MOJOK.CODidikan orang tua menurunkan sifat parno ke diri saya. Itu terbawa sampai saya punya anak. Tapi nggak ada ruginya mempersiapkan anak untuk menghadapi situasi gawat darurat.

Saya tidak ingat sejak kapan kegawat-daruratan, atau mungkin lebih tepatnya rasa takut, ditanamkan orang tua kepada saya.

Ibu selalu mengingatkan bahwa luar rumah adalah tempat berbahaya. Ia selalu waspada pada orang yang mengetuk pintu rumah kami. Tiap ada orang mengetuk pintu rumah dada saya jadi berdegup kencang. Kami menaruh curiga, bukan antusiasme dan senang seperti saat kurir tiba dan berteriak, “Pakeeeettt.”

Kerusuhan 1998 adalah kerusuhan pertama yang saya lihat, tapi dari jauh, cuma lewat televisi. Saat itu saya masih SMP. TV menayangkan orang di Jakarta menangis sambil teriak-teriak Allahuakbar di atap rumahnya. Saya ingat ngobrol dengan seorang teman tentang Elang Mulia Lesmana saat jalan kaki ke sekolah. Itu juga pertama kali saya merasa cemas terhadap sesuatu yang jauh secara jarak.

Kedua adalah kerusuhan Sambas tahun 1999. Ibarat lampu lalu lintas, situasi Pontianak saat itu lampu kuning. Tiap orang mawas diri, menghindar untuk tidak menyulut emosi kelompok lain.

Rumah masa kecil saya di Pontianak berlokasi di selatan kota, harus melewati GOR Pangsuma tempat pengungsi kerusuhan Sambas ditempatkan. Saat itu saya sedang rajin-rajinnya latihan menari dan tak jarang pulang lewat dari jam 9 malam.

Orang tua saya percaya dengan sanggar tempat saya menari. Tiap selesai latihan, kami berkonsolidasi bagaimana supaya setiap penari dan pemusik selamat sampai di rumah masing-masing. Siapa mengantar siapa dengan menentukan rute. Situasi di sekitar GOR Pangsuma relatif aman di siang hari, kalau pergi ke sekolah masih bisa dilewati. Tapi kalau malam, kadang ada pemeriksaan untuk bisa lewat. Dengan diantar pemusik (biasanya lelaki) pakai motor, dari jauh lihat orang keliling berpatroli aja deg-degan. Tak jarang ada deg-deg benih asmara muncul juga itu di atas motor antara penari dan pemusik. Duh anak SMP, pubertas awal sok-sokan beut jatuh hati.

Baca juga:  Syiah Garis Lucu, Emang Ada?

Tapi negara ini tak habis-habisnya memproduksi kerusuhan. Coba produksi lebih banyak film, sudah masuk Cannes kita dari kemarin-kemarin. Kalau dikumpulkan cerita trauma kerusuhan, ceritanya bisa sehari. Healing-nya? butuh sepuluh tahun. Lebih.

Tahun 2001 Bapak dipindahtugaskan ke Jakarta. Suatu hari kami diberi tahu besok sekeluarga harus naik pesawat terbang ke Jakarta. Langit malam ini cerah, tapi Bapak belum pulang juga dari kantor. Sementara suara darderdor mulai kedengaran. Lha kok malah chaos? Kuatir besok jadwal ke Jakarta jadi terhambat. Kami satu gang ngumpul di rumah Pak RT, cemas sekali Bapak nggak pulang-pulang.

Entah udah jam berapa datanglah manusia satu itu ngepot pakai motor. Kayak baru pulang dari medan laga. Katanya, habis ngumpul sama orang-orang dan tokoh-tokoh kelurahan karena tiba-tiba ada situasi gawat. Memang ada desas-desus para pengungsi di dalam GOR merakit senjata gitu. Bapak cerita dia habis tiarap di jalan menghadapi serangan dari dalam kamp pengungsi. Entah bener entah nggak, yang jelas Bapak bekerja sebagai satpam, ikut latihan dan pernah menang kejuaraan menembak. Ada piala dan fotonya jadi saya percaya aja lah.

Malam itu saya sulit tidur, tapi katanya situasi semakin terkendali. Besoknya kami ke bandara dijemput dan mendapat pengawalan dari kantor Bapak.

Sikap mawas dan waspada kembali ditanamkan saat hidup dimulai di Jakarta. We feel like ready to live in the big city, tapi ya itu pesan Ibu: “Tetap waspada. Jakarta keras, Nak!” Yak, oke!

Saya kurang suka kalo ada yang bilang saya mirip Ibu, you know that love and hate relationshit between mother and daughter lah ya. Tapi emang sih kadang sikapnya mirip. Salah satu yang 11-12, saya juga menurunkan sikap kewaspadaan pada anak. Kadang ya dengan alasan kehati-hatian aja, tapi sering juga dengan deret daftar alasan:

Baca juga:  Cara Kerja Babi Ngepet dan Pesugihan di Sekitar Kita sejak Zaman Belanda

1. Bencana alam. Di Bandung (tempat kami anak-beranak tinggal sekarang), ada namanya sesar Lembang, Nak, dan kita hidup di pulau yang sisi selatannya terbentang ring of fire.

