MOJOK.COJose Mourinho terlalu banyak berdalih, berteriak ke egonya sendiri, ketika Mikel Arteta mengajarinya cara menularkan komitmen kepada pemain Arsenal.

November 2019, ketika Unai Emery sudah tidak punya masa depan bersama Arsenal, ada dua nama pelatih terdepan untuk menjadi pengganti. Dua nama yang dimaksud adalah Jose Mourinho dan Mikel Arteta. September 2020, fans Arsenal pasti sangat bersyukur manajemen masih waras dengan memilih Arteta ketimbang Mourinho.

Kegagalan ini adalah yang kedua bagi Mourinho ketika namanya dinominasikan menjadi pelatih klub besar. Kegagalan pertama terjadi beberapa tahun silam, ketika manajemen Barcelona tengah bimbang memilih dirinya atau Pep Guardiola. Sesi presentasi dan wawancara menjadi penentu.

Ketika presentasi di depan petinggi Barcelona, Mourinho menjelaskan visi dan misinya dengan sangat baik. Namun, pada akhirnya, Guardiola yang mendapat kehormatan itu dan sisanya adalah sejarah gemilang. Mourinho gagal mendapatkan pekerjaan sebagai pelatih Barcelona bukan karena kualitas, tetapi egonya.

Ketika menjelaskan visi dan misi, Mourinho banyak menggunakan kata “aku”. Seakan-akan dirinya adalah pusat semesta dan Barca hanya salah satu planet yang mengorbit mengelilinginya. Sementara itu, Guardiola menggunakan kata “kita”. Menunjukkan bahwa Barca adalah “rumah” yang ingin dia perjuangkan bersama-sama.

Mungkin terdengar lucu, ketika diksi menjadi penentu. Namun, dari pemilihan kata itu, kita bisa melihat citra terdalam dari seorang manusia. Ego yang menonjol menjadi gambaran Mourinho kemudian. Puncaknya adalah ketika dia menjuluki dirinya sendiri dengan istilah The Special One. Ego, pada titik tertentu dibutuhkan di dunia yang keras ini. Namun, keakuan yang sundul langit akan menjadi racun.

Mourinho kehilangan kemampuan memotivasi

Ego yang sundul langit itu pasti terlihat ketika situasi tidak menyenangkan datang. Ketika Tottenham Hotspur kalah dari Everton di laga pembuka Liga Inggris musim 2020/2021, Mourinho, secara terbuka, menyerang para pemainnya. Dia menggunakan istilah “saya tidak suka dengan tim saya” dan “mereka itu pemalas”. Lidah yang begitu tajam.

Terapi kejut terkadang dibutuhkan para pemain. Namun, ada masanya ketika pemain lebih butuh dipeluk dan diajak bicara dari hati ke hati ketimbang “diserang” secara terbuka lewat media. Ada perbedaan nyata antara sifat pemain zaman sekarang dengan pesepak bola 10 tahun yang lalu.

Baca juga:  Arsenal Dibantai Liverpool Itu Keniscayaan, Kok Kamu Masih Marah-Marah

Selain Mourinho, Pep Guardiola pun pernah melakukan terapi kejut. Di sebuah wawancara, Guardiola menyebut beberapa pemain zaman sekarang itu seperti anak kecil, terutama ketika tidak mendapat jatah bermain. Sangat kontras dengan 10 atau 15 tahun yang lalu ketika lebih banyak pemain yang bisa menunjukkan sikap profesional dan totalitas.

Perubahan zaman, termasuk di dalamnya gaji dan gaya hidup menjadi penyebab. Oleh sebab itu, pelatih harus pandai mencari celah masuk ke hati pemain. Ketika Mourinho gagal, Mikel Arteta berhasil melakukannya bersama Arsenal. Salah satu pemain yang menyuarakan perubahan itu adalah Mo Elneny selepas Arsenal mengalahkan Fulham.

Ketika ditanya soal perubahan di dalam Arsenal setelah kedatangan Arteta, Mo Elneny menjelaskan seperti ini. “Kini kami lebih agresif. Semua orang ingin memberikan usaha 100 persen. Kami kehilangan unsur ini. Namun kini, kita bisa melihatnya, bahkan kitman pun memberikan usaha 100 persen.”

