• 12
    Shares

MOJOK.COMasa-masa kesepian ketika rehabilitasi panjang akan begitu berat bagi Hector Bellerin. Masa-masa di mana pengalaman Laurent Koscielny dibutuhkan.

Enam menit waktu berjalan, Atletico Madrid menjamu Arsenal di semifinal Liga Europa ketika mimpi buruk itu terjadi. Laurent Koscielny, secara tiba-tiba, terbaring di atas rumput. Ia berteriak, ia menangis. Perpaduan kemarahan, kekecewaan, dan rasa sakit yang luar biasa ketika ia menangis.

Bukan kekalahan Arsenal atas Atletico Madrid yang membuat sesak dada ini malam itu. Adalah fakta bahwa The Gunners tidak akan diperkuat Koscielny dalam waktu yang panjang, yang sukses membuat malam itu terasa semakin getir. Kekalahan, adalah bagian abadi dalam sepak bola, demikian juga cedera. Namun, ketika kamu ditinggal pergi oleh orang yang paling kamu sayangi, paling kamu andalkan, bekasnya terasa lebih lama ketimbang satu kekalahan.

Cedera Achilles itu memaksa Koscielny absen hingga tujuh bulan. Dan, rasa sakit yang ia alami bukan hanya soal putusnya otot di bagian ankel, tetapi ketika harus menjalani masa rehabilitasi di waktu yang salah. Memang, yang namanya cedera dan rehabilitasi panjang tidak pernah punya waktu yang benar. Jenis petaka di mana tidak ada pesepak bola yang mau merasakannya.

Setelah Koscielny pernah menepi dalam waktu yang sangat panjang, kini giliran Hector Bellerin. Bek kanan asal Spanyol itu diprediksi akan absen dalam waktu yang sangat lama. Sembilan bulan, mirip seperti durasi cedera Koscielny, membuat musim 2018/2019 boleh dikatakan usai untuk Hector Bellerin.

Selasa (22/1), Arsenal merilis berita resmi perihal cedera Bellerin. Bek kanan berusia 23 tahun tersebut menderita sobek bagian Anterior Cruciate Ligament (ACL). Setelah nanti dilakukan operasi, Bellerin akan absen hingga sembilan bulan. Durasi yang lebih lama ketimbang cedera Koscielny.

Cedera ACL merupakan salah satu cedera yang ditakuti pesepak bola. Jika proses operasi dan rehabilitasinya tidak berjalan dengan ideal, karier si pemain akan dipertaruhkan. Pulih seperti sedia kala adalah sebuah tantangan. Tidak hanya “kecanggihan” medis saja yang berbicara. Mental dan kemauan untuk bekerja keras yang akan menentukan.

Baca juga:  Prediksi Arsenal vs West Ham: Momentum Kebangkitan Arsenal dan Unai Emery

Sekarang kamu tahu betapa sakit dan menderitanya Bellerin. Fans Arsenal yang masih membuat cedera ini sebagai bahan bercanda mungkin perlu dicopot lututnya dan dihancurkan semua sendi-sendi di tubuhnya. Bajingan tengik, tak pantas menikmati sepak bola.

Rasa sakit setelah operasi itu tidak akan hilang. Setelah rasa sakit yang sedikit mereda, si pemain akan diserbu oleh rasa sakit dalam bentuk yang lain. Yang saya maksud adalah rasa sakit karena kesepian. Rehabilitasi dalam waktu yang panjang, terpisah dari kawan sepermainan, terpisah dari keluarga adalah masa-masa yang bajingan betul. Sakit, masa-masa ini begitu sensitif. Kesepian ketika rehabilitasi adalah satu dari banyak faktor yang bisa mengakhiri karier seorang pesepak bola.

Seorang pesepak bola profesional seperti Koscielny dan Bellerin akan tetap digaji ketika absen dalam waktu yang lama. Namun, bagi pesepak bola, kebahagian paling hakiki adalah mendapatkan kepercayaan untuk turun bermain. Bukan uang, bukan nama nama besar. Tidak ada yang bisa menandingi nikmatnya merumput secara rutin setiap minggu. Kepercayaan, nilai yang sangat berarti bagi manusia.

