• 16
    Shares

MOJOK.COSeorang perempuan sedang galau menunggu jodoh. Tambah bingung waktu dapat bocoran dari peramal tentnag ciri-ciri jodohnya.

TANYA

Dear Mojok, sebelumnya perkenalkan nama inisial saya Mei. Wanita rantau berumur 25 tahun. Di umur yang sangat rawan bagi seorang wanita untuk menikah ini, saya bingung belum mendapatkan pasangan hidup yang pas untuk saya. Bila dilihat secara fisik dan kepribadian, saya tidaklah buruk untuk dijadikan standar seorang perempuan idaman. Tapi saya bingung, kenapa saya sangat sulit menemukan pasangan yang cocok dengan saya.

Lingkungan kerja saya dominan lelaki. Namun juga tak mempengaruhi kedatangan jodoh saya. Tak ada satu pun seorang teman kerja yang bisa menarik perhatian saya untuk dicintai dan mencintai. Ada sih, beberapa teman kerja lelaki yang memang mendekati, tapi lagi–lagi dia bukan seseorang yang bisa menarik saya untuk mencintai.

Pada suatu hari kos saya, kedatangan penghuni baru. Dia saudara dari teman anak pemilik kos. Sebut saja namanya Mas Joko. Hari-hari pertama saya tidak menghiraukan keberadaannya. Hingga pada suatu hari ibu kos berbincang dengan saya, “Mei, Mas Joko itu ternyata orang pinter. Kemarin si Dinda di terawang sama Mas Joko kelihatan semua.”

Dinda adalah salah satu anak dari ibu kos. Lalu terbesitlah pikiran untuk menanyakan masalah jodoh kepada Mas Joko, untuk menjawab segala kegundahan saya selama ini.

Malam itu setelah perbincangan dengan ibu kos, saya melangsungkan konsultasi dengan Mas Joko. Mas Joko bilang kalau saya akan berjodoh dengan seseorang yang jauh dari keberadaan saya. Mungkin jodoh saya lagi di planet pluto atau lagi di dasar laut nemenin Spongebob berburu ubur-ubur. Terus diramalkan lagi kalau nanti jodoh saya itu nggak ganteng. Dia berkulit hitam dan jelek, tak sesuai dengan keinginan saya. Eh, ya ampun nih peramal gini banget ya….

Baca juga:  Terlalu Memikirkan tentang Quarter Life Crisis, Hanya Membuatmu Semakin Krisis

Selain itu, nanti pertemuan kami itu bakal kayak drama Korea yang nggak abis-abis. Dari ramalan Mas Joko saya berpikir, sepertinya hidup saya hanya untuk menunggu kehampaan dan menunggu kedatangan jodoh yang tidak sesuai dengan keinginan saya. Malang sekali hidup saya.

Saya juga merasakan ketika ada cowok yang agak cakep deketin saya, mereka selalu PHP-in saya. Apakah ini yang dinamakan menunggu jodoh yang sia-sia?

Setelah diramal Mas Joko, bukannya dapat solusi, saya malah tambah pusing. Lalu saya harus bagaimana? Apakah saya harus menunggu jodoh saya? Atau saya harus terpaksa menikah dengan lelaki yang akan mendekati saya, meski tanpa ada rasa saling mencintai dan dicintai?

JAWAB

Hai Mbak Mei. Pertama, saya ingin bilang kalau saya suka sekali dengan kepercayaan diri Mbak. Bagaimana Mbak meyakini kualitas diri yang memang layak dijadikan sebagai sosok perempuan idaman. Tidak banyak orang yang mampu mensyukuri anugerah yang dimiliki.

Meskipun saya bukan termasuk golongan “orang pinter” tapi bisa saya melihat setidaknya ada dua masalah yang sedang Mbak alami. Pertama soal kesulitan mencari pasangan dan yang kedua adalah soal menerima informasi yang tidak ingin diterima dari peramal. Setidaknya begitu yang saya baca dari curhatan sampeyan.

Pertama, soal mencari pasangan. Apa-apa yang ada hubungan dengan mencari itu sudah pasti sulitnya. Seperti menemukan sosok yang klik dan merasa pas untuk menjadi pasangan. Apalagi kalau terlalu ngebet, terkadang malah nggak nemu-nemu. Eh.

Mbak sudah berusaha mengenal rekan laki-laki sampeyan dan ternyata belum ada yang sreg. Barangkali yang Mbak cari memang tidak ada di situ. Lantaran, berada di lingkungan yang dominan laki-laki tentu bukan menjadi jaminan sampeyan mudah menemukan pasangan. Eh, atau jangan-jangan teman kerja sampeyan itu udah pada punya pasangan semua? Atau malah sudah beristri?

Baca juga:  Cinta Jarak Jauh yang Bermula dari Game Online

Maka Mbak Mei, sebaiknya sampeyan mulai mencoba mendalami lingkungan-lingkungan di luar pekerjaan. Seperti misalnya rajin-rajin datang reuni kuliah atau sekolah. Kalau perlu, ajak teman-teman TK Anda untuk melakukan kegiatan reuni. Siapa tau jodoh Mbak adalah yang dulu pernah naksir waktu masih bareng-bareng beli mainan di depan sekolah sambil nunggu jemputan. Bisa saja, kan?

Kedua, soal ramalan dari “orang pinter”. Saya tidak melarang sampeyan percaya dengan ramalan Mas Joko, Mbak—karena bisa jadi memang bener adanya. Tapi janganlah sampeyan yang sudah berusaha keras untuk mencari pasangan malah jatuh begitu saja karena ramalan orang.

Lagian ya, Mbak. Kalau memang menurut ramalan itu, sosok jodoh Mbak adalah orang yang jelek dan hitam. Lalu, masalahnya, apa? Bukankah untuk menjalin sebuah hubungan serius, bukan hal-hal remeh semacam ini yang jadi pertimbangan?

Memangnya, kalau dia putih dan rupawan, sudah pasti bikin nyaman dan aman, Mbak? Sudah pasti bisa memperlakukan sampeyan dengan baik dan bikin bahagia? Atau sudah pasti bisa menjadi suami yang bertanggung jawab?

Mbak, tidak perlulah merasa se-despreate itu dalam menunggu jodoh? Kenapa harus merasa hampa dan seolah-olah bakal bahagia kalau si jodoh ini datang? Kenapa sampeyan nggak fokus dengan diri Mbak sendiri saja dulu?

Iya, fokus dengan kebahagiaan diri sampeyan sendiri. Bukan malah mencari-cari sumber kebahagiaan di luar diri sampeyan. Mbak, mengharap mendapatkan kebahagiaan di luar diri sampeyan, itu hanya semu belaka, Mbak. Percayalah, yang saat ini Mbak butuhkan adalah diri sendiri. Diri sendiri yang bisa bahagia tanpa harus menggantungkan kebahagiaan pada orang lain.

Fokus dengan diri sendiri, membuat sampeyan tidak sumpek karena menunggu. Lalu diam-diam dia akan datang di waktu yang tepat. Bukan untuk sekadar melengkapi dan menguatkan sampeyan, tapi malah saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. Uuuh, indahnyaaa~

  • 16
    Shares


Loading...



No more articles