Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Jangan Minder Kalau Kamu Belum “Jadi Orang” di Usia 30-an, Itu Masuk Akal Secara Biologis dan Sosial

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Februari 2026
A A
orang tua, ortu temani anak utbk ugm.MOJOK.CO

Ilustrasi orang tua dan anak (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Banyak orang tua saat ini merasa bingung, bahkan stres, melihat anak-anak mereka yang sudah berusia 20-an atau bahkan 30-an, tapi seolah-olah belum “jadi orang”. Ada yang masih tinggal serumah, ada yang finansialnya belum stabil, atau ada yang terlihat belum punya arah hidup yang jelas. 

Fenomena ini seringkali menimbulkan ketegangan. Orang tua merasa gagal mendidik anak agar mandiri, sementara sang anak merasa tertekan karena merasa selalu dikritik atau dianggap masih kecil.

Ternyata, pangkal masalah dari fenomena ini bukan cuma soal kemalasan atau “mental tempe”. Namun, ada ada alasan biologis dan sosial yang mendasarinya.

Ternyata, otak manusia belum “matang” di usia 21

Masalah di atas, dijelaskan secara terang oleh psikoterapis dan konselor anak asal Inggirs, Julia Samuel, dalam esai panjangnya di The Guardian. Salah satu poin paling kuat dalam artikel “Adolescence lasts into your 30s – so how should parents treat their adult children?” tersebut adalah hasil riset dari University of Cambridge. 

Selama ini, anggapan orang tua, hukum, dan norma sosial menganggap usia 18 atau 21 tahun sebagai ambang batas kedewasaan. Namun, secara biologis, otak manusia belum selesai berkembang pada usia tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa fase perkembangan otak remaja sebenarnya berlangsung hingga seseorang menginjak usia 32 tahun. Bagian otak yang disebut prefrontal cortex–yang bertanggung jawab atas logika, pengendalian impuls, dan perencanaan masa depan–adalah yang terakhir mencapai kematangan. 

Artinya, “anak-anak muda di usia 20-an hingga awal 30-an secara biologis memang masih berada dalam masa transisi,” kata Julia. Menurutnya, mereka sedang dalam fase “dewasa muda yang baru muncul” atau emerging adulthood, sebuah periode yang penuh dengan ketidakpastian, dan pencarian jati diri.

Bukan malas, tapi karena zaman telah berubah

Julia juga menekankan, kita tidak bisa mengabaikan bahwa dunia tempat anak muda tumbuh sekarang jauh lebih kejam secara ekonomi dibandingkan 30 atau 40 tahun lalu. Ia mencatat, sekitar sepertiga orang dewasa muda (usia 18-34) tetap tinggal bersama orang tua mereka.

Faktornya bukan sekadar kenyamanan, tetapi harga properti yang tidak masuk akal, biaya pendidikan yang makin tinggi, dan dunia kerja yang sangat kompetitif. 

“Ketika hampir 60 persen orang tua tetap membantu anak mereka secara finansial, ini bukan semata-mata tanda ‘manja’, melainkan adaptasi kolektif terhadap realitas ekonomi yang sulit,” ungkap Julia. 

Orang tua seringkali merasa terkuras secara emosional dan materi. Namun, mereka juga tidak tega melihat anak mereka kesulitan di luar sana.

Jebakan pengasuhan “helikopter”

Masalah sering timbul ketika cinta orang tua berubah menjadi kontrol yang berlebihan. Karena merasa dunia di luar sana berbahaya atau sulit, orang tua sering terjebak dalam gaya pengasuhan helicopter parenting–selalu siap “terbang” di atas kepala anak untuk membantu, mengarahkan, atau menyelamatkan mereka dari kesalahan.

Julia menekankan bahwa keterlibatan berlebihan ini justru berbahaya bagi kesehatan mental anak muda. Hal ini bisa mengikis rasa percaya diri anak. 

“Jika anak tidak pernah dibiarkan gagal atau memecahkan masalahnya sendiri, mereka tidak akan pernah percaya bahwa mereka mampu bertahan hidup sebagai orang dewasa,” katanya.

Hal ini pun menciptakan lingkaran setan: orang tua cemas melihat anak tidak mandiri, lalu mereka membantu lebih banyak lagi, yang pada akhirnya justru membuat anak semakin tidak mandiri.

Orang tua harus bisa mengubah peran

Transisi yang paling sulit bagi orang tua adalah mengubah peran mereka. Selama 18 tahun pertama, peran orang tua adalah sebagai manajer–mengatur jadwal, memastikan sekolah beres, dan melindungi dari bahaya. 

Namun, ketika anak mencapai usia dewasa, peran tersebut harus bergeser menjadi “saksi yang penuh hormat” (respectful witness).

Menjadi saksi berarti hadir untuk mendengarkan, memberikan dukungan emosional, dan menawarkan solusi (yang bijak) hanya jika diminta. Ini memerlukan kedewasaan emosional dari pihak orang tua untuk menahan diri agar tidak memberikan nasihat yang tidak diminta atau kritik yang menghakimi.

Iklan

Orang tua harus membangun batasan di dalam rumah

Bagi keluarga yang tinggal bersama anak dewasa, Julia menyarankan komunikasi yang sangat jujur dan eksplisit. Sering kali konflik terjadi karena asumsi-asumsi yang tidak terucapkan. Ia menyarankan agar keluarga memiliki diskusi terbuka mengenai:

  • Kontribusi Rumah Tangga: Anak dewasa bukan lagi tamu atau anak kecil. Mereka harus memiliki peran dalam mengurus rumah, baik secara finansial maupun tenaga.
  • Privasi: Orang tua harus belajar untuk tidak mencampuri urusan pribadi anak, mulai dari hubungan asmara hingga bagaimana mereka mengelola keuangan atau ponsel mereka.
  • Rencana Masa Depan: Memiliki exit plan atau rencana kapan anak akan mandiri secara bertahap membantu mengurangi rasa frustrasi orang tua yang merasa anaknya “terjebak” selamanya.

Pada akhirnya, tulisan di The Guardian tersebut memberikan pesan bahwa pengasuhan tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya berkembang. Hubungan orang tua dan anak dewasa yang sehat adalah hubungan yang didasarkan pada rasa hormat yang setara.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Uneg-uneg dari Seorang Ibu yang Stres Anaknya Tidak Mempan dengan Ilmu Parenting atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2026 oleh

Tags: hubungan orang tua dan anakorang tuaparentingperkembangan biologis manusiaperkembangan otak manusiapertumbuhan manusia
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saat Kemerdekaan RI Belum Bisa Dirasakan Buruh. MOJOK.CO

Saat Kemerdekaan Belum Bisa Dirasakan Kelompok Buruh dan Pekerja

17 Agustus 2026
Kirab Budaya dan Karnaval Pembangunan Klaten Tahun 2025. MOJOK.CO

Karnaval Klaten 2026: Belajar Jejak Sejarah Mataram Kuno dan Keistimewaan Tiap Wilayah

16 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.