Untuk saja, menjelang masa-masa kesepian, Bellerin punya role model untuk menghadapinya. Tak lain, tak bukan, ia adalah Koscielny.

Koscielny cedera ketika ia dipercaya menjadi salah satu kapten timnas Prancis. Ia hampir selalu bermain ketika bugar. Cedera ACL yang ia derita tentu saja menutup kesempatan bermain di Piala Dunia. Dan yang bikin dada ini sangat sesak, Prancis juara dunia ketika dirinya tidak bisa ikut menikmati.

Dada ini semakin sesak ketika timnas Prancis mengundang Koscielny ke laga final melawan Kroasia. Ia sempat ragu. Ia sempat sedih. Ia tidak bermain bersama rekan-rekannya. Ia merasa tidak pantas ambil bagian dalam perayaan kompetisi sepak bola paling besar di dunia itu.

Semakin menyedihkan ketika Prancis juara dan Koscielny diundang ke dalam ruang ganti untuk sama-sama merayakan gelar juara. Ia tersenyum, ia terlihat bahagia ketika berpose bersama rekan-rekannya yang bermain penuh di laga final. Namun, kita semua tahu betapa sunyi hati Koscielny. Ia, yang seharusnya ikut berjuang, harus puas hanya menonton kawan-kawannya dari layar kaca.

Baca juga:  Arsenal Dibantai Itu Sebuah Keniscayaan, Gooners: Liverpool Hobi Jadi Pecundang

Setelah masa rehab yang panjang dan menyakitkan, tidak bermain dan merasakan makna juara bersama Prancis, Koscielny melakoni debut pahit ketika Arsenal kalah dari Southampton. Pemain tanpa mental kuat, tidak akan sampai pada tahap ini.

Sebuah tahap ketika ia menjadi pemain terbaik di laga melawan Chelsea, ketika Arsenal begitu butuh kemenangan setelah periode buruk. Ia bermain hampir sempurna, Arsenal tak kebobolan. Solid, ia mencetak satu gol. Kebahagiaannya begitu meluap ketika merayakan gol. Seperti sumbat yang terbuka, ia menumpahkan semua kegelisahan dan penderitaan selama berbulan-bulan di satu perayaan gol itu.

Koscielny cedera di usia 32 tahun. Usia senja bagi pesepak bola. Banyak yang memperkirakan kariernya sudah tamat, apalagi setelah debut penuh petaka itu. Kos dikenal sebagai bek medioker ketika ia baru bergabung dengan Arsenal. Namun, di penghujung kariernya bersama Arsenal ini kita tahu bahwa keberadaannya tidak ternilai. Ia bukan hanya kapten. Kos adalah sosok manusia inspiratif yang perlu selalu kamu ingat.

Sosok inspiratif yang perlu diingat, terutama oleh Bellerin. Karier Bellerin masih sangat panjang. Cedera ini mungkin akan menjadi yang paling berat, mungkin tidak. Namun, satu hal yang pasti, semuanya hanya soal waktu, sementara yang abadi adalah deteminasi dan kerja keras untuk mengalahkan petaka.

Bellerin sungguh beruntung. Ia punya banyak role model di bidang fashion, dunia yang sedang ia sukai. Untuk dunia sepak bola, terutama di masa-masa sepi, Bellerin punya Papa Koscielny sebagai role model.

Riwayat naskah:

Naskah ini kali pertama tayang pada 21 Januari 2019. Sebelumnya, dituliskan bahwa Hector Bellerin didiagnosa menderita cedera sobek quadriceps tendon berdasarkan analisis David J. Chao, seorang ahli ortopedik yang pernah menjadi dokter tim San Diego Chargers, sebuah klub NFL.

Pada 22 Januari 2019, Arsenal merilis berita resmi bahwa Bellerin menderita sobek Anterior Cruciate Ligament (ACL). Rilis yang bersangkutan sudah dicantumkan di dalam naskah.

  • 12
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles