MOJOK.COThiago seperti kanal di lapangan tengah. Menyambungkan dua lini, sekaligus memberi opsi tambahan. Opsi yang selama ini tidak tersedia untuk Liverpool.

Pep Guardiola mau menerima pekerjaan melatih Bayern Munchen dengan satu syarat. Mantan pelatih Barcelona itu bilang, “Thiago oder nichts!” Artinya, Thiago atau tidak sama sekali. Bayern harus membeli Thiago dari Barcelona untuk keperluan taktik Guardiola. Seharusnya saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Ketika pemain diinginkan Guardiola, kualitasnya jangan diragukan.

Ketika masa pengabdiannya bersama Bayern menuju penghabisan, Jurgen Klopp paham bahwa Thiago harus menjadi milik Liverpool. Jika saya tidak salah catat, sejak awal 2020, Klopp sudah menjalin kontak dengan pemain asal Spanyol itu. Pada Juni 2020, sebuah janji terucap. Thiago akan bergabung di musim panas.

Harga yang diminta Bayern “cuma” 30 juta euro. Murah sekali untuk kualitas di dalam diri Thiago. Sayang, Liverpool tidak bisa membeli begitu saja karena keuangan mereka terdampak pandemi corona. Untungnya, di September 2020, dana yang dibutuhkan sudah tersedia. Tidak lama lagi, Klopp akan mendapatkan satu missing link dari lini tengah yang dirancang.

Bagi Liverpool, membeli Thiago ibarat “membangun kanal” di lini tengah. Di atas kertas, lini tengah The Reds sudah sangat bagus. Tentu saja kata “bagus” di sini disesuaikan dengan cara bermain mereka selama ini. Pressing intensitas tinggi, kemampuan memindahkan bola dengan cepat ke sisi lapangan, dan kekuatan merebut kembali penguasaan. Lini tengah Liverpool sudah baik sekali.

Namun, di sepak bola, situasi sempurna tidak terjadi setiap waktu. Ada masanya ketika lini tengah Liverpool kehilangan kreativitas, dua bek sayap yang menjadi sumbu serangan tidak berkembang, dan tiga pemain di depan kehilangan momentum. Ketika rencana A tidak berjalan, Klopp membutuhkan rencana B.

Liverpool membutuhkan pemain yang bisa menjadi core di lapangan tengah. Pemain dengan kualitas mendistribusikan bola di area-area sempit. Pemain dengan kemampuan breaking the line dengan satu gerakan dari lapangan tengah. Pemain yang sangat dominan di setiap transisi pertandingan. Kriteria ketiga ini adalah yang paling penting dan Thiago memenuhi semua syarat.

Baca juga:  Chelsea vs Arsenal: Alasan Torreira, Guendouzi, dan Ramsey Harus Bermain Bersama

Thiago, monster transisi

Segmen sebuah pertandingan, secara garis besar, dibagi menjadi dua, yaitu menyerang dan bertahan. Di antara dua segmen tersebut, ada satu momen yang sebetulnya lebih penting, yaitu transisi, yaitu transisi menyerang dan bertahan. Kenapa penting? Karena di momen transisi, struktur sebuah tim belum sempurna. Transisi ini terjadi secara konstan dan kontinu. Saling berkaitan.

Menyerang momen transisi ini sudah menjadi cara bermain Liverpool selama ini. Ketika kehilangan bola, para pemain Liverpool langsung menekan lawan untuk merebut kembali (counterpress). Cara bermain seperti ini kita kenal dengan nama gegenpressing. Thiago adalah seorang master dalam momen transisi ini.

Saya yakin, kebanyakan orang lebih akrab dengan kualitas umpan dan teknik menggiring bola Thiago. Terima kasih kepada YouTube di mana kompilasi permainan Thiago lebih banyak soal membuat asis dan melewati lawan. Namun, Thiago disebut monster bukan karena dua kelebihan itu saja. Atribut paling berbahaya dari pemain berusia 29 tahun ini adalah kecerdasannya membaca pertandingan.

Sebagai gelandang dengan postur mungil, dia tidak bisa mendasarkan permainannya kepada kontak fisik. Thiago diberkahi dengan kelebihan membaca pertandingan.

Kemampuan ini mengizinkan Thiago melakukan aksi-aksi krusial ketika transisi bertahan terjadi. Pertama, menutup ruang ideal yang seharusnya dimanfaatkan lawan untuk mengumpan. Kedua, memotong umpan lawan di waktu dan tempat yang pas. Ketiga, merebut bola dengan cara paling mudah tanpa membuat pelanggaran.

Pernah di sebuah pertandingan, Thiago hanya mencatatkan satu intersep (memotong umpan lawan). Oleh banyak pencatat statistik, dia diberi nilai jelek di kontribusi bertahan. Padahal, satu aksi intersep yang dia lakukan bernilai sangat besar. Satu intersep yang dilakukan mencegah lawan membuat peluang emas. Jika gol terjadi, lawan akan menemukan “angin kedua” dan Bayern bisa kesulitan.

Baca juga:  Real Madrid Kolektif dan Tujuan Team Bonding yang Dilakukan Arsenal

Detail kecil seperti ini sering luput dari pengamatan. Seperti menihilkan kontribusi bertahan Thiago yang tidak main-main. Aksi di atas juga sering terlihat di semifinal dan final Liga Champions musim lalu. Berduet dengan Leon Goretzka di lini tengah, Thiago lebih banyak berposisi lebih dalam. Posisi ini menuntutnya untuk pandai melindungi bek. Harus bergerak dengan perhitungan matang supaya posisi itu tidak terekspose.

Apa yang terjadi ketika Thiago mendominasi transisi bertahan? Tentu saja transisi menyerang bisa dilakukan lebih cepat ketika pertahanan lawan sedang tidak terkoordinasi dengan baik. Jika aksi ini dilakukan di dekat kotak penalti lawan, Liverpool akan mendapat keuntungan. Apalagi, selama ini, tiga pemain di depan (Firmino, Mane, dan Salah) sendiri adalah monster transisi dengan kecepatan dan kombinasi pergerakan.

Solusi untuk lapangan tengah Liverpool

Musim lalu, Klopp sudah beradaptasi dengan berbagai masalah. Salah satunya ketika pressing intensitas tinggi yang bisa terlihat tidak berfungsi. Liverpool bisa dengan leluasa berubah menjadi possession-based team. Namun, kesulitan terjadi karena para gelandang Liverpool tidak begitu cocok dengan cara bermain ini.

Penguasaan bola memang tinggi, tetapi terkadang tidak efektif. Makin sulit ketika dua bek sayap Liverpool bisa diredam lawan. Opsi masuk ke kotak penalti menjadi begitu terbatas. Keberadaan Thiago adalah solusi untuk situasi seperti ini.

Thiago bisa mengubah penguasaan bola menjadi lebih efektif. Misalnya dengan lebih banyak melakukan umpan progresif (umpan vertikal ke wilayah lawan). Ketimbang saya terlalu panjang menjelaskan, silakan cermati video di bawah ini:

Intinya adalah, ketika lebih banyak opsi tersedia, Liverpool bisa bermain dengan lebih nyaman. Hanya dengan satu pemain saja, The Reds bisa leluasa mengubah cara bermain menyesuaikan pertandingan. Thiago seperti kanal di lapangan tengah. Menyambungkan dua lini, sekaligus memberi opsi tambahan. Opsi yang selama ini tidak tersedia untuk Liverpool.

BACA JUGA Liverpool Menjadi Entitas Terbaik Bersama Jurgen Klopp atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.