Di negeri yang bahkan uang untuk pembangunan tugu antikorupsi pun bisa dikorupsi, segala hal yang berhubungan dengan korupsi adalah sesuatu yang sudah sangat dekat. Ia bukan hanya serupa gaya hidup, lebih dari itu, ia sudah menjadi semacam kebudayaan.

Maka, kalau sampai ada menteri yang terseret kasus korupsi, ia sejatinya bukanlah hal yang luar biasa. Semacam keniscayaan saja.

Namun, menjadi agak luar biasa ketika menteri yang tertangkap ternyata bukan hanya satu, melainkan dua, dan itu pun pencokokannya terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan saja.

Adalah Edhy Prabowo, menteri (yang sekarang sudah nggak lagi jadi menteri) Kelautan dan Perikanan yang awalnya dicokok oleh KPK karena terjerat kasus suap ekspor benih lobster.

Edhy diduga menerima setidaknya 3,4 miliar rupiah dari transaksi ekspor benih lobster dari perusahaan pengekspor.

Belum juga berita tentang dugaan suap ekspor benih lobster itu reda, menteri Jokowi yang lain, kali ini Menteri Sosial (kalau yang ini saya nggak tahu, masih menjadi menteri apa tidak) Juliari Batubara, akhirnya ikut menyusul Edhy menjadi tersangka KPK.

Juliari Batubara diduga terjerat kasus korupsi bansos Covid-19 untuk para keluarga miskin terdampak Covid-19. Juliari diduga mendapat jatah pungutan sebesar 10 ribu rupiah dari nilai bansos yang dibagikan. KPK menyebut bahwa Juliari diduga menerima setidaknya 17 miliar rupiah dari praktik pungutan bansos tersebut.

Tercokoknya dua menteri Jokowi oleh KPK dalam waktu yang hampir bersamaan tersebut tentu saja menjadi sebuah keprihatinan tersendiri.

Jokowi langsung menjelma serupa koin karambol yang diserang dari berbagai penjuru. Jokowi dianggap tidak becus dalam memilih menteri. Desakan reshuffle kabinet pun langsung meluncur deras seperti peluru yang berebutan keluar dari magasin.

Dalam kondisi yang demikian, Jokowi boleh jadi berada dalam titik pemerintahan terburuk. Hal tersebut ditambah dengan partainya, PDIP, yang juga sedang menjadi bahan pembicaraan karena dalam sepuluh hari terakhir, tiga kadernya tertangkap terciduk OTT KPK.

Sebagai orang yang selalu punya stok baik sangka yang tak pernah habis kepada Jokowi, saya meyakini bahwa apa yang sedang terjadi saat ini sejatinya memang didesain oleh Jokowi.

Saya yakin, bahwa Jokowi sebenarnya tahu bahwa Edhy dan Juliari kelak bakal terjerat kasus korupsi. Ia weruh sakdurunge winarah. Namun begitu, Jokowi tetap memilih mereka berdua sebagai menteri karena Jokowi memang ingin memberikan pelajaran yang bisa ia jadikan sebagai warisan penting kepada presiden setelah dirinya.

Jokowi ingin memberikan pesan berharga kepada presiden setelah dirinya bahwa memilih menteri haruslah yang benar-benar kompeten dan yang paling mendekai sifat “Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.”

Pemilihan Edhy (yang seorang kader Gerindra) dan Juliari (yang seorang kader PDIP) sengaja Jokowi lalukan untuk memberikan pesan bahwa mau dari partai mana pun, korupsi tetap bisa mengintai.

Pos kementerian yang dipilih oleh Jokowi untuk ditempati oleh dua orang tersebut juga sudah didesain oleh Jokowi.

Edhy mengisi pos Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang pasti erat kaitannya dengan daerah yang basah. Sementara Juliari mengisi pos Kementerian Sosial yang pasti erat kaitannya dengan daerah yang kumuh dan kering. Pemilihan pos tersebut oleh Jokowi memang sengaja didesain untuk memberikan pesan bahwa di daerah yang kering atau basah, di darat atau di laut, korupsi tetaplah menjadi momok yang yang berbahaya.

Sekali lagi, ini bukan salah Jokowi yang lalai memilih menteri, ini memang sudah didesain dengan cerdas dan sempurna oleh Jokowi.

Karena memang niatnya disengaja, maka nilai korupsi kedua menteri itu pun terbilang sedikit. Namanya juga hanya sebagai pelajaran. Tak heran jika nilai korupsi Juliari hanya 17 miliar, sedangkan Edhy malah hanya 3,5 miliar. Nilai yang tentu saja sangat kecil untuk ukuran korupsi seorang menteri.

Kalau bukan karena disengaja, pastilah nilai korupsinya jauh lebih besar.

Dari sini, sudah bisa dilihat betapa mulianya seorang Jokowi. Ia rela menjadi martir dan mengorbankan nama baik dirinya sebagai seorang presiden demi bisa memberikan pelajaran berharga kepada pemerintahan berikutnya.

Sungguh, bagi saya, Jokowi adalah tipikal seorang pemimpin yang baik. Sekali lagi, sebagai seseorang yang senantiasa berbaik sangka kepada Jokowi, saya meyakini, bahwa Jokowi adalah presiden yang kompeten, termasuk dalam memilih menteri. Nggak mungkin menteri pilihan Jokowi korupsi kalau memang nggak didesain oleh Jokowi.

Pokoknya, Jokowi adalah presiden yang luhur dan rela berkorban.

Perkara baik sangka saya terhadap Jokowi ternyata kerap salah dan meleset, itu soal lain.