MOJOK.COCraig Pawson bakal digoreng di minyak panas, diangkat ketika golden brown, dan disajikan untuk dimaki berjamaah oleh fans Arsenal.

Pesepak bola akan diistirahatkan ketika performanya ambruk. Pelatih akan dipecat jika gagal menciptakan konsistensi dan berprestasi. Intinya, di semua pekerjaan, ada risiko disingkirkan ketika performa pekerja tidak maksimal. Namun, “hukum” itu tidak berlaku untuk wasit-wasit Liga Inggris, salah satunya Craig Pawson.

Sebetulnya saya sudah jengah menulis soal “penderitaan” Arsenal yang diakibatkan kebodohan wasit Liga Inggris. Mohon maaf jika saya menggunakan kata “bodoh” di sini. Kinerja wasit Liga Inggris sudah jauh dari kata normal. Mereka lebih banyak membuat kontroversi ketimbang keputusan yang waras dan konsisten.

Meskipun menggunakan Arsenal sebagai contoh, saya yakin banyak fans klub Liga Inggris yang sadar bahwa para wasit sudah terlalu busuk. Wasit memang manusia. Tidak mungkin lepas dari kesalahan. Namun, jika wasit konsisten untuk tidak konsisten, evaluasi sudah sewajarnya dilakukan. Bahkan bukan hanya evaluasi, tetapi sanksi.

Selayaknya bekerja dan bertanggung jawab untuk satu posisi, wasit, dalam hal ini Craig Pawson seharusnya hafal dengan isi aturan. Bahkan ketika sudah terjadi perubahan dalam peraturan tersebut.

Sebelumnya, di dalam laws of the game yang berlaku, seorang pemain yang menghalangi peluang gol murni dengan pelanggaran akan langsung mendapat kartu merah. Istilah ini dinamakan triple-punishment. Hukuman larangan tiga laga akan berlaku.

Namun, pada 2016, aturan ini sudah dianulir dan disahkan oleh IFAB (International Football Association Board). Pemain yang melakukan pelanggaran untuk mencegah peluang gol murni hanya akan mendapatkan, maksimal, kartu kuning kecuali dilakukan secara sengaja (deliberate fouls).

Apa saja yang termasuk deliberate fouls ini? Antara lain, menahan laju badan, menarik baju, mendorong pemain, pelanggaran berbahaya, menahan bola dengan tangan, dan secara sengaja melanggar pemain dengan intensi tidak tertuju kepada bola.

Kata kuncinya adalah deliberate atau disengaja atau direncanakan. Sekarang, silakan cermati lagi “pelanggaran” yang dilakukan David Luiz. Apakah bek Arsenal itu secara sengaja menjegal kaki striker Wolves demi mencegah peluang gol murni? Omong kosong.

Jika mencermati proses “pelanggaran” itu secara teliti, terlihat ayunan kaki kiri pemain Wolves yang membentur dengkul David Luiz. Ayunan itu terjadi sebagai akibat dari kuda-kuda yang dilakukan sebelum menendang bola. David Luiz berlari ke arah bola secara alami. Apakah ketika berlari, David Luiz tidak boleh menggerakkan dengkulnya?

Kalau memang mau sengaja, bek senior Arsenal itu bisa saja menjulurkan kaki untuk mencoba melakukan tekel. Namun, dia sadar tekel dari belakang akan berakibat kartu merah. Sebagai bek senior, dia hanya bisa mengejar dan menjaga jarak. Bersiap untuk bola rebound.

John Terry, mantan bek tengah Chelsea juga heran dengan keputusan Craig Pawson. Wasit yang ketika bertugas di laga Arsenal, Arsenal selalu kalah. Menurut Terry, kejadian itu memang penalti, tetapi sungguh konyol jika sampai berbuah kartu merah. Artinya, Craig Pawson tidak menyadari perubahan aturan atau dirinya memang bodoh dan tidak tahu ada aturan seperti itu.

Jika Craig Pawson waras dan posisi pertandingan masih 11 vs 11, Arsenal bisa saja menang. Terutama ketika melihat performa buruk Wolves sepanjang babak pertama dan betapa sulitnya mereka menambah gol ketika Arsenal bermain sembilan orang setelah Bernd Leno kena kartu merah juga.

Sebuah laga bisa rusak, bukan karena performa pemain. Sering terjadi, terutama di Liga Inggris, wasit yang merusak pertandingan. Terutama untuk Arsenal, di mana banyak sekali pelanggaran yang tidak pernah menguntungkan The Gunners. Seperti injakan secara sengaja yang dilakukan Bruno Fernandes ke arah tumit Granit Xhaka. Kartu kuning saja tidak. Bodoh sekali.

Mungkin fans Arsena sudah semakin terbiasa menjadi korban kebodohan wasit Liga Inggris, salah satunya Craig Pawson. Saya salah satunya. Dan saya bukan ingin menggerutu, tetapi mengingatkan saja, kebodohan wasit Liga Inggris pasti akan merusak klub lain. Semuanya soal tunggu giliran saja.

Selama ini, sanksi yang diterima wasit tidak waras hanya sekadar diturunkan pangkat mengadili laga Divisi 2. Sudah saatnya para klub mengajukan nota protes resmi ke FA. Wasit yang tidak waras tidak boleh bertugas. Yah, meskipun kita tahu, asosiasi Liga Inggris itu juga sama tidak warasnya.

Kalau memang protes tidak bisa dilakukan, biar Gusti Allah saja yang menjatuhkan hukuman kepada para wasit Liga Inggris. Kelak, di akhir zaman, para wasit Liga Inggris akan mengantre paling depan masuk pintu neraka jahanam.

Craig Pawson bakal digoreng di minyak panas, dibalik biar tidak gosong, diangkat ketika sudah golden brown, ditiriskan, dan disajikan untuk dimaki berjamaah.

BACA JUGA Pusing sama Cara Wasit Liga Inggris Memanfaatkan VAR dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Piala Dunia 2018 dan 5 Jenis Suporter yang Akan Kita Temui