2. Ulah manusia. Ingat ya, banjir itu bukan salah hujan, tapi manusia yang susah diingetin buang sampah pada tempatnya. Harus pake diancem nggak masuk surga. Iya, ini ada billboard-nya di Buahbatu depan Hotel Horison, yang buang sampah sembarangan nggak masuk surga.

3. Kabel di tiang listrik kusut. Rumit banget hidup sebatang tiang listrik itu, Nak. Kalo dia ngambek bisa disetrumnya rumah kita 🙁

4. Nggak semua orang suka dengan pekerjaan dan tulisan bapakmu (suami saya penulis). Jadi, hati-hati dengan orang tak dikenal. Dengan yang dikenal juga ding.

Waktu paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai pada anak adalah sebelum dia tidur. Pillow talk buat orang dewasa bisa mengarah ke yang iya-iya, pillow talk sama anak adalah kesempetan untuk orang tua mendengar dan didengarkan anak. Salah satu konten (hadeh konten) bedtime story antara saya dan anak adalah tentang persiapan menghadapi situasi darurat.

Bedtime story kami tuh nggak muluk-muluk sih, kadang saya yang atur mau bacakan apa, kadang juga ikutin anaknya aja kalo lagi pengen ngobrol aja. Kadang saya mengarang cerita sendiri (bisa cek di blog akyuuu beberapa cerita ngarang spontan hehe promosi). Kadang pas baca satu buku, kami lama bahas satu halaman aja karena adegan di halaman itu kami simulasikan. Misal tentang planet-planet mengelilingi matahari, di saat yang sama juga muter-muter sendiri di rotasinya. Iya dipraktekin di atas kasur. Anaknya bisa ketawa-ketawa tuh kalo pake pengadeganan segala.

Nah soal mitigasi menghadapi situasi darurat, pernah dengan cara langsung ngasih tahu. Tapi suatu malam saya pake kuiz biar dia bisa mikir buat pilih hal yang mau dilakukan.

Habis ada gempa, kamu harus keluar rumah. Barang apa yang akan kamu bawa ikut?
A. Lampu emergensi
B. Jam Imoo
C. Celengan

Baca juga:  Tentang Lingkaran Setan Toxic Parents yang Semestinya Dihentikan

Dia pilih bawa harta di celengannya, guyyysss. Haha, oke, oke. Not bad, Nak!

Pertanyaan kedua….

Dalam situasi darurat, kamu masih sempet nolong adik dengan ambil peralatannya buat bekal. Barang apa yang akan kamu ambil?
A. Botol minum
B. Popok
C. Baju ganti

Dia pilih ambil botol minum karena buatnya, adik kehausan lebih urgent daripada adik nggak ganti baju.

Oke, next!

Di rumah kita cuma bertiga. Ibu, kamu, dan adik. Lalu Ibu pingsan. Apa yang akan kamu lakukan?
A. Telepon Bapak
B. Minta tolong tetangga
C. Berusaha bangunin Ibu

Sebagai anak gaul sekitar sini, dia pun memilih minta tolong tetangga. Hahaha!

Kita harus mengungsi, kamu bisa bawa satu saja buku cerita. Buku cerita apa yang mau dibawa?
A. Tintin
B. The Day the Crayons Came Home
C. Kisah Cinderella

Tintin! Karena dia punya banyak cara menyelesaikan masalah. Mantap anak akuuuhhh, love!

Terakhir.

“kamu punya satu bungkus mi instan, tapi di depanmu ada tiga orang kelaparan. Siapa yang akan kamu bagi?
A. Ibu menyusui (sambil gendong bayinya lho)
B. Kakek/nenek (udah tua kasihan kelaparan)
C. Anak Yatim (nggak ada orang tua bisa carikan dia makan lho)

“Aduh pertanyaan sulit,” jawab anak saya. Lama dia berpikir.

“Hmm… Ibu menyusui dan kakek/nenek, minya bisa dibagi dua.”

“Yang anak yatim nggak dikasih?”

“Dia aku ajak main aja, kan bisa cari mi lagi sama-sama.“

Uwuwuw….

Ya, Nak, bener bahwa kita harus selamat dulu untuk bisa bantu orang lain. Tapi dalam situasi yang lain, lingkungan kita harus selamat dulu supaya kita juga selamat. Eh, ini sudah terdengar seperti Mamah Dedeh?

BACA JUGA Anak-Anak Dijejali Buku Harga Jutaan, Si Mamah Referensinya Cuma Felix Siauw. Ikuti blog Galuh Pangestri di sini.