MOJOK.COLewat berbagai masa pendewasaan dan tumpukan kekecewaan, Liverpool, sepenuhnya menjadi entitas terbaik bersama Jurgen Klopp.

Setelah 30 tahun, melewati 3 dekade, dan juara liga nomor 3 untuk Jurgen Klopp, akhirnya Liverpool menyandang kembali status terbaik: juara Liga Inggris. Angka 3 juga mewakili entitas terbaik bernama Liverpool, yaitu fokus, konsistensi, dan determinasi. Selamat, Reds, musim ini milik kalian.

Tidak ada kata selain “layak” untuk Liverpool musim ini. Mereka menjadi juara paling cepat dalam sejarah Liga Inggris. Unggul lebih dari 20 poin dari peringkat kedua, Manchester City, seharusnya The Reds sudah memastikan status juara sejak jauh hari jika tidak ada pandemi corona yang melanda dunia.

Sebuah fenomena yang sempat melahirkan ketidakjelasan dan menipiskan harapan bagi Liverpool untuk memutus puasa gelar selama 30 tahun. Ketika pandemi corona terlihat tidak bisa diatasi, kompetisi Liga Inggris diwacanakan akan dibatalkan, null and void. Jika keputusan itu yang diambil, saya rasa fans Liverpool akan menjadi fans paling menderita di muka bumi.

Mereka akan menjadi bahan perundungan paling empuk sepanjang sejarah. Bukan status juara, tetapi “hampir juara”. Ledekan yang sudah sering mendarat di telinga mereka selama beberapa tahun terakhir. Setelah berbagai drama itu, setelah berbagai ketidakpastian, mereka memang layak untuk menjadi yang terbaik.

Fokus, pujian Guardiola untuk Liverpool

Setelah City kalah dari Chelsea, Pep Guardiola mengucapkan selamat kepada skuat Liverpool. Di mata Pep, The Reds memang sangat fokus di setiap pertandingan. Sebuah kondisi yang membuat mereka hampir bisa memenangi semua pertandingan di Liga Inggris musim ini. Sebuah kondisi yang hampir saja membuat skuat The Reds musim ini menjadi abadi menyandang status invincible menemani Arsenal.

Juara Liga Champions satu tahun sebelumnya, sebut Pep, menjadi salah satu faktor pembangun kondisi fokus skuat asuhan Jurgen Klopp itu. Artinya, skuat asuhan Klopp sudah tahu caranya untuk menjadi juara. Pengalaman menjadi juara membuat pemain sudah tahu “harus bagaimana” ketika terjebak di sebuah pertandingan yang berat.

Virgil van Dijk bicara soal konsistensi

“Tahun ini, terutama di Liga Inggris, kami berada di level yang berbeda. Semua orang boleh menyuarakan pendapatnya, tapi kami memang sangat konsisten musim ini.”

Terkadang, resep menjadi juara itu bisa diperas menjadi dua aspek saja, yaitu kerja keras dan konsisten. Entah tim yang kamu bela bermain sepak bola indah atau memilih lebih pragmatis, ujungnya adalah konsisten. Sejarah sudah memberi bukti, cara bermain saja tidak menentukan nasib juara. Semuanya kembali ke seberapa konsisten dirimu.

Sosok Liverpool diterjemahkan dengan baik oleh Virgil van Dijk. Dia yang bergabung di musim dingin, langsung bisa beradaptasi dengan Jurgen Klopp dan skuat Liverpool. Pemain dan pelatih menjadi satu entitas saja dengan pemahaman yang sama, yaitu untuk menang kamu harus melakukannya bersama-sama.

Ikatan dan berbagai kekecewaan yang menumpuk itu menjadi bahan bakar bagi skuat The Reds dan melahirkan konsistensi. Mereka belajar kalau kehilangan ritme dalam sebuah momen berarti kegagalan di akhir musim. Sebuah tim yang paling sulit dikalahkan adalah mereka yang konsiten. Itu fakta.

