Untuk apa kelas menengah ke bawah mempertahankan gengsi untuk standar dan tren media sosial?
Lebih jauh, struktur ekonomi Indonesia sendiri tidak sepenuhnya mendukung mobilitas naik kelas. Banyak pekerjaan baru bersifat informal dan berproduktivitas rendah.
Pekerjaan tersebut memang cukup untuk bertahan hidup. Tetapi tidak cukup untuk meningkatkan kesejahteraan. Maka, perlu disadari bahwa dalam kondisi seperti ini, konsumsi tinggi—demi mengikuti standar atau tren media sosial—justru menjadi jebakan bagi diri sendiri.
Pada titik inilah kelas menengah harus mulai mawas diri. Di tengah ketidakpastian ekonomi, pilihan paling rasional bukanlah mempertahankan gengsi konsumsi, melainkan membangun ketahanan finansial.
Yang harus dilakukan adalah efisiensi belanja/konsumsi dengan membedakan kebutuhan dan keinginan. Mengurangi konsumsi yang bersifat non-vital/non-esensial.
Jika secara fungsi hp dengan harga Rp2 jutaan sudah cukup untuk menunjang mobilitas, kenapa harus cari hp di harga Rp5 jutaan ke atas? Kalau motor lama masih berfungsi dengan baik, ngapain harus beli motor baru dengan harga mahal hanya agar demi dipuji orang lain? Apalagi sampai utang bank.
Tidak hanya itu, kelas menengah juga harus menaruh prioritas pada tabungan. Dengan mengatur pola konsumsi, rasa-rasanya bukan hal tidak mungkin untuk menabung. Seminimal-minimalnya punya dana darurat sebagai strategi bertahan dalam ketidakpastian, sebelum nanti bicara lebih jauh soal investasi dan potensi bisnis yang bisa dikembangkan.
Orang kaya saja lebih pilih hindari belanja non-esensial
Lagipula, untuk apa kelas menengah memaksakan diri mengikuti gaya hidup ala orang kaya. Sementara orang kaya saja cenderung menghindari belanja non-esensial.
Dalam laporan Yahoo Finance, ada beberapa kebiasaan kelas menengah bahkan miskin dengan kecenderungan mengikuti gaya hidup ala orang kaya tapi sebenarnya dihindari oleh orang kaya sendiri, antara lain:
- Cicilan utang panjang: Menghindari menjeratkan diri pada utang untuk belanja non-esensial yang berujung pada jeratan cicilan. Karena jeratan cicilan akan memberi dampak ekonomi baru bagi seseorang: ketika uang yang dihasilkan justru harus dialihkan untuk membayar utang/cicilan.
- Gadget terbaru: Tren gadget terbaru tidak ada habisnya. Maka, batasannya adalah pada aspek fungsi. Karena kalau mengikuti tren, maka pemasukan akan terbuang sia-sia.
- Biaya pendidikan: Orang kaya cenderung berhitung matang untuk investasi pendidikan. Misalnya, kuliah tidak asal kuliah. Tapi benar-benar berhitung soal prospek kerja. Karena berkaca dari banyak kasus, gara-gara kuliah sekadar kuliah—cuma atas dasar gengsi nama besar PTN bahkan jurusan—akhirnya lulus tanpa kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
- Memaksakan diri membeli mobil mahal: Mojok beberapa kali menulis, bagaimana mobil mahal sudah menjadi standar sukses dalam lingkaran sosial tertentu. Alhasil, banyak orang—yang pemasukannya sebenarnya pas-pasan—-memaksakan diri untuk membelinya. Larinya tetap pada pilihan pertama: terjerat utang dengan cicilan panjang. Padahal, kalau tidak ada uang dan tidak butuh-butuh amat, kenapa harus memaksakan diri untuk membeli?
Redaksi Mojok.co
BACA JUGA: Jangan Minder Kalau Kamu Belum “Jadi Orang” di Usia 30-an, Itu Masuk Akal Secara Biologis dan Sosial atau konten-konten Mojok lainnya di Mojok.co














