MOJOK.COChelsea impulsif ketika membeli pemain yang sebenarnya tidak dibutuhkan, sedangkan Liverpool sangat dewasa ketika membeli Thiago.

Tertanggal 15 September 2020, sebuah artikel sepak bola naik di Mojok. Judulnya begini: “Kai Havertz dan Seikat Benang Chelsea yang Kusut”. Siapa yang menulis artikel tersebut? Ya saya sendiri. Bukan Kai Havertz yang sebetulnya saya soroti, tetapi Chelsea. Saking kusutnya, mereka tidak punya solusi untuk beragam cara Liverpool membuat peluang.

Silakan berkunjung ke kolom komentar artikel tersebut. Sungguh “berwarna”. Fais Bisma, salah satunya, bilang begini: “Komentar kepagian,,,,,baru bangun bro ya,,,,,,,,statistik di awal tdk menentukan hasil akhirr bosss,,,,,,jelek di awalll tp hasil selanjutnya semakin baik,,,,,,mau tau klub di awal menjanjikan tp kemudian kedodoran ya itu gudang peluru.” Saya kutip apa adanya.

Iya, Arsenal memang kedodoran ketika melawan West Ham United. Namun, akhirnya tetap menang. Pada akhirnya, orang banyak hanya akan mencatat kemenangan itu dan melupakan prosesnya. Terdengar kejam, tapi begitulah dunia sepak bola. Terkadang, proses itu tidak mendapat apresiasi karena hasil instan selalu yang ditunggu.

Lalu ada lagi komentator bernama Yulianto Sumarto. Dia bilang begini, “Baru main sekali dan berlatih bersama selama 4 hari… Ni orang udah ngomong ngalor ngidul… Wkwkwkwkkwkwkkw. Lampard lbh pinter dari anda, asbun,,, kacangkoro.” Lagi-lagi, saya kutip apa adanya.

Saya nggak tahu apakah Yulianto sedang ingin ngemil. Dia mencantumkan “kacangkoro” di komentarnya. Iya, benar, nonton bola memang paling enak sambil minum kopi dan ditemani camilan. Sepak bola memang kejam, Mas Yulianto. Terkadang orang nggak mau melihat proses adaptasi sebagai bagian alami dari bergabungnya pemain baru.

Baca juga:  Thiago oder Nichts: Liverpool ‘Membangun’ Kanal di Lini Tengah

Chelsea dan Kai Havertz seperti benang-benang kusut yang belum tidak bisa saling terajut. Cara bermain yang tidak mendukung, komposisi skuat yang apa adanya, dan Frank Lampard seperti bingung harus bagaimana dengan pemain barunya.

Kejamnya sepak bola terlihat ketika Chelsea dikalahkan Liverpool. Banyak yang bilang kalau Thiago cuma butuh satu menit untuk beradaptasi dengan Liverpool. Sudah berapa hari Thiago bergabung? Kalau tidak salah, tidak lebih dari satu minggu. Tidak terlalu beda dengan Havertz dan Chelsea, bukan?

Orang-orang memang terlalu kejam ketika membandingkan kemampuan Jurgen Klopp dan Frank Lampard. Membandingkan yang tidak sebanding itu tidak layak dilakukan.

Seharusnya, Lampard dibandingkan dengan Ole Gunnar Solskjaer. Dua pelatih yang sama-sama bingung. Eh tapi, pemain baru Manchester United, Donny van de Beek bikin gol ketika kalah dari Crystal Palace. Lampard lebih payah ketimbang Ole, dong? Silakan fans Chelsea adu bacot sama fans United. Saya wasit saja.

Sejak awal, saya tidak pernah punya masalah dengan kualitas Kai Havertz. Narasinya bisa sangat berbeda, kok, ketika umpan tarik Havertz bisa dijadikan gol oleh Timo Werner di babak pertama Chelsea vs Liverpool. Namun, untuk sekian kali saya tegaskan, sepak bola bisa sangat kejam ketika membandingkan dua hal yang tidak sebanding.

Thiago, masuk di babak kedua menggantikan Jordan Henderson. Hanya butuh setengah babak, Thiago menjadi pemain dengan rata-rata umpan sukses paling tinggi. Tahukah kamu, yang dicatat oleh media cuma pujian itu. Banyak media yang tidak mencatat fakta bahwa Chelsea bermain dengan 10 pemain sejak akhir babak pertama.

Kekalahan dari Liverpool ini tidak lain adalah sebuah penegasan. Chelsea boleh menang ketika melawan Brighton di laga pembuka Liga Inggris 2020/2021. Namun, buruknya cara bermain mereka tidak dihukum oleh Brighton. Ketika bertemu lawan yang lebih superior, kusutnya Chelsea dan Lampard baru terlihat dengan jelas.

Baca juga:  Manchester United Sewajarnya Menang dan Chelsea yang Kebingungan

Kali ini, saya tidak ingin membuat analisis pertandingan. Saya hanya ingin mengingatkan. Banyak fans Chelsea berkilah kalau masih banyak pemain baru yang belum bergabung. Masih ada Hakim Ziyech, Ben Chilwell, dan Thiago Silva. Namun, jika melihat cara bermain saat ini, “merajut” pemain baru ke dalam skuat justru menjadi pekerjaan yang lebih berat.

Saya menegaskannya di dalam tulisan yang tayang 15 September 2020. Bahwa skuat Chelsea, baik dari sisi performa dan kebugaran sudah jelek sejak musim lalu. Memang, ini tugas pelatih untuk mengubah. Waktu yang dibutuhkan juga bisa sangat panjang mengingat banyaknya pemain baru. Ingat, Lampard bukan Jose Mourinho, yang mampu menyatukan banyak pemain baru dalam waktu singkat pada musim 2004/2005.

Kritik bisa menjadi makanan sehari-hari fans The Blues. Kesal dengan kritikan memang manusiawi. Namun, setidaknya, lihat ke dalam skuat kalian sendiri. Masalah yang ada sangat besar. Sekali lagi, sikapi kritik secara manusiawi, ya. Jangan bawa-bawa “kacangkoro”. Salah satu jenis kacang ini tidak punya dosa.

Akhir kata, pujian harus diletakkan ke tempat yang seharusnya. Liverpool menunjukkan kedewasaan cara bermain di tengah keterbatasan bek tengah. Liverpool juga menunjukkan kepada Chelsea cara membeli pemain yang tepat guna. Dalam hal ini, Thiago, bukan impulsif membeli yang sebetulnya tidak dibutuhkan macam Kai Havertz.

BACA JUGA Thiago oder Nichts: Liverpool ‘Membangun’ Kanal di Lini Tengah dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.