Baca juga:  Bukayo Saka dan Resonansi Awal Karier Bellerin di Arsenal

Jurgen Klopp dan determinasi

Kata terakhir untuk menggenapi status juara Liverpool adalah determinasi. Dan satu kata ini, bisa diterjemahkan ke dalam banyak aspek yang disempurnakan oleh The Reds.

Determinasi terlihat di atas lapangan. Terutama ketika Liverpool harus berjuang sampai detik terakhir untuk mengakhir sebuah pertandingan dengan kemenangan. Namun, determinasi paling paripurna terlihat di balik layar.

Jurgen Klopp, saya rasa, tahu betul kalau cara bermainnya yang dinarasikan dengan “heavy metal” itu tidak akan sukses di Liga Inggris. Perlahan, seiring waktu, pelatih asal Jerman itu mengubah pendekatan menjadi cara bermain yang bisa dinarasikan menjadi “rock ballad”. Terkontrol, terencana.

Liverpool belajar banyak hal baru dan berhasil ditambahkan ke cara bermain mereka. Dari gegenpress yang menguras energi, menjadi possession football ketika dibutuhkan. Dari skema pakem 4-3-3 berkembang lebih fleksibel menjadi 4-2-3-1 atau 4-4-2. Semuanya adalah wujud determinasi untuk sukses. Determinasi untuk terus belajar.

“Kami berhasil menjadi juara bersama-sama. Atmosfer di dalam dan luar klub sangat membantu. Level intensitas, bahkan semua orang di sini menghidupi sepak bola. Adalah para pemain yang datang yang berjasa. Kami bisa memenanginya bersama-sama. Bermain di Liga Inggris itu sangat sulit. Bisa menjadi juara di kompetisi ini hanya jika kamu konsisten.”

Kata “konsisten” muncul lagi. Memang, konsistensi akan selalu mengiringi determinasi. Lewat kalimat Jurgen Klopp kita juga tahu kalau semua entitas di Liverpool berhasil melebur menjadi satu. Manajemen, pelatih, staf, pemain, dan fans. Semuanya menjadi satu. Terutama manajemen dan pelatih yang punya satu rasa.

Manajemen dan pelatih punya determinasi yang sama, untuk menjadi yang terbaik. Keduanya saling percaya dan tidak melangkahi kewenangan masing-masing. Sisi teknis adalah wewenang Jurgen Klopp dan ranah itu tidak dijamah oleh manajemen. Ada berapa klub gagal yang manajemen dan pelatihnya tidak bisa menjadi satu entitas? Musim ini ada banyak.

Jurgen Klopp tahu betul cara mengasihi Liverpool. Ia menunjukkanya lewat cara memimpin. Lima pokok seorang pemimpin ia pegang betul demi meladeni proses pendewasaan yang berulang-ulang ini.

Pertama, Jurgen Klopp menginjeksikan rasa percaya diri. Manusia menguasai sebuah bidang, tapi tidak untuk bidang lain. Ia boleh andal untuk satu hal, tapi harus bisa membiarkan orang lain menuntunnya untuk hal lain. Tanpa kepercayaan diri yang besar, manusia akan minder ketika ia diberi arahan oleh orang yang lebih ahli. Padahal, dirinya tidak menguasai bidang yang dimaksud.

“Itulah wujud kepemimpinan. Kamu dikelilingi orang-orang pintar dengan pengetahuan yang lebih baik ketimbang dirimu. Kami tidak boleh bertingkah tahu semua hal dan kamu harus selalu siap untuk mengakui bahwa kamu tidak tahu akan sesuatu.”

Liverpool hidup dalam konteks kepemimpinan itu. Sebagai sebuah jaringan, para pemain menyokong pemain lain dengan kemampuannya. Masing-masing punya andil, punya peran, untuk menyusun sebuah tim menjadi satu kesatuan.

Kedua, kesederhanaan. Jurgen Klopp adalah pelatih yang “terlihat santai”. Ia tidak akan memaksa pemain baru Liverpool untuk langsung tahu semuanya. Ia memberi mereka kebebasan “untuk bermain”, baru kemudian secara perlahan, dituntun dengan informasi.

