MOJOK.COGanyang Malaysia dan pemutusan hubungan diplomatik dengan Indonesia adalah akar permusuhan. Akar yang sekarang sangat kuat dan sulit dibersihkan.

Bisakah kita memandang kekerasan suporter Malaysia kepada suporter Indonesia tanpa menyematkan “nasionalisme”? Tentu saja tidak bisa, kata orang kebanyakan.

Bagi kebanyakan orang itu, nasionalisme sudah seperti identitas. Melekat. Meskipun tidak menahu betul makna nasionalisme, ketika identitas kenegaraan tergores, mereka akan berteriak paling kencang. Nasionalisme menjadi sebatas hubungan satu arah saja. Tidak bisa “dengan sengaja” ditularkan. Misalnya, persatuan untuk timnas, menjadi persatuan pula ketika mendukung klub daerah masing-masing. Itu cuma dongeng.

Orang Indonesia ini pada dasarnya berada dalam area “terlalu mudah”. Mereka terlalu mudah untuk dipecah oleh isu agama, kepercayaan, warna kulit, ras, dan pilihan politik. Mereka juga terlalu mudah untuk dipersatukan, misalnya lewat sepak bola atau mengangsur link video bokep satu sama lain. Kalau sudah Bersatu, galaknya minta ampun.

Kegalakan itu pula yang melahirkan semboyan legendaris dari Bung Karno: Ganyang Malaysia. Ada baiknya kamu semua tahu sejarahnya. Saya kutipkan secara utuh dari Historia.

“Yogyakarta, 23 September 1963. Dengan suara lantang, Presiden Sukarno meneriakan seruan “ganyang Malaysia” di hadapan puluhan ribu rakyat. Teriakan itu kontan disambut secara antusias dan histeris oleh massa. Sejarah mencatat, itulah percikan awal aksi konfrontasi antara Indonesia-Malaysia mengemuka secara resmi.”

“Pertikaian kedua negara serumpun itu sendiri bermula dari penolakan Indonesia terhadap pendirian Federasi Malaysia. Dalam pandangan Indonesia, pembentukan Federasi Malaysia tak lebih sebagai salah satu bentuk persekongkolan para kolonialis dan membahayakan Indonesia yang baru saja membebaskan diri dari penjajahan.”

Lanjutannya:

“Pada 17 September 1963 Malaysia memutuskan hubungan diplomatiknya karena merasa tak terima dengan penolakan keras Indonsia. Tak mau kalah, Indonesia pun menghentikan hubungan dagang dengan Malaysia pada 23 September 1963. Dari pidato Sukarno di Yogyakarta, ia menegaskan keinginannya untuk menghancurkan Federasi Malaysia.”

Baca juga:  Lupakan Sepakbola, Olahraga yang Dibutuhkan Indonesia adalah Tinju

“Pada 24 Desember 1963 Sukarno mengenalkan dua slogan baru dalam rangka mengganyang proyek neo-kolonialisme Malaysia. Rosihan Anwar menulis dalam bukunya Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961-1965 dua slogan baru Sukarno, yakni “Maju Terus Jangan Mundur” dan “Ini dadaku, mana dadamu?”.”

Mohon maaf kepada Historia karena saya mengutip utuh empat paragraf di atas. Saya merasa empat paragraf di atas sangat penting untuk memahami akar konflik antara negara satu rumpun ini. Inilah yang disebut oleh Maulana Sidiq, penulis Fandom.id, sebagai atribusi sosial.

Atribusi sosial adalah salah satu teori ilmu psikologi. Atribusi sosial mempelajari proses untuk memahami penyebab perilaku orang lain maupun perilaku kita sendiri. Dari hal tersebut, kemudian kita bisa mengerti tentang trait-trait menetap dan disposisinya.

Ketika suporter Malaysia terkurung di GBK, mereka merasa sangat terzalimi. Orang Indonesia dianggap kejam. Sampai-sampai Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq, menuntut permohonan maaf dari kita. Tanpa menunggu lama, Menpora saat itu, Imam Nahrawi ketemu langsung dengan Syed Saddiq untuk “permintaan maaf”.

Waktu berjalan, November datang. Kali ini giliran suporter Indonesia dari SPARTACKS (suporter Semen Padang) yang dizalimi, dipukuli dan dimaki-maki. Berikut kronologinya:

Media sosial bergolak. Istilah Ganyang Malaysia menjadi trending topic bersanding dengan Shame On You Saddiq. Apa pasal?

Syed Saddiq, orang yang menuntut permintaan maaf itu, justru alpa untuk meminta maaf ketika bocah-bocahnya menganiaya suporter Indonesia. Dengan “sangat bijaksana” Saddiq ngomgong kalau dia yang dianiaya hendaknya melapor ke polisi. Hukum pasti ditegakkan. Sebagai orang Melayu, hukum seperti itu bisa dianggap nomor dua.

Baca juga:  Nasib Bangsa Ini di Tangan Dian Sastro

Apa yang nomor satu? Niat untuk meminta maaf. Saya sedih ketika Saddiq tidak memahami kultur Melayu yang (harusnya) mendahulukan menyelesaikan masalah secara baik-baik. Hukum harus berjalan, tetapi identitas sebagai orang Melayu tidak boleh ditanggalkan. Seperti nasionalisme, identitas positif dari orang Melayu tidak boleh hilang.

“Apakah memang begitu kultur oleh Malaysia? Tidak mau minta maaf ketika bersalah?” Ini jenis pemikiran yang tidak baik, tetapi saya yakin penuh pasti muncul di tengah-tengah kalian. Sulit menyalahkan orang yang berpikir demikian karena tidak ada pendingin situasi dari “pihak lawan”.

Malaysia dan Indonesia pernah dan masih saling membenci. Istilah Ganyang Malaysia itu sangat keras, pun dengan sikap mereka untuk memutus hubungan diplomatik. Kebencian masa lalu yang menjadi atribusi sosial ini bakal sangat sulit untuk diredam, apalagi dihilangkan. Oleh sebab itu, dengan kesadaran penuh, hendaknya niat mendinginkan situasi itu menjadi jalan utama.

Saya mengapresiasi penuh suporter dari SPARTACKS yang tidak menaruh dendam. Memaafkan itu sangat perlu, meskipun jangan pernah kita melupakan peristiwa tidak enak itu. Golak nasionalisme harus terus dipelihara.

Pada titik ini, saya lantas bermimpi. Jangan-jangan, dongeng nasionalisme timnas Indonesia itu bisa ditularkan kepada suporter klub lokal? Saya menjadi yakin jalan perdamaian itu pasti ada. Hanya belum ketemu saja bagaimana enaknya. Yang pasti, jalan perdamaian, mau antar-suporter lokal atau Indonesia-Malaysia, pasti panjang dan berdarah-darah.

Selain menjadi pengingat, peristiwa pemukulan suporter Malaysia kepada Indonesia menjadi titik renungan. Sekali lagi, kekerasan tidak menghasilkan buah yang manis. Kekerasan melahirkan dendam dan kesakitan yang teramat sangat di masa depan.

BACA JUGA Wejangan Abdul Somad dan Cak Nun Obat Mujarab Untuk Perdamaian Suporter atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.