MOJOK.COPemain Arsenal patah kaki tidak dianggap sebagai tragedi. Namun, ketika Virgil van Dijk cedera, media menangis dan wasit goblok terdiam.

Sungguh judul tulisan yang terlalu panjang. Namun, untuk kali ini saya mau bersikap “bodo amat”. Sikap yang ditunjukkan oleh media-media Inggris ketika pemain Arsenal patah kaki. Berbeda 180 derajat ketika bek Liverpool, Virgil van Dijk cedera ACL. Sebuah pertunjukkan kemunafikan paling paripurna.

Sebelumnya, saya perlu menegaskan satu hal. Saya bersimpati dan ikut prihatin atas cederanya van Dijk. Cedera ACL ini bakal memaksa bek asal Belanda itu absen hingga tujuh bulan. Ini perasaan yang tulus, saya ikut prihatin. Sebagai fans Arsenal, saya sudah sering melihat akibat cedera seperti ini. Karier pemain bisa rusak.

Bek kanan Arsenal, Hector Bellerin pernah menderita cedera yang sama. Bek asal Spanyol itu absen dalam waktu yang cukup lama. Sekembalinya dari cedera, Bellerin sudah menjadi pemain yang berbeda. Dia kehilangan kecepatan dan akselerasi. Dua “senjata” yang membuat Bellerin menjadi salah satu bek muda potensial di dunia. Kini, Bellerin sekadar “bek kanan biasa saja”.

Masalah saya bukan dengan Liverpool atau cederanya van Dijk. Masalah saya adalah dengan media-media Inggris yang munafik dan wasit-wasit tidak kompeten. Sekumpulan “pengadil” dari Inggris yang tidak konsisten dan bias. Tidak heran kalau umpatan “wasit goblok” saja masih dianggap sebagai sapaan yang halus. Terlalu halus untuk kegoblokan mereka.

Misalnya dalam kasus van Dijk ini. Sangat pantas kalau Liverpool berang. Konon, mereka sudah mengirim surat protes secara resmi kepada otoritas Liga Inggris. Otoritas yang sama busuknya seperti wasit Inggris. Bagaimana tidak berang ketika wasit di ruangan VAR sampai mengaku “tidak tahu” insiden van Dijk yang diterjang Jordan Pickford, kiper Everton.

Adalah David Coote, wasit di ruangan VAR, mengaku terlalu fokus melihat dan menentukan apakah van Dijk offside atau tidak. Coote tidak tahu kalau terjangan Pickford adalah aksi berbahaya. Sungguh konyol sekali. Semua orang yang menonton pertandingan saja tahu hanya dengan sekali lihat bahwa terjangan Pickford itu sangat berbahaya.

Bagaimana tidak berbahaya. Pickford melakukan sliding tackle sambil melayang ke arah lutut bek andalan Liverpool itu. Kecepatan luncuran ditambah berat tubuh Pickford, sukses merusak ACL lutut van Dijk. Kalau “mengaku” tidak tahu itu terjangan berbahaya, mungkin Coote perlu memikirkan karier lain selain wasit.

Sampai di sini saya kira kamu sudah dapat gambaran betapa gobloknya wasit Inggris. Belum? Bagus. Karena contoh yang paling jernih adalah ketika Arsenal mendapat perlakuan berbeda hampir di setiap pertandingan. Ya, hampir di setiap pertandingan selama satu dekade terakhir, bahkan lebih.

Kejadiannya hanya berjarak tidak lebih dari tiga jam setelah pameran kegoblokan di laga Everton vs Liverpool. Ketika dijamu Manchester City, seharusnya, kalau memang wasit Inggris konsisten, Arsenal layak dapat tendangan penalti. Kejadiannya seperti ini:

Andre Gomes, gelandang Everton, mengangkat kaki terlalu tinggi hingga membahayakan Sadio Mane, penyerang Liverpool. Wasit menganggap itu sebagai aksi berbahaya dan memberi Liverpool pelanggaran di depan kotak penalti. Beberapa jam kemudian, situasi yang sama terjadi di laga City vs Arsenal.

