MOJOK.COJika AMN tidak sadar, dia hanya sebatas bunga layu Arsenal, bahkan sebelum sempat mekar sepenuhnya. Layu mengikuti Bellerin, atau mekar seperti Bukayo Saka.

Pada kadar tertentu, saya yakin sejarah di sepak bola selalu berulang. Terutama ketika kita bicara soal regenerasi. Pemain akan selalu datang dan pergi, tetapi klub bertahan selamanya. Fakta ini juga yang membuat kita tidak boleh lupa esensi mendukung sebuah klub. Siapa yang akan kita cintai sepenuh hati? Pemain atau klub?

Sepak bola modern menuntut siapa saja yang hidup di dalamnya untuk punya sikap sempurna. Profesional, sadar dengan tanggung jawab, dan mampu menekan ego. Pada posisi ini, sebuah klub bisa diibaratkan seperti seseorang yang sedang kesusahan mengejan mengeluarkan tahi di pagi hari. Perlu kekuatan perut untuk “mementaskan” bekas pencernaan itu.

Kotoran, tentu saja harus dibuang. Jika tidak, tubuhmu bakal sakit. Sebuah klub selalu punya stok pemain muda potensial. Namun, ketika gagal dientaskan, dia hanya akan menjadi semacam “kotoran yang mengganjal”. Bikin perut tambah sakit dan beragam penyakit akan datang. Iya, sayang sedang bicara soal Arsenal, Hector Bellerin, Bukayo Saka, dan Ainsley Maitland-Niles.

Sebelum bulan September 2019, gaya bermain Bellerin sudah sangat berubah. Bek kanan yang kini berusia 24 tahun itu sudah kehilangan akselerasinya. Sebuah kemampuan yang membuat Bellerin menjadi salah satu bek muda terbaik pada masanya. Sebuah atribut yang saat itu sukses menutupi berbagai kelemahannya.

September 2019 petaka itu datang. Panggungnya adalah laga Arsenal vs Chelsea. Ketika hendak berbalik badan, otot ACL Bellerin koyak. Bek asal Spanyol itu absen selama 240 hari dan absen di 31 pertandingan. Penderitaannya belum usai. Setelah selesai menjalani rehabilitasi ACL, Bellerin kembali cedera. Kali ini hamstring, yang membuatnya absen lebih dari satu bulan.

Baca juga:  Pucat Pertandingan Arsenal vs Chelsea Karena Dikejar Setan

Dua cedera itu sukses memangkas semua kelebihan Bellerin. Kini, yang tersisa hanya pengalaman dan mentalnya saja. Atribut sebagai bek kanan banyak yang tereduksi. Mohon maaf kalau saya terlalu tega. Namun, bagi saya, mantan bek jebolan akademi Barcelona itu sudah layu.

Bellerin layu, Bukayo Saka mekar

Pemain datang dan pergi, tetapi klub akan selalu ada. Bukayo Saka, seperti sebuah tunas bunga, mekar pada saat yang tepat. Ketika Arsenal bermasalah dengan cedera. Masalah yang begitu akrab dengan klub ini, Bukayo Saka hadir. Pada titik tertentu, mekarnya Bukayo Saka memang “dipaksa”. Seperti kemunculan Bellerin beberapa tahun yang lalu.

“Sepak bola tidak akan menunggu,” kata Hector Bellerin ketika menggambarkan situasi di sekitar pertandingan debutnya untuk Arsenal. Bellerin melakoni debut untuk Arsenal di usia 19 tahun. Dia bermain di penghujung babak kedua, menggantikan Mikel Arteta, dan bermain sebagai gelandang sentral, bukan bek kanan.

Kini, kalimat yang dia ucapkan dulu sekali “memakan” Bellerin sendiri. Arsenal, sekali lagi mohon maaf, kehilangan bek kanan terbaiknya. Secara fisik dia akan selalu ada. Namun, secara performa dan kebutuhan skuat, sudah saatnya Arsenal “mengejan” dan mementaskan Ainsley Maitland-Niles.

Perlu diakui kalau Ainsley Maitland-Niles (AMN) memang bek kanan yang lebih lengkap ketimbang Bellerin. Dia punya kemampuan yang tidak jauh dari standar yang ditetapkan Bukayo Saka saat ini. Bahkan, atribut versatility AMN bisa membuatnya menjadi pemain yang dua kali lebih hebat ketimbang Bukayo Saka di Arsenal.

Sayang. Sangat disayangkan. Pemain asal Inggris itu punya ego sebesar dunia. Beberapa kali ia menegaskan kalau posisinya di Arsenal adalah gelandang sentral. Kalau hanya berhenti sampai di situ, kita bisa memakluminya. Toh Bukayo Saka pernah menegaskan kalau dia masih menyimpan asa bermain sebagai winger kiri.

Namun, kita bisa memetakan besarnya ego AMN dari sikap Mikel Arteta. Beberapa kali Arteta menegaskan kalau hanya mereka dengan sikap sempurna di lapangan latihan yang akan mendapatkan kesempatan bermain. Silakan telusuri pernyataan Eddie Nketiah soal Arteta. Nketiah mengungkapkan kalau Arteta tidak memandang senioritas. Arteta objektif menilai.

Baca juga:  Hasil Imbang Arsenal vs Atletico Madrid Itu Cerminan Kekecewaan ala Arsene Wenger

Padahal, AMN harus sadar kalau sekarang adalah saat yang tepat untuk menancapkan keberadaannya di tim utama. Ketika Bellerin sudah layu dan bisa diganti kapan saja. Ketika tidak ada lagi bek kanan yang punya potensi sebesar dirinya. Tidak juga Cedric Soares yang didatangkan Arsenal di Januari 2020.

Bukayo Saka sudah menunjukkan caranya. Tidak rumit dan bisa dilakukan siapa saja. Ini hanya masalah kesadaran akan tanggung jawab dan kelihaian menekan ego. Bukayo Saka akan menjadi pilihan utama ketika dia bekerja sangat keras. Dunia selalu bekerja untuk mereka yang total menjalani tanggung jawab.

Apakah kamu pembaca manga One Piece? Kalau iya, tentu kamu mengenal tokoh bernama Tom yang merancang Oro Jackson kapal legendaris milik Gol D. Roger. Tom selalu menegaskan, dalam setiap upaya, lakukan dengan DON sepenuh hati.

Pesepak bola dan semua atlet di dunia ini tahu kalau totalitas adalah salah satu syarat sukses. Bukayo Saka selalu berusaha menunjukkan DON di setiap kesempatan yang dia dapat. Bukankah sangat mudah mengerjakan sebuah tugas ketika kamu punya role model cetak birunya?

Masalah ini ada di Pundak Arteta dan AMN sendiri. Apakah keduanya bisa membantu Arsenal mengejan untuk mengeluarkan “kotoran” di dalam diri AMN? Ingat, bunga yang layu, akan disusul oleh mekar bunga lainnya. Jika AMN tidak menyadarinya, dia hanya sebatas bunga yang menunggu layu, bahkan sebelum sempat mekar sepenuhnya.

BACA JUGA Bukayo Saka dan Resonansi Awal Karier Bellerin di Arsenal atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.