MOJOK.COTerlepas dari petinggi Juventus Club Indonesia korupsi atau tidak, yang namanya tuduhan memang harus dibuktikkan. Ini bukan perkara baper.

Ledekan di antara fans klub sepak bola itu hal biasa. Ada yang saling lempar ledekan dengan santai dengan maksud banter, ada juga yang kampungan seperti misalnya memplesetkan nama klub. Namun, fans sepak bola ini juga harus belajar membedakan ledekan dan tuduhan.

Adalah Juventus Club Indonesia, mengirim somasi kepada sebuah akun Instagram bernama @igoyprayoga. Somasi itu dikirimkan dengan latar belakang sebuah tuduhan korupsi yang dilakukan petinggi (mungki yang dimaksud adalah pengurus) Juventus Club Indonesia. Sebuah tuduhan yang nggak main-main.


Saya mencoba memahami ujaran @igoyprayoga di kolom reply sebuah unggahan Panditfootball. Saya mencoba memahaminya sebagai sebuah usaha untuk “bercanda” saja. Namun, pada akhirnya, saya kesulitan menemukan kesimpulan lain selain ujaran itu menjadi sebuah tuduhan yang berbahaya.

Ketika masalah ini mulai ramai, banyak netizen yang kemudian salah fokus. Banyak yang memperkarakan redaksional Juventus Club Indonesia. Mereka menyebut reaksionalnya sangat tidak rapi, beberapa terjadi salah ketik. Yah, termasuk saya sendiri yang mempermasalahkan penulis “di-“.

Baca juga:  Liverpool Menyelam di Habitat Medioker? Sebuah Periode yang Tidak Bisa Dihindari

Saat itu saya berpikir semua orang pasti sudah tahu bahwa somasi Juventus Club Indonesia ini tepat adanya. Namun, kok makin ke sini, malah banyak yang menganggap petinggi Juventus Club Indonesia itu baper. “Gitu aja sampai main lapor.”

Salah satu netizen yang kemudian malah salah fokus adalah akun Twitter bernama Vincent Candra. Dia bilang seperti ini:

“Fans bola liga itali kok gak se santai fans bola liga inggris ya? Meskipun suka saling ejek, gak ada tuh yang dilaporin apalagi pake acara beginian (koreksi kalo gue keliru) WKWKWKWKWKWKWKWKWKWK….”

Sejauh yang saya tahu, memang belum ada fans bola Liga Inggris yang saling melaporkan karena masalah saling ejek. Namun, ujaran Vincent Candra menjadi kurang tepat ketika ada membandingkan fans Liga Italia dan Inggris dengan takaran santai.

Misalnya gini. Juventus Club Indonesia saling ejek dengan fans Inter. Fans Juventus menyebut fans Inter kampungan karena baru juara aja kayak gitu. Lalu fans Inter membalas dengan mengejek Cristiano Ronaldo yang nggak bisa bikin gol dari tendangan bebas lagi. Nah, itu baru namanya saling lempar ejekan.

Ada juga “saling ejek” yang kampungan. Misalnya dengan memplesetkan nama klub. Juventus jadi Juventot, Milan jadi Melon, Arsenal jadi Arsendal, Chelesea jadi Chelshit, MU dan MUnyuk, dan lain sebagainya. Meskipun kampungan, tapi ujaran tersebut masih masuk ranah saling ejek.

Baca juga:  Milan Kokoh, Inter Bingung, Roma Kreatif, Juventus Menyusul, Atalanta Mengintip: The Beauty of Serie A

Beda perkara kalau sudah pakai kalimat “… di korup sama petinggi JCI wkwkw.” Menurut saya, ini bukan perkara mana fans yang lebih santai. Ini perkara tuduhan.

Oleh sebab itu, somasi Juventus Club Indonesia sudah benar. Apalagi surat ini, kan, berisi permintaan klarifikasi, atau mungkin penghadiran bukti korupsi jika @igoyprayoga ternyata punya. Tidak ada yang salah dengan aksi ini. Tidak ada rasa baper di dalamnya.

Saya rasa, tindakan Juventus Club Indonesia ini harus jadi pelajaran bagi semua fans sepak bola. Ledekan dan ejekan, atau apa pun istilahmu, memang perkara yang lumrah di sepak bola. Namun, jangan sampai menjadi tuduhan karena kamu sedang menyerang integritas orang lain.

Terlepas dari petinggi Juventus Club Indonesia korupsi atau tidak, yang namanya tuduhan memang harus dibuktikkan. Kalau hanya sebatas tuduhan dengan sumber “katanya”, ya siap-siap saja berurusan dengan hukum. Bukankah seperti itu konsekuensinya?

Fans sepak bola bukan manusia yang lepas dari hukum. Mau kamu fans Juventus, Inter, Arsenal, Manchester United, Persiwi Wonogiri, Persenga Nganjuk, atau Persibas Banyumas, semuanya ada di bawah kekuatan hukum yang disepakati di Indonesia ini.

Ini bukan perkara baper, tapi serangan kepada intergritas seseorang. Jempolmu, harimaumu.

BACA JUGA Mencintai Serie A Lewat Kejayaan Juventus dan Kejatuhan AC Milan dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  European Super League Karam! Seperti Seni Kintsugi, Indah tapi Tak Lagi Sempurna