MOJOK.COPemecatan Frank Lampard oleh Chelsea ini, pada akhirnya menjadi pelajaran untuk semua. Bahwa ego itu seperti pisau bermata dua.

Sering terjadi di kehidupan ini, kisah asmara kandas karena karena ketidaksabaran. Budaya seperti itu sangat mudah melukai. Membuat orang tersisih karena dianggap “tidak mampu”. Padahal, bisa jadi, orang tersebut tengah dalam fase “belum bisa” saja.

Namun, terkadang, kejadian juga pasangan yang kehidupan asmaranya tengah retak menemukan jalan keluar. Ketika keduanya mau duduk bersama dan memberi tempat untuk kesabaran. Sayang, kompromi seperti itu sudah semakin langka di kehidupan sepak bola industri.

Frank Lampard baru saja merasakannya. Ketika Chelsea, cinta yang membesarkan namanya, enggan memberi tempat kepada kompromi dan kesabaran. Saya selalu sedih ketika membaca kabar tentang seseorang yang kehilangan pekerjaan. Namun, perlu kita akui secara jujur, pemecatan Lampard seperti sudah digariskan sejak dirinya resmi menjadi pelatih Chelsea dua tahun yang lalu.

Juli 2019, saya menulis bahwa di mata Chelsea, Lampard seperti sekadar “pelarian yang murah” ketika Maurizio Sarri mundur. Saat itu, pelatih berkaliber besar yang menganggur hanya Jose Mourinho. Selain permintaan gaji yang sudah pasti tinggi, kembalinya Mourinho ke Chelsea untuk kali ketiga rasanya sulit terjadi.

Saat itu, Lampard hanya mendapat gaji lima juta paun per tahun. Sementara itu, standar gaji Mourinho selepas melatih Manchester United sudah tembus 12 juta paun. Opsi yang murah, menyandang nama legenda klub, dan bersedia ketika ditawari menjadikan Lampard “pilihan yang murah” bagi Chelsea.

Frank Lampard menerima tawaran melatih dengan durasi tiga tahun. Durasi yang terbilang “aman” bagi Chelsea. Jika keadaan memburuk dengan cepat, kompensasi pemecatan tidak akan terlalu membebani keuangan klub. Ditambah lagi “kultur” The Blues yang tak pernah alergi memecat pelatih.

Di satu sisi, “kultur” tersebut tidak bisa disalahkan begitu saja. Roman Abramovich, sebagai pemilik, tentu punya kuasa untuk menjalankan “hobinya ini”. Terlebih di tangan Abramovich, Chelsea berubah status. Dari klub yang hampir pailit menjadi kekuatan besar di Liga Inggris dan Eropa.

Begitu peluang Chelsea lolos ke Liga Champions terancam, tidak ada pelatih yang aman. Bahkan sekaliber Mourinho saja ditendang dengan ekspresi yang dingin. Apalagi cuma sekadar Lampard yang konon posisinya semakin terjepit karena beberapa pemain senior “memberontak”.

Frank Lampard sendiri seperti tidak membantu dirinya sendiri. Pertama, Lampard gagal memaksimalkan beberapa pemain baru berkualitas tinggi. Misalnya Kai Havertz, salah satu gelandang serang terbaik di Bundesliga, dikonversikan menjadi gelandang sentral. Performa Havertz jauh di bawah standar dan Lampard seperti memalingkan muka.

Kedua, Lampard berusaha memaksakan egonya ketika menekan manajemen untuk membeli Declan Rice. Manajemen sudah pernah menegaskan bahwa Chelsea tidak akan membeli kembali mantan pemain akademi yang pernah dilepas. Apalagi ketika harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk tanda tangan Rice. Manajemen Chelsea enggan menempuh jalan yang sama ketika United membeli kembali Paul Pogba.

Lampard sudah pernah mendapat peringatan. Jika terus memaksa manajemen membeli Declan Rice, posisi Lampard yang terancam. Yang terjadi adalah pelatih muda itu tetap saja menekan manajemen. Pada titik ini, ditambah performa yang terjun bebas, manajemen tidak mau kompromi lagi.

Hal ini membuktikan bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar selain manajemen dan Abramovich sendiri. Sangat kontras jika kita membandingkan keadaan ini dengan United dan Arsenal. Dua klub ini sama-sama pernah mendapat tekanan publik untuk memecat Ole Gunnar Solskjaer dan Mikel Arteta.

Di tengah krisis itu, manajemen United dan Arsenal masih mau duduk bersama dan memberi tempat untuk kesabaran. Niat manajemen itu terbayar ketika kini United jauh lebih konsisten. Sementara itu, Arsenal mulai menemukan pijakan meski masih terasa goyah dan lemah. Namun, satu hal yang pasti, progres positif itu terlihat nyata.

Tidak ada romantisme nama legenda di dalam kultur Chelsea. Memang terbaca sangat menyedihkan. Namun ingat, di sisi lain, kita tidak bisa menyalahkan pemecatan Frank Lampard ini. Setiap entitas berjalan dalam koridor kebudayaan masing-masing. Kita bisa mengkritik, tapi tidak bisa menyalahkan. Lha wong itu dapurnya orang.

Pemecatan Frank Lampard ini seperti menjadi pengingat untuk kesekian kalinya ketika seorang pelatih tidak boleh gegabah mengambil keputusan. Bahkan ketika cintanya yang dulu memanggil kembali. Namanya sudah jadi mantan, kamu harus berpikir dua kali untuk menyambut sapaan itu. Ingat, ini soal mantan.

Aun Rahman, pundit Box 2 Box dan i Channel TV sekaligus penulis menyampaikan sebuah analisis yang menarik. Aun bilang bahwa langkah yang diambil Steven Gerrard, Xavi Hernandez, dan John Terry terbilang bagus.

“Langsung ke top management di top flight itu risk sekali,” kata Aun. Duh, nggak bisa basa enggres….

Gerrard memilih berkarier di Skotlandia sementara Xavi ke Qatar. Saat ini, John Terry tengah “belajar” di Aston Villa. Terkadang, pelatih muda harus punya pengalaman melatih di lingkungan yang sangat mendukung dan belajar mengatasi tekanan. Ingat, tidak semua bisa seperti Pep Guardiola ketika dipasrahi kapal raksasa bernama Barcelona. Bahkan Pep sendiri melatih Barcelona B dulu sebelum ke top flight.

Ketika kesetiaan semakin lesap di sepak bola industri, mengambil langkah bijak menjadi semakin penting. Plus, ketika sudah berada di top flight, kamu tidak bisa terlalu kuat menggenggam ego. Kecuali kamu memang didukung penuh oleh manajemen seperti Ole dan Arteta untuk saat ini.

Pemecatan Frank Lampard ini, pada akhirnya menjadi pelajaran untuk semua. Bahwa ego itu seperti pisau bermata dua dan kesabaran semakin mahal harganya. Baik-baik kamu sama orang.

BACA JUGA Frank Lampard, Legenda Murah, yang Cuma Menjadi Pelarian Chelsea dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Dominasi Real Madrid Atas Juventus, Dominasi Cristiano Ronaldo di Liga Champions