Bayern, Manusia Super di Liga Champions, dan Mia San Hansi Flick MOJOK.CO
Bayern, Manusia Super di Liga Champions, dan Mia San Hansi Flick MOJOK.CO

Bayern, Manusia Super di Liga Champions, dan Mia San Hansi Flick

MOJOK.COFinal Liga Champions adalah soal dominasi Bayern. Hasil kerja luar biasa dari Hansi Flick dan staf. Selamat Die Roten. Mia san Hansi Flick.

Ketika Barcelona kalah dengan skor 8-2, narasi yang muncul bunyinya begini: “Bayern mengajari Barcelona cara bermain sepak bola.” Seakan-akan, tim dari Catalan itu sekumpulan pegawai kantoran yang dipaksa oleh bosnya untuk datang ke lapangan sewa, di Minggu pagi yang cerah, untuk pertandingan persahabatan melawan perusahaan lain.

Tim pegawai kantoran diisi oleh bos sendiri, yang berposisi sebagai penyerang. Dia tidak ikut berlari ketika timnya bertahan, menunggu bola di depan untuk menciptakan keajaiban-keajaiban.

Sayang, keajaiban itu hanya bisa diperlihatkan jika tidak ada lawan yang berani mengganggu dia. Melawan tim perusahaan lain, yang kebetulan menyewa pemain profesional dari sebuah kompetisi yang tidak profesional, si bos tidak berdaya. Tim pegawai kantoran diajari bermain bola.


Narasi Bayern mengajari Barcelona bermain bola itu bobotnya sangat besar. Bagaimana tidak, kedua tim ini berada di satu kasta yang sama. Namun, kualitas yang tersaji di atas lapangan sama sekali berbeda. Tidak ada jejak persamaan kasta. Di Liga Champions musim ini, raksasa Bavaria memang sangat dominan.

Dominasi Bayern di Liga Champions memang bukan kebetulan semata. Untuk musim ini, mereka berhasil melewati semula laga tanpa kekalahan. Tidak terkalahkan di 2020, Bayern juga mencatatkan rekor 21 kemenangan beruntun. Mengulangi kesuksesan 2013, Die Roten mencatatkan rekor treble winner lagi: juara Bundesliga, DFB Pokal, dan Liga Champions.

Untuk semua kebangkitan, perubahan wajah, dan dominasi, tidak ada yang lebih pantas menerima puja dan puji selain Hansi Flick. Sosok pelatih asal Jerman, pemula di ajang kompetisi antarklub tertinggi di dunia. Namun, dia yang pemula ini, mengajari Barcelona caranya bermain sepak bola.

Baca juga:  Chelsea Memang Kelas, tapi Bagi Real Madrid, Liga Champions Seperti Taman Bermain

Bukan hanya Barcelona, di laga final, PSG diajari yang namanya manajemen pertandingan. Ketika skor masih sama kuat 0-0, Bayern menekan dengan agresif. Dua tim ini memang sama-sama agresif, bahkan PSG seharusnya bisa menutup babak pertama dengan unggul satu gol. Namun, Neymar bertemu lawan sepadan di bawah mistar. Kiper berusia 34 tahun yang kebaradaannya terlalu besar untuk lini depan PSG.

Setelah unggul 1-0 di babak kedua, Bayern mengubah pendekatan. Ibaratnya, dari gigi tiga, turun ke dua. Ibaratnya seperti spons, tim asuhan Hansi Flick ini bisa menyerap semua agresivitas PSG. Kontrol pertandingan tidak benar-benar bisa direbut oleh PSG sampai pertandingan usai. Hansi Flick, mematenkan namanya di sejarah dunia.

Hansi Flick dan rejuvenated Bayern

Hansi Flick, sebelumnya hanya asisten pelatih Niko Kovac. Ketika Kovac dipecat, Hansi diproyesikan untuk jangka pendek. Saat itu, juara Jerman ini dikabarkan punya wacana menjadikan Mauricio Pochettino sebagai pelatih anyar. Namun, permintaan gaji Pochettino yang kelewat tinggi membuat para petinggi tidak gegabah.

Petinggi Bayern paham bahwa Hansi Flick adalah pelatih yang cakap. Kekurangannya hanya satu, yaitu sudah 14 tahun Hansi tidak melatih klub setelah dipecat Hoffenheim. Namun, Hansi, yang oleh Arne Friedrich, Direktur Olahraga Hertha Berlin, disebut mirip Jupp Heynckes, berhasil menunjukkan kalau dirinya adalah pelatih ideal.

