Bagi sebagian anak muda, hajatan besar-besaran di acara pernikahan itu cuma menjadi ajang pamer bagi orang tua mereka. Mempelai malah harus menanggung derita dari acara tersebut.
***
Kalau melihat lagi deretan foto pernikahannya, Tria (27) cuma tersenyum kecut. Sepanjang hari hajatan itu, ia merasa tak lebih dari sekadar pajangan.
Bayangkan saja, ia harus berdiri berjam-jam memakai baju adat yang berat dan terus tersenyum kaku kepada ratusan tamu yang lewat di depannya. Masalahnya, sebagian besar orang-orang yang bersalaman dengannya itu sama sekali tidak ia kenal.
Niat nikah secara sederhana, tapi dipaksa bikin hajatan besar-besaran
Bagi perempuan asal Kulonprogo ini, hajatan tersebut bukanlah pestanya. Acara dengan tenda besar yang menutup jalan desa itu, adalah panggung milik ibunya.
Padahal sejak awal, Tria dan suaminya punya rencana yang lebih simpel. Mereka sepakat hanya ingin menikah secara sah di Kantor Urusan Agama (KUA), dilanjutkan dengan makan-makan sederhana bersama keluarga dekat.
Mereka tidak ingin menghamburkan uang untuk acara besar.
“Padahal saya dan suami pengennya kecil-kecilan aja, ngundang teman dekat. Syukuran, udah. Nggak perlu sampai ada dangdutan segala,” kata Tria menceritakan rencananya yang berantakan itu kepada Mojok, April lalu.
Namun, rencana itu langsung ditolak mentah-mentah oleh ibunya. Di desanya, menikahkan anak tanpa menggelar hajatan besar masih dianggap sebagai aib keluarga. Ibunya lebih memikirkan pandangan tetangga ketimbang keinginan Tria.
“Di lingkungan tempat tinggal kami, tidak menggelar hajatan dianggap aib,” keluh Tria. “Ibu takut kalau acaranya biasa-biasa aja dianggapnya pelit, nggak ngumumi (pantas secara umum), atau malah dituduh hamil duluan.”
Omong kosong balik modal, yang ada malah nombok
Demi membungkam omongan tetangga dan mencari pengakuan, hajatan besar-besaran akhirnya digelar. Tria sempat menolak karena uang tabungannya dan calon suami sangat pas-pasan.
Namun, sang ibu mengeluarkan senjata andalan dengan menyebut kalu “hajatan pasti balik modal”. Ibunya sangat yakin uang sumbangan (amplop) dari tamu bisa menutupi semua biaya acara.
“Keluarga itu punya catatan dulu pernah datang ke hajatan siapa aja. Nyumbang di desa itu kan harus dibalikin lagi suatu hari nanti. Nah, ibu bilang mereka ini bakal balikin sumbangannya di hajatan saya,” jelas Tria menirukan ucapan ibunya.
Tria akhirnya mengalah. Kenyataannya, mayoritas tamu yang datang dan makan enak di pestanya adalah teman ibunya dan rekan bapaknya.
Sayangnya, setelah hajatan selesai, hitungan ibunya meleset jauh. Mitos balik modal itu tidak terbukti.
Saat tumpukan amplop dibuka, uangnya tidak menutupi biaya acara. Tetangga memang membalas sumbangan, tapi harga sewa tenda, katering, dan hiburan dangdut zaman sekarang sudah jauh lebih mahal.
“Hasilnya nombok. Utang di mana-mana. Dan siapa coba yang punya kewajiban ngelunasin kalau bukan saya dan suami?” ucap Tria. “Percuma kita merencanakan nikah dari A sampai Z. Ujung-ujungnya kudu ikut rencana orang tua.”
Duit tabungan beli rumah ludes buat ngasih makan orang asing
Cerita yang tak kalah menyesakkan juga dialami Dito (28). Lelaki asal Magelang ini masih sering geleng-geleng kepala jika mengingat resepsi pernikahannya.
Berdiri di pelaminan yang megah, Dito justru merasa seperti orang asing. Ia harus menyalami ribuan tamu yang wajahnya tak pernah ia kenal seumur hidup.
Tamu-tamu itu adalah rekan kerja bapaknya, kerabat jauh, hingga warga dari beda kecamatan. Dito sadar betul bahwa di sana, ia dan istrinya sekadar menjadi jalan agar orang tuanya punya alasan membuat acara besar di kampung.
Di balik acara meriah itu, ada rencana masa depan yang terpaksa dikorbankan. Selama bertahun-tahun sebelum menikah, Dito dan pasangannya hidup sangat hemat. Mereka menahan diri untuk tidak beli baju baru, jarang liburan, dan menabung ketat dari gaji bulanan mereka yang tak seberapa.
Tabungan sebesar Rp50 juta pun berhasil terkumpul. Rencananya, uang puluhan juta itu akan dipakai utuh untuk membayar uang muka (DP) kredit rumah atau KPR setelah menikah sederhana di KUA.
Namun, rencana matang selama tujuh tahun itu buyar demi gengsi keluarga besarnya. Orang tuanya ngotot meminta hajatan besar agar tidak dipandang sebelah mata oleh orang sekampung.
“Tujuh tahun, Mas. Tujuh tahun kami rela nahan nggak beli ini itu, ngumpulin gaji buat masa depan. Eh, ujungnya habis juga dalam sehari,” keluh Dito mengingat tabungannya yang melayang.
Kisah Dito ini pernah didokumentasikan Mojok dalam liputan berjudul “Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah”.
Alhasil, sebagai anak, Dito tak punya kuasa penuh dan akhirnya kalah suara. Tabungan beli rumah yang dikumpulkan susah payah itu terpaksa dipakai untuk membiayai pesta yang tidak ia inginkan.
Setelah hajatan yang ada cuma utang
Saat hajatan berlangsung, orang tuanya memang tampak sangat puas dan bangga. Mereka berhasil membuktikan diri sebagai keluarga yang mampu menjamu warga sekampung dan pantas dihormati di desa.
Sayangnya, harga dari gengsi orang tua itu terlalu mahal bagi kehidupan awal pernikahan Dito.
“Asli Mas, saya nyesek kalau inget,” kata Dito. “Uang puluhan juta hasil nabung habis buat ngasih makan orang-orang yang bahkan saya nggak kenal.”
Keesokan harinya, pujian dari tetangga sudah menguap. Kursi-kursi tamu sudah diangkut pulang. Dito harus menghadapi realitas hidup yang sesungguhnya. Tabungan untuk membeli rumah impiannya telah berubah wujud menjadi tumpukan piring kotor dan sampah sisa makanan.
Alih-alih bersiap pindah ke rumah baru sesuai rencananya sejak awal, kehidupan pernikahan Dito justru dimulai dengan beban.
“Abis hajatan, malah pusing. Ujung-ujungnya sekarang saya sama istri masih numpang di rumah mertua,” tuturnya pelan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan