu jauh dan dimanfaatkan betul oleh Salah. Di sini, Monreal terlalu agresif menekan ke atas membantu Aubameyang dan Joe Willock.

Gooners juga seharusya masih ingat dengan gol Aston Villa. Saat itu, Ainsley Maitland-Niles gagal mencegah pemain Villa mengirim early cross. Ainsley Maitland-Niles justru turun terlalu dalam dan tidak agresif menekan pemain Villa yang akan mengirim umpan silang.

Fans Arsenal bisa membayangkan dua kejadian di atas? Nah, keberadaan Tierney dan Bellerin, diharapkan, bisa mengurangi kejadian-kejadian tidak menguntungkan karena salah posisi dan pengambilan keputusan itu. Meski agresif, kedunya tetap awas dengan situasi dan pergerakan kawan serta lawan.

Keuntungan ketiga yang bisa diambil Arsenal adalah kemampuan olah bola kedua complete wingback ini. Olah bola di atas rata-rata keduanya akan lebih membantu Arsenal build from the back. Sering terjadi, posisi Ainsley Maitland-Niles dan Kolasinac terlalu dalam sehingga David Luiz dan Sokratis kehilangan opsi umpan karena jalur yang ditutup pemain lawan.

Posisi yang lebih tinggi membuat pemain lawan akan menyesuaikan dan memberikan Luiz atau Sokratis lebih banyak waktu untuk mengontrol dan mendistribusikan bola. Setidaknya, dari sisi opsi umpan, keduanya bisa menyediakannya. Tentunya berbeda perkara apabila dua bek sayap gagal melepaskan umpan ke lini kedua karena salah umpan.

Pada akhirnya, kembalinya dua complete wingback ini menaikkan lagi asa fans Arsenal. Melihat kembali Arsenal yang agresif terkontrol di sisi lapangan tentu sangat menyenangkan. Artinya, Unai Emery mendapatkan kembali salah satu cara bermain terbaiknya, yaitu agresif di sisi lapangan untuk penciptaan peluang.

BACA JUGA Unai Emery, Usaha Memahami Logika Arsenal atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles