MOJOK.COSaya sarankan Mourinho meminjam setrika milik Tuchel. Biar lidah Mourinho nggak lagi kusut, tapi licik seperti cara bermain Chelsea akhir-akhir ini.

Thomas Tuchel langsung menjawab harapan manajemen Chelsea setelah menggantikan Frank Lampard. Tuchel menghadirkan keteraturan di cara bermain. Pelatih asal Jerman itu seperti datang membawa setrika untuk menyetrika kain Chelsea yang kusut.

Dari tiga laga terakhir, Chelsea bermain dengan sebuah kejelasan. Saking jelasnya, cara bermain mereka terlihat sangat rapi. Cukup kontras dengan peride akhir Lampard bersama The Blues. Dari kerapian itu muncul kenyamanan, baik ketika bertahan maupun menyerang.

Chelsea yang tak lagi kusut itu paling terlihat ketika dijamu Tottenham Hotspur pada Jumat (5/2) dini hari. Kerapian pemosisian dan pergerakan pemain membuat mereka sempat mencatatkan 70 persen penguasaan bola dengan 92 persen akurasi umpan. Sangat nyaman meladeni pressing setengah hati dari Spurs.

Memang, perlu diakui, proses penyelesain peluang Chelsea masih tumpul. Meski bisa dengan mudah masuk ke kotak penalti, final ball yang dibutuhkan sebagai syarat terjadinya gol, jarang terjadi. Untuk urusan skor, The Blues bisa dikatakan “mujur” ketika Eric Dier menjegal Timo Werner di dalam kotak penalti.

Penalti yang dieksekusi Jorginho, tanpa teknik kijang melompat, mulus masuk gawang Hugo Lloris. Selepas gol itu, Chelsea masih dominan. Sementara itu, wajah Spurs, sama seperti performa Dier, sungguh kusut. Spurs tak lagi punya daya sengat.

Di pinggir lapangan, Jose Mourinho mengenakan sweater berwarna abu-abu dipadukan jeans warna belel. Coba Mourinho nambah pakai bucket hat. Pasti dikira bapak-bapak mau mancing di pinggir telaga. Bawa bekalnya teh tawar panas dimasukkan botol minum Tupperware yang kalau hilang pasti diamuk istri, rokok Dji Sam Soe, dan ketela rebus dibungkus daun pisang.

Mourinho dengan rambutnya yang berwarna putih menunjukkan ekspresi kusut sepanjang laga. Gimana nggak kusut kalau Spurs nggak punya solusi untuk menghadapi lawan yang bermain sangat rapi. Selama ini, Spurs terlalu bergantung kepada daya sengat Son Heung-Min dan aksi teatrikal Harry Kane. Ketika Kane absen, Spurs tak punya cara bermain lain.

Mereka masih mencoba bermain dengan serangan balik. Namun, sayang, Son yang menjadi ujung daya sengat itu, malah sibuk tracking back membantu Ben Davies, bek kiri Spurs, yang banyak dicecar Callum Hudson-Odoi dan Reece James. Alhasil, ketika transisi menyerang muncul, Son terlambat dan tidak banyak terlibat.

Hampir selama 70 menit, Davies dan Dier banyak diincar Tuchel. Jadi, Dier dan Davies memang kerepotan ketika meladeni Hudson-Odoi, James, dan Mason Mount (gelandang serang Chelsea yang banyak bergerak ke kanan). Situasi 2 vs 3 ini membuat Spurs kesulitan. Kusut sekali.

Thomas Tuchel dikenal sebagai pelatih yang well-prepared. Dia mengatur timnya berdasarkan kelemahan lawan yang sudah dianalisis secara komplet dalam waktu singkat. Dier memang bukan bek tengah yang super konsisten, sementara Davis juga sama saja. Titik ini dicecar Tuchel sampai bikin Spurs jadi kusut.

Spurs terlihat semakin kusut ketika kita menyimak beberapa fakta yang terjadi. Pertama, Tuchel menjadi pelatih pertama yang bisa menjaga gawang Chelsea nir-bobol di tiga laga pertama sejak Mourinho melatih Chelsea di 2004.

Kedua, rata-rata posisi pemain Spurs tidak tercatat ada di dalam kotak penalti Chelsea. Son, sebagai ujung kanal serangan balik, rata-rata posisinya ada di sekitar lingkarang tengah. Artinya, cara yang digunakan Mourinho tidak efektif, tetapi tidak juga diubah. Bebal? Yah, bisa jadi bapak-bapak tukang mancing ini mungkin mulai bebal.

Ketiga, Mourinho terlihat semakin frustrasi bersama Spurs. Selepas laga, seorang wartawan bertanya kepada Mourinho tentang alasannya tidak menurunkan Gareth Bale melawan Chelsea. Mourinho menjawab: “Pertanyaanmu bagus, tapi kamu tidak layak mendapat jawaban.”

Lidah Mourinho memang biasanya licin di depan wartawan. Namun, kali ini, jawabannya tidak terdengar cerdik, tetapi sangat nakal. Well, bisa sih kalau mau dibilang Mourinho tidak siap dengan pertanyaan itu dan tidak punya jawabannya. Makanya, yang keluar adalah gerutuan orang tua yang mulai bebal.

Saya sarankan Mourinho meminjam setrika milik Tuchel. Biar lidah Mourinho nggak lagi kusut, tapi licin seperti cara bermain Chelsea akhir-akhir ini.

BACA JUGA Spurs yang Spursy: Arsenal dan Manchester United Boleh Jadi Badut, tapi Status Pecundang Tetap Milik Tottenham Hotspur dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Kieran Tierney ‘Menampar’ Arsenal dan Kita Semua yang Mudah Menyerah