MOJOK.COArsenal bukan musuh satu-satunya Mike Dean hingga Mike Riley. Semua klub Liga Inggris adalah calon korban wasit tidak kompeten.

Saya tidak punya jawaban atas pertanyaan mengapa wasit-wasit Liga Inggris sangat membenci Arsenal. Namun, banyak yang berpendapat sentimen wasit-wasit goblog ini berawal dari serangan terbuka Arsene Wenger setelah Arsenal kalah dari Manchester United dan kehilangan status tak terkalahkan.

“Kami kehilangan status tak terkalahkan ketika melawan Manchester United di sebuah laga di mana wasit turut bertanggung jawab,” kata Wenger setelah Tragedi Old Trafford, ketika Mike Riley “membunuh” Arsenal dengan keputusan-keputusan yang menguntungkan United. Laga memalukan itulah yang menjadi sumber makian “Wasite EMYU!”

Arsene Wenger menutup kalimatnya dengan pernyataan legendaris, “Saya akan bertanya kepada Tuhan, di mana wasit malam itu, sebelum saya memilih surga atau neraka.” Konyolnya, fans United merayakan kemenangan kotor itu dengan suka cita. Menjijikkan.

Tentang Tragedi Old Trafford yang menjijikkan itu, Planet Football membuat sebuah artikel bertema analisis forensik kegoblokan Mike Riley yang bisa kamu baca di sini.

Dan tahukah kamu, saat ini, Mike Riley, wasit bejat itu, memegang jabatan yang sama sekali tak layak dia jabat. Riley menjabat General Manager of the Professional Game Match Officials Limited. Seorang wasit payah, tak profesional, tidak netral, justru mendapat jabatan tertinggi untuk pengadil lapangan hijau. Goblok banget.

Setelah segala kontroversi terkait Arsenal dan beberapa klub lainnya, akhirnya Liga Inggris menerapkan penggunaan VAR di setiap pertandingan. Namun, mesin bernama VAR itu tidak banyak membantu. Pada kenyataannya, VAR justru semakin menunjukkan betapa tidak kompetennya wasit Liga Inggris.

November 2019, Manchester City, Brighton, dan Aston Villa mengirim surat protes resmi kepada Mike Riley. Pep Guardiola, pelatih City, saking geramnya, enggak berkomentar perihal kecurangan yang timnya rasakan. “Kamu tanya saja ke Mike Riley dan para bos di atas sana. Jangan tanya saya, tanya mereka!”

Juli 2020, Richard Keys, presenter berpengaruh dari BBC, menyarankan Mike Riley untuk mundur dari jabatannya. Tuntutan Keys itu muncul setelah Manchester United dan Tottenham Hotspur menjadi korban kegoblokan wasit Liga Inggris.

Februari 2020, kontroversi tak kunjung reda. Berurutan, dari Arsenal menjadi korban Craig Pawson, lalu West Ham United menjadi korban Mike Dean. Di laga antara West Ham vs Fulham, Mike Dean mengkartu merah Tomas Soucek setelah “dianggap” menyikut kepala Mitrovic.

Mike Dean berlari ke monitor VAR dan mengamati rekaman video itu cukup lama. Dan akhirnya, kartu merah tidak berubah. Keputusan Mike Dean ini membuat publik meradang. Sikut Soucek tidak benar-benar menyentuh kepada Mitrovic.

Konyolnya, selepas laga, Soucek mengaku sudah berbicara dengan Mitrovic. Kedua pemain bersepakat itu hanya sebuah “battle” yang terhormat. Tidak layak mendapat kartu merah.

Saya setuju dengan pernyataan Jan Aage Fjortoft, jurnalis +ESPN. Jan bilang begini, “Masalah dengan wasit seperti Mike Dean adalah mereka tahu setiap aturan. Mereka bahkan hafal setiap paragrafnya. Namun, mereka tak punya pengetahuan soal pertandingan yang mana tidak bisa kamu pelajari lewat buku. Ketika kamu mencampur ketidaktahuan wasit dengan gairah pertandingan, kamu akan mendapatkan kekacauan dan tidak ada kredibilitas di sana.”

Jamie Redknapp, pundit Sky Sports, mengecam Mike Dean. “Mereka harus berhenti mempengaruhi pertandingan, karena mereka hanya merusak, mereka membunuh sebuah laga.

Tahukah kamu, saat ini, Southampton sudah mengajukan “gugatan resmi” kepada otoritas liga. Mereka tidak mau lagi Mike Dean menjadi pengadil di laga-laga Southampton. Ini gambaran paling jelas terhadap kualitas rendahan wasit Liga Inggris. Bukan Arsenal saja yang jadi korbannya.

Kalimat Jamie Redknapp pasti mengena sekali di hati fans Arsenal. Ketika performa apik mereka dirusak satu keputusan kontroversial Craig Pawson di laga melawan Wolves. Wasit Liga Inggris, pada titik tertentu, bukan menjadi pengadil, tetapi perusak klub.

Kenapa saya tidak akan berhenti mempermasalahkan kedunguan wasit Liga Inggris? Karena musuh Mike Dean, Pawson, hingga Mike Riley bukan cuma Arsenal, tetapi semua klub di Liga Inggris. Ya, termasuk United dan Spurs yang biasanya lebih banyak diuntungkan wasit itu. Semuanya adalah calon korban wasit tidak kompeten.

Semua klub cuma menunggu giliran saja menjadi korban. Semuanya menunggu giliran menjadi kaum munafik dengan ikut marah kepada wasit setelah sebelumnya menertawakan nasib sial Arsenal. Ketika saat itu tiba, saya hanya akan tersenyum kecil sambil membatin: MAMAM!

BACA JUGA Arsenal dan 2 Kartu Merah: Craig Pawson Serta Semua Wasit Liga Inggris Mengantre Paling Depan Masuk Neraka Jahanam dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Cristian Gonzales dan 3 Kelebihan yang Ia Bawa Untuk PSS Sleman