Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Uneg-uneg

Grup WhatsApp yang Mempersulit Komunikasi

Redaksi oleh Redaksi
11 Desember 2022
A A
Grup WhatsApp nggak penting

Surat orang biasa.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Entah mengapa orang-orang gemar sekali membuat banyak grup WhatsApp. Misalnya, ketika kuliah, ada grup angkatan. Nanti dipecah lagi ada grup kelas. Lalu nanti dibuat juga grup khusus setiap mata kuliah. Ditambah lagi ada grup keluarga, grup alumni, grup komunitas, dan masih banyak grup lainnya.

Fitur grup WhatsApp bagi saya tidak mempermudah orang-orang untuk berkomunikasi. Sebab, sebagian besar anggota lebih senang menjadi pembaca pasif. Ketika ada salah satu anggota yang mengirim pesan, pasti hanya satu sampai dua orang yang merespons. Anggota-anggota pasif itu salah satunya adalah saya sendiri.

Bukan tanpa alasan saya bersikap demikian. Ketika ada tugas kelompok, teman-teman saya semangat sekali langsung membuat grup WA. Padahal, ketika diajak diskusi atau ada yang bertanya di grup, pasti yang menanggapi hanya satu orang. Bahkan, ada juga yang menanggapi lewat jalur pribadi. Kita bertanya di grup, kenapa dijawabnya di jalur pribadi? 

Ditambah lagi kalau ada anggota yang sudah ditandai berkali-kali di grup untuk segera muncul, malah hanya mengabaikan. Ketika dihubungi secara pribadi barulah merespons.

Karena banyak yang cuek, saya pun jadi malas muncul di grup WhatsApp. Sejujurnya saya enggan bergabung ke grup WhatsApp. Khususnya grup yang tidak berkaitan dengan perkuliahan. Namun, grup-grup kuliah ini masih lumayan penting juga karena akan ada informasi-informasi yang berpengaruh untuk masa depan saya.

Sebetulnya fitur grup di WhatsApp ini memiliki tujuan yang mulia yakni untuk menjaga komunikasi dengan teman, sahabat, dan keluarga. Adanya grup WhatsApp juga mengecilkan kemungkinan untuk hilang kontak dengan mereka. Kita sangat mudah untuk bertukar kabar. Kalau ada informasi penting pun bisa langsung dikirim ke grup saja, tanpa harus capai-capai menghubungi secara pribadi.

Namun, tujuan mulia itu ternyata kurang sesuai dengan harapan. Hal ini dapat dilihat dari anggota-anggota grup yang lebih senang hanya membaca pesan. Bahkan, hanya sekadar membuka grup tanpa membacanya. Paling satu sampai dua orang yang merespons.

Jadi, untuk apa sebetulnya grup WhatsApp? Adanya grup WhatsApp malah mempersulit komunikasi. Lagi pula, ujung-ujungnya, kan, komunikasi lewat jalur pribadi. Saya rasa grup WhatsApp tidak membuat hubungan pertemanan dan persaudaraan menjadi erat. Toh lambat laun para anggota akan keluar satu per satu kalau tidak ada kepentingan yang berkelanjutan.

Vivi Intan
Pangestuti Perum BCK Kota Cilegon, Provinsi Banten, [email protected].

Uneg-uneg, keluh kesah, dan tanggapan untuk Surat Orang Biasa bisa dikirim di sini

Terakhir diperbarui pada 11 Desember 2022 oleh

Tags: aplikasigrup wawhatsapp
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic
Sehari-hari

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

8 Juni 2026
Cara Jawa Tengah (Jateng) menjaga inflasi dan ketersediaan pangan MOJOK.CO

Cara Jawa Tengah Jaga Inflasi dan Ketersediaan Pangan agar Harga Terkendali dan Keterjangkauan Pangan bagi Masyarakat Terjamin

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.