Kelebihan Hansi ada dua, yaitu kemampuannya berkomunikasi dengan pemain dan pandai menemukan cara untuk memaksimalkan talenta setiap pemain. “Dia selalu punya waktu dan sangat sabar untuk pemain. Hansi bukan hanya suka ‘kerja, kerja, kerja’. Dia sangat otentik. Kamu tahu, hal seperti itu adalah kekuatan terpenting dari seorang pelatih,” kata Friedrich.

Baca juga:  Persebaya 93 Tahun, Menerjemahkan Rivalitas Sebagai Aktualisasi Diri, Bukan Sekadar Cinta dan Benci

Oliver Kahn, mantan pemain Bayern yang kini duduk di jajaran manajemen memberi gambaran: “Dia selalu bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepada para pemain, terutama di waktu-waktu yang berat. Dia tahu caranya handle pemain.”

Selain kecakapan komunikasi, Hansi juga pandai mencari cara supaya para pemainnya bisa memaksimalkan talentanya. Ketika masih dilatih Kovac, Bayern adalah tim yang reaktif kepada situasi. Latihan rutin ditekankan kepada cara Bayern bertahan, di mana menu latihan itu membuat para pemain, dengan talenta tinggi, merasa frustrasi.

Hansi mengubah menu latihan itu. Hansi menekankan latihannya kepada “apa yang bisa pemain lakukan dengan penguasaan bola”. Dia mendorong pemainnya untuk berpikir caranya memaksimalkan bola dan talentanya sendiri. Salah satu yang diperbaiki Hansi adalah work rate para pemain. Mengubah Bayern menjadi sebuah mesin pressing dengan intensitas tinggi.

Pelatih yang baik akan dikelilingi asisten yang sama baiknya. Salah satu asisten terbaik Hansi adalah Prof. Dr. Holger Broich. Ainur Rohman, jurnalis Jawa Pos bilang begini:

“Kenapa secara fisik, para pemain Bayern sangat tangguh? Karena Bayern melakukan pendekatan dan penerapan sains yang sangat intens dalam klubnya. Scientific Director & Head of Fitness Bayern adalah seorang guru besar. Namanya, Prof. Dr. Holger Broich.”

Suatu kali, saking kesalnya, para pemain Bayern ingin mengirim Dr. Holger Broich ke luar angkasa. Rezim latihan Dr. Holger memang sangat intens. Para pemain membahasakan metode latihannya dengan satu kata: brutal. Sebuah kebrutalan yang justru sangat disukai oleh Hansi.

Baca juga:  Juventus Membangun Masa Depan di Punggung Dybala dan Demiral

“Dr. Holger bisa menjaga intensitas tim, bahkan ketika kami sedang unggul. Inilah mentalitas kami. Begitulah kami dikenal,” tegas Hansi, yang saya yakin akan disambut dengan senyum kecut para pemain. Namun, meski kesal, para pemain memetik buah kerja keras dan penderitaan selama melahap menu latihan Dr. Holger.


Jerome Boateng bahkan menyampaikan pujian khusus untuk si penyiksa ini. “Pujian harus diberikan kepada Holger Broich dan semua staf untuk semua program yang mereka buat selama latihan virtual. Saya yakin, program yang mereka susun adalah kunci, yang membuat kami bisa bugar ketika kompetisi mulai,” tegas Jerome.

“Holger Broich menyusun program yang luar biasa. Fisik kami sangat prima. Ini sangat penting, terutama untuk Liga Champions dengan format kompetisi, di mana kamu harus bisa menaikkan level sampai akhir pertandingan ketika lawan mulai lelah,” tambahnya. Benar saja, ketika melawan Barcelona, para pemain Bayern berlari 10 kilometer lebih jauh. Krezi.

Fisik yang prima memungkin para pemain bisa menyajikan ide Hansi Flick dengan baik. Sepak bola dengan intensitas tinggi dan pergerakan pemain yang dinamis. Fisik yang prima membantu level konsentrasi pemain tetap tinggi. Membantu mereka tetap bisa berpikir jernih di ujung pertandingan yang berat.

Juaranya Bayern merupakan kombinasi kecerdasan pelatih, para pemain yang berdedikasi, dan para staf yang profesional. Kombinasi super untuk menyapu bersih semua laga menjadi kemenangan. Selamat Bayern, mia san Hansi Flick.

BACA JUGA Heavy Metal ke Rock Ballad: Jurgen Klopp dan Pupur Liverpool atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.