Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

Redaksi oleh Redaksi
18 Mei 2026
A A
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Ilustrasi - Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai representasi perjuangan buruh, nama Marsinah terus hidup melampaui zaman. Namanya selalu menggema di tengah-tengah teriakan para buruh yang terus memperjuangkan kesejahteraan. 

Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo pun memberi kehormatan besar pada sosoknya. Pada 11 November 2025, Marsinah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Kemudian pada 16 Mei 2026 lalu, namanya diabadikan dalam monumen fisik bernama Museum Ibu Marsinah yang diresmikan di tanah kelahirannya di Nganjuk, Jawa Timur. 

Dalam pidatonya, Presiden menyebut bahwa Museum Ibu Marsinah didedikasikan sebagai simbol perjuangan dan penghormatan untuk kaum buruh. 

Bahkan ia menekankan bahwa bangsa Indonesia harus berdiri di atas azas keadilan sosial sebagai falsafah Pancasila dan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 tentang perekonomian Indonesia yang  dibangun atas asas kekeluargaan, di mana yang kuat membantu yang lemah. 

Maka dari itu, Museum Ibu Marsinah jangan sampai berhenti hanya sebagai simbol belaka. Tapi juga sejalan dengan realisasi untuk menjamin kesejahteraan kaum buruh yang kerap kali berada di posisi rentan. 

Saat Museum Ibu Marsinah diresmikan, jangan sampai kaum buruh masih dalam kondisi rentan miskin 

Merujuk data Badan Pusat Statistika (BPS) pada 5 Mei 2026, rata-rata buruh hingga Februari 2026 tercatat berada di angka Rp3,29 juta perbulan. 

Namun, jika dibedah dalam konteks buruh informal, kondisinya lebih miris. Dalam kajian Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), ditemukan realitas bahwa 80% pekerjaan di Indonesia didominasi oleh sektor informalnya. 

Masalahnya, kajian itu mencatat, rata-rata buruh informal menerima gaji awal sebesar Rp1,6 juta. Jelas masih jauh untuk memenuhi hidup layak. 

Kondisi tersebut mendorong para buruh informal untuk bekerja lebih panjang (overwork) bahkan harus menjalani pekerjaan ganda (multiple jobs). 

Itu pun masih dibayangi dengan potensi PHK. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan, sepanjang 2025, PHK mencapai lebih dari 79.302 pekerja. Bahkan, Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) mencatat, hingga Oktober 2025 ada sebanyak 126.160 pekerja yang menjadi anggotanya telah mengalami PHK. 

Belum lagi, para buruh di sektor informal menjadi kelompok yang rentan miskin karena selain upah rendah, juga harus berhadapan dengan ketiadaan kontrak kerja yang jelas, jaminan kesejahteraan sosial, hingga jaminan hari tua. 

Atas situasi tersebut, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut, sekitar 10 tahun dari sekarang, tepatnya pada 2038 nanti, 100 juta WNI diproyeksi terancam tidak memiliki tabungan pensiun. 

Menghidupkan Marsinah dalam ingatan juga harus menghidupkan cita-citanya 

Maka, keberadaan Museum Ibu Marsinah akan jauh lebih paripurna jika tidak hanya difungsikan sebagai simbol, penghormatan, atau monumen untuk mengingat bahwa ada sosok buruh seperti Marsinah.

Lebih jauh, cita-cita Marsinah pun harus turut dihidupkan. Yakni bagaimana buruh akhirnya benar-benar bisa hidup layak, tidak hanya sekadar menjadi jargon ucapan atau subjek penggembira dalam seremonial Hari Buruh tiap satu tahun sekali di tanggal 1 Mei. 

Iklan

Namun, setelah hari itu berlalu, para buruh akan kembali menghadapi realitas pahit: upah murah, kontrak tak pasti, jam kerja panjang, ancaman PHK, hingga kemiskinan yang menanti di masa tua. 

Para buruh kelewat sering disanjung-sanjung dengan narasi sebagai pahlawan ekonomi. Akan tetapi, ketika menuntut kenaikan upah dan kesejahteraan hidup, mereka selalu membentur janji-janji normatif yang tidak kunjung terealisasi. 

Maka, jika benar-benar ingin menghormati Marsinah, maka negara jangan hanya sekadar mengingat Marsinah setiap Hari Buruh, tetapi juga mengingat para buruh yang sampai hari masih hidup denganb bayang-bayang ketidakpastian dan jauh dari kelayakan. 

Realisasi janji Prabowo

Pada peringatan Hari Buruh 2026, Presiden Prabowo menyampaikan sejumlah janji untuk kaum buruh, di antaranya: 

  1. Mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2026 tentang Pembentukan Satuan Tugas Mitigasi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tujuannya untuk melindungi para pekerja dari adanya risiko pemutusan hubungan kerja.
  2. Membangun klaster-klaster (hunian) dekat kawasan industri yang otomatis dekat dengan tempat bekerja para buruh.
  3. Mewujudkan harapan para orang tua pekerja yang memiliki anak, yakni daycare di tempat kerja atau di lingkungan perumahan buruh.
  4. Potongan tarif aplikator untuk ojek online dari sebelumnya sebesar 20% menjadi hanya 8%. 
  5. Menjanjikan BPJS Kesehatan dan jaminan keselamatan kerja bagi para pengemudi ojek online.
  6. Pemberian kredit rakyat dengan bunga maksimal 5% pertahunnya.
  7. Telah meratifikasi Konvensi 188 International Labour Organization (ILO) yang dibubuhkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 25 Tahun 2026 untuk memastikan perlindungan dan kesejahteraan bagi pekerja sektor perikanan. Sekaligus meningkatkan kesejahteraan para nelayan melalui program kampung nelayan. 
  8. Memperluas juga jaminan sosial bagi pekerja di sektor informal. 

Pada prinsipnya, minimal janji-janji tersebut harus direalisasi, juga keseriusan negara dalam menjamin kesejahteraan buruh, tidak hanya sebagai slogan yang diulang-ulang satu tahun sekali. Sehingga peresmian Museum Ibu Marsinah tidak hanya berakhir menjadi simbol tidak esensial belaka. 

Redaksi Mojok.co

BACA JUGA: 8 Tuntutan Jujur Buruh di Mayday 2026: Ciptakan Lapangan Kerja, Kendalikan Dampak AI, hingga Lindungi Pekerja Platform Digital atau sikap Mojok lainnya di Tajuk

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2026 oleh

Tags: buruhkaum buruhkesejahteraan buruhmarsinahmuseum marsinahpilihan redaksiprabowo
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO
Urban

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO
Catatan

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO
Urban

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO
Seni

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.