Fans Arsenal tahu sekali kualitas dan konsistensi Mo Elneny. Banyak yang merasa aneh, bahkan khawatir ketika pemain asal Mesir itu bermain. Namun, “pelukan” dari Arteta menghapus semua keraguan di dalam diri Mo Elneny. “Arteta selalu bilang kalau dia membutuhkan saya di tim ini. Dia selalu memberi feedback dan memacu saya supaya bisa mengeluarkan kemampuan terbaik. Saya harus berterima kasih kepada Arteta.”

Mundur ke beberapa bulan sebelumnya, ketika Arsenal sedang tidak berada dalam kondisi terbaik, ditambah Ainsley Maitland-Niles tengah “merajuk”. Ateta tidak bergeming dengan tuntutan Ainsley, yang ingin dimainkan di lapangan tengah lebih sering. Pelatih asal Spanyol ini menegaskan bahwa memang ingin bermain, semua pemain harus menunjukkan komitmen terbaik. Syarat ini tidak bisa ditawar.

Ada kritik, ada pula solusi. Ketika Ainsley mau mencoba, Arteta memberinya kesempatan. Meskipun tidak bermain di lapangan tengah, Ainsley sadar kalau dirinya berkembang berkat komitmen dan bimbingan Arteta. Mereka yang tidak mau “patuh” dengan syarat, tidak akan mendapat menit bermain. Dari sana, pemain sadar harus bekerja keras demi tim, bukan pelatih saja.

Baca juga:  Kenapa Mbappe Mengingatkan Saya Kepada Ronaldo Luiz Nazario de Lima?

Mourinho gagal di poin ini ketika menyebut pemainnya malas. Ada dua sebab. Pertama, secara fisik, pemain Spurs seharusnya tidak jauh berbeda dengan tim lain. Bahkan mereka punya waktu lebih untuk menyiapkan tim. Arsenal, misalnya, hanya punya dua hari efektif untuk berlatih. Bahkan Gabriel Magalhaes, pemain baru Arsenal yang sudah enam bulan tidak menendang bola pun terlihat bugar. Alibi yang diteriakkan Mourinho mentah sekali.

Alasan kedua, pemain zaman sekarang tidak bisa dipacu hanya dengan kritikan. Harry Kane dan Son Heung-Min bukan Marco Materazzi dan Didier Drogba yang “siap mati” untuk Mourinho. Mungkin Guardiola ada benarnya. Pemain zaman sekarang lebih kekanak-kanakan, tidak bisa cepat dewasa.

Kalau Mou menuntut para pemain Spurs untuk “siap mati” demi tim, apakah dirinya bisa menunjukkan totalitas yang sama? Kegagalannya melindungi pemain (dan dirinya sendiri) selalu berbuah menjadi “kutukan tahun ketiga”. Ketika dirinya kehilangan kontrol atas ruang ganti, para pemain memberontak, untuk kemudian pemecatan terjadi.

Rekam jejak dan kutukan ini terulang terus-menerus. Saya tidak tahu alasannya. Mungkin, lidah yang tajam itu perlu digerinda supaya lebih halus. Supaya tidak ada orang yang tersakiti dan menjatuhkan kutukan ke kariernya. Klenik di sepak bola, percaya atau tidak, terjadi juga.

Namun, alasan intensitas bermain yang dilempar Mourinho jelas salah sasaran. Dirinya yang gagal menularkan komitmen selama masa persiapan. Ketika tim lain, bukan hanya Arsenal dan Arteta, tetapi juga Leeds United dan Leicester City, bisa menunjukkan komitmen yang sama.

Tidak akan menjadi kejutan ketika di tengah musim ini Mourinho dipecat. Jika pemecatan itu terjadi, mari kita nikmati rengekan dan kalimat-kalimat satire dari lidahnya yang perlu digerinda supaya halus itu.

BACA JUGA Mikel Arteta dalam Pusaran Penolakan Fans Arsenal pada Jose Mourinho atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.