Baca juga:  Hari Tenang, Liverpool dan Mohamed Salah Menyatukan Pendukung Jokowi dan Prabowo

Lewat cara pendekatan sederhana itu, pemain tidak menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya. Mereka yang bermain di atas lapangan. Tanpa kebebasan, para pemain justru tidak berkembang. Para pemain berpikir secara bebas di atas lapangan. Namun, mereka tetap bisa memahami ide dari pelatih. Ingat, sesuatu yang dipaksa itu nggak enak.

Ketiga, energi. Setiap gol Liverpool adalah perayaan untuk Jurgen Klopp. Mengapa ia selalu menunjukkan energi sebesar itu?

“Ada dua alasan mengapa saya begitu penuh semangat di sisi lapangan. Pertama, itu memang karakter saya, meskipun saat ini saya lebih kalem ketimbang dulu. Kedua, saya ini seperti energi cadangan untuk para pemain.”

Liverpool bermain dengan intensitas tinggi hampir di setiap pertandingan. Ada kalanya pemain kehabisan energi dan kehilangan konsentrasi. Saat itu terjadi, pelatih asal Jerman itu akan selalu ada untuk “menendang bokong” setiap pemain, memberi lecutan semangan untuk berlari sekali lagi.

Keempat, membina hubungan yang sehat.

“Sebagai sebuah tim sepak bola, kami harus bekerja dengan kedekatan yang terjaga. Setiap pemain tahu nama dari setiap pegawai di Melwood. Bukan hanya saya yang harus bisa membangun atmosfer positif, tapi setiap dari kami punya tanggung jawab yang sama. Kami menang bersama-sama.”

Hubungan yang sehat itu terlihat di atas lapangan. Trio Sadio Mane, Mo Salah, dan Roberto Firmino punya hubungan telepatik. Dua bek sayap, Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson paham dengan kebiasaan masing-masing. Keduanya tahu kapan harus bertahan untuk membiarkan sisi lain menyerang, dan demikian juga sebaliknya.

“Para pemain mau berpuasa tentu boleh saja. Saya menghormati agama mereka. Toh mereka tetap bisa bermain luar biasa, terlepas dari mereka puasa atau tidak. Ada masanya ketika Mane atau Salah datang terlambat karena mereka harus salat dulu. Ada banyak hal yang lebih penting ketimbang sepak bola.”

Menghormati agama orang itu lain itu (seharusnya) urusan sepele. Nah, memahami orang lain sebagai manusia dengan segala konsep hidupnya, adalah puncak dari kedewasaan seseorang. Kamu sudah bisa begitu?

Kelima, memimpin dengan memberi contoh.

Pesepak bola adalah kumpulan orang dewasa. Dan dewasa itu, bukan perkara soal usia. Dewasa adalah tahu tanggung jawab dan menghargai keberadaan orang lain.

Sebagai pemimpin, Jurgen Klopp tidak butuh “cambuk” untuk menggerakkan para pemain. “Sebagai pemimpin, kamu tidak harus menjadi yang datang pertama dan pulang paling akhir. Namun, kamu harus bisa memberi contoh.”

“Saya akan selalu berusaha untuk sukses. Saya hidup 100 persen untuk para pemain, bersama para pemain, melakukan yang kami bisa untuk klub. Ini bukan filosofi. Ini adalah cara hidup!”

Lewat berbagai masa pendewasaan dan tumpukan kekecewaan, Liverpool, sepenuhnya menjadi entitas terbaik bersama Jurgen Klopp. Ini adalah resep untuk menjadi juara. Selamat, Liverpool. Juara itu enak sekali rasanya. Terutama gelar juara yang datang setelah melewati penderitaan dan masa pendewasaan. Selamat, YNWA.

BACA JUGA Heavy Metal ke Rock Ballad: Jurgen Klopp dan Pupur Liverpool atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.