MOJOK.COBonek Writer Forum menularkan keberanian lewat Tolak Bala Sepak Bola. Sebuah pengingat akan bencana, bukan untuk ditangisi, tetapi dijadikan pelajaran penting di hidup ini.

Fandom.id mengingatkan kita kalau sepak bola tak pernah selesai meski 90 menit berlalu. Pada titik tertentu, sepak bola berlanjut, bersalin muka menjadi sebuah kehidupan. Dan seperti layaknya kehidupan, di dalamnya terjadi “proses manusia”; berbahagia, mencinta, menikmati hidup, hingga tangis dan lara dari sebuah bencana.

Artinya, semua perasaan itu berkelindan, membelit satu sama lain menjadi satu kesadaran. Kamu tidak akan mengenal makna kebahagiaan ketika tidak mau menerima kegagalan. Kita tidak akan tahu makna berjuang, ketika belum pernah jatuh dan kecewa. Kamu tidak akan mengenal rasa ikhlas ketika belum pernah ditinggal pergi yang terkasih untuk selamanya.

Bonek Writer Forum mengumpulkan keberanian dari setiap individu. Untuk menulis rentetan kesedihan yang terjadi di sepak bola menjadi sebuah buku. Menjadi sebuah pengingat bahwa kesedihan justru tidak boleh dilupakan. Terkadang, meski rasa pahit akan hadir, kesedihan harus selalu dirayakan. Samar-samar, teriakan “WANI!” terdengar mengiringi.

Di belakang teriakan “WANI!”, suara Dave Grohl terdengar sayup. “It’s times like these you learn to live again. It’s times like these you give and give again. It’s times like these you learn to love again.”

Pandemi menghajar manusia dari segala sisi. Ekonomi, mental, masa depan. Tidak ada yang bisa menghindar dari pandemi ini. Angka kejahatan melonjak, ketidakpedulian kepada sesama sudah terasa. Pada saat seperti inilah, keberanian untuk bersatu harus terus dijaga. Bahwa inilah saat untuk belajar kembali caranya hidup bersama. Saat yang tepat untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan. It’s times like these you learn to love again, meski perut meronta lapar.

Baca juga:  Surat untuk Virus Corona

Bonek Writer Forum merangkum berbagai kesedihan yang melingkupi sepak bola di sepanjang sejarahnya. Mulai dari kecelakaan pesawat, akibat peperangan, kekerasan yang terjadi di tengah suporter, kematian yang tidak terduga, hingga sebuah kesimpulan bahwa, pada titik tertentu, sepak bola adalah bencana itu sendiri.

Terutama ketika sepak bola dihidupi oleh orang-orang dengan ego sedalam palung. Ego yang akan menelan manusia dan menjerumuskannya ke dalam kematian. Ego, yang memandang enteng pandemi dan memalingkan muka dari masukan para ahli.

Bonek Writer Forum merangkumnya ke dalam sebuah judul: “Tolak Bala Sepakbola”. Sebuah harapan bahwa sepak bola, yang dicintai miliaran penduduk dunia terhindar dari kesedihan lagi.

Bagi saya, Tolak Bala Sepak Bola dari Bonek Writer Forum adalah sebuah “cara memberi”. Semua pemasukan dari penjualan buku ini akan disumbangkan untuk aksi kemanusiaan. It’s times like these you give and give again. Memberi kepada sesama banyak wujudnya. Dan yang terbaik adalah sesuatu yang berasal dari diri dan ikhlas ketika melakukannya.

Ada 23 penulis dengan latar belakang berbeda. Mulai dari jurnalis, pegawai pemerintah, “ahli nujum”, dosen, hingga saya, pendekar paruh waktu pengganyang mie ayam. Bersama-sama, kami mengingat kembali rentetan kesedihan di sejarah sepak bola. Bukan untuk ditangisi, tetapi menjadi rangkaian pelajaran penting bahwa bencana tidak mungkin dilawan, tetapi “dipahami”: mitigasi.

Fajar Junaedi, Bonek, salah satu penulis di Tolak Bala sepak bola menegaskan seperti ini: “Indikatornya kurangnya papan dan panduan mitigasi di stadion saat pertandingan. Akibatnya ketika terjadi bencana, terutama yang pernah terjadi karena faktor manusia, jatuh korban. Pertandingan sepak bola melibatkan banyak orang yang mencapai ribuan sehingga perlu ada mitigasi. Yang menarik justru suporter sepak bola yang punya concern pada mitigasi. Padahal seharusnya panitia pelaksana yang paling aware tentang mitigasi.”

Baca juga:  Bonek, Ras Terkuat di Muka Bumi, Mengajari Jogja Mengatasi Klitih

Mitigasi. Ada berapa banyak dari kamu, pembaca tulisan ini, yang mengenal akrab kata “mitigasi”? Salah satu harapan yang coba disampaikan oleh Bonek yang menulis adalah meningkatnya kewaspadaan akan bencana. Jangan dilawan, tetapi dipahami, supaya kelak tidak jatuh korban.

Buku ini akan didedar oleh empat seri diskusi yang diberi nama Cangkrukan Online Kita (COK). Seri pertama akan dilakukan pada Kamis (5/7). Diskusi COK 1 akan dipantik oleh Agnes Santoso dan R.N Bayu Aji. Fajar Junaedi akan menjadi pemandu sekaligus penengah ben gak malah tawur, cok.

Kamu bisa mengikuti empat seri COK lewat zoom. Jadwal dan keterangan lebih lanjut, silakan simak poster di bawah ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Menghilangkan ketakutan bukan perkara mudah. Apalagi kalau kamu berjuang sendirian. Berbagai ingatan akan rasa sakit itu tampak sangat awet. Kami, Bonek Writer Forum, berusaha menjadi teman yang baik. Menemanimu di tengah kesulitan akan pandemi dan berbagai ketakutan yang mengiringi.

Mari berbagi. It’s times like these you give and give again. Terkadang, kasih bukan semata materi, tetapi cukup sekadar peduli. It’s times like these you learn to love again. Kembali, suara Dave Grohl sayup-sayup terdengar, membayangi teriakan “WANI!” melawan pandemi. Saling menemani dan menjaga.

BACA JUGA Bonek, Ras Terkuat di Muka Bumi, Mengajari Jogja Mengatasi Klitih atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.