Gabriel Magalhaes, bek Arsenal, berusaha menyundul bola di dalam kotak penalti. Bek City, Kyle Walker mengangkat kaki setinggi kepala Gabriel. Kalau wasit Inggris konsisten, seharusnya Arsenal dapat penalti karena kejadiannya sama persis dengan insiden Gomes vs Mane. Namun, apa yang terjadi? Wasit bahkan tidak memeriksa kejadian lewat VAR! Satu detik saja tidak!


Inkonsistensi wasit Inggris, terutama di laga Arsenal sudah sangat kelewatan. Sebetulnya, kamu tidak perlu membaca tulisan ini tetapi langsung menuju kolom pencarian Twitter dan memasukkan kata kunci “Arsenal VAR” saja. Kamu akan menemukan pameran kegoblokan dari wasit Inggris.

Ingat, masalahnya bukan VAR. Ia cuma mesin untuk membantu kinerja wasit. Masalahnya adalah manusia-manusia goblok di belakang mesin itu. Mereka tidak kompeten dan tidak transparan. Jangan heran kalau FIFA tidak lagi menggunakan wasit Inggris di Piala Dunia. Kebusukannya sudah lama terendus dunia. Namun, “hidung” otoritas Liga Inggris sudah kadung tersumbat oleh bangkai mereka sendiri.

Setelah wasit, masih ditambah kemunafikan media-media Inggris….

Julien Laurens, pembawa acara di beberapa media seperti ESPN, BT Sport, dan RMC Sport bilang kalau Pickford harus dihukum tidak boleh bertandingan. Lama hukuman harus sama dengan lamanya van Dijk absen. Keprihatinan yang mengharukan? Tai kucing!

Senada dengan Julien Laurens, Mark Bosnich, mantan kiper medioker Manchester United, ingin Pickford dihukum dengan durasi seperti lama absen van Dijk.

Lucu sekali, seakan-akan United tidak pernah diuntungkan oleh wasit. Kita tahu kalau wasit selalu punya soft spot kepada United, pun saat ini United adalah klub paling diuntungkan VAR dan inkonsistensi wasit.

Butuh bukti? Silakan nikmati video di bawah ini, ketika Mike Riley “mengerjai” Arsenal.


Tahukah kamu, saat ini, Mike Riley memegang jabatan kepala komite wasit Liga Inggris. Setelah laga busuk itu, Riley masih bisa memegang jabatan penting. Goblok sekali.

Apa yang media katakan ketika Eduardo dan Aaron Ramsey, dua pemain penting Arsenal, patah kaki? Justru Arsenal yang dianggap lembek, cengeng, dan sebagainya. Simpati dialamatkan kepada dua pemain yang bikin kaki Eduardo dan Ramsey patah. Mereka dianggap tidak bersalah karena “tidak sengaja”.

Ramsey pernah hampir mengalami kejadian serupa ketika diterjang Danny Drinkwater. Saat itu, Drinkwater masih bermain untuk Leicester City. Telapak kaki Drinkwater “mampir” ke tulang kering Ramsey dan wasit mendiamkan saja hanya karena Ramsey tidak sampai jatuh dan berguling-guling semacam Neymar kalau kena colek.

Saat ini, fans Arsenal sudah lebih kebal dengan kegoblokan wasit. Saat ini juga, banyak fans rival menertawakan kemalangan Arsenal. Saya hanya ingin mengingatkan, kegoblokan wasit Inggris itu sudah permanen. Tinggal menunggu giliran saja klub kesayanganmu jadi korban dan media-media munafik di Inggris diam saja.

Ketika saat itu tiba, saya tidak akan menertawakan kemalangan kalian. Saya hanya akan ikut dalam barisan untuk berteriak: “Wasite Emyu!”

BACA JUGA Manchester United Sudah Dapat Penalti, Bahkan Sebelum Liga Mulai, Thanks to Harry Maguire dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Arsenal, Arteta, dan Pepe Harus Berhenti 'Cengeng', Hidup dalam Gelembung, dan Merasa Baik-baik Saja