Menjelaskan pekerjaan bapak yang sebagai kuli bangunan adalah hal paling memalukan dan berat. Namun, sekarang menyesal tidak bisa bangga lagi karena bapak sudah tiada.
***
Empat puluh hari setelah bapaknya meninggal, Ardi (28), bukan nama sebenarnya, masih mengingat satu kebohongan kecil yang pernah ia lakukan berkali-kali. Kebohongan itu muncul setiap kali guru di sekolah bertanya tentang pekerjaan orang tuanya.
“Bapakmu kerja apa?” begitu kira-kira pertanyaannya.
Ardi tidak pernah menjawab pekerjaan bapaknya sebagai seorang kuli bangunan.
“Dulu saya jawabnya karyawan swasta. Kalau enggak, saya jawab pekerjaan ibu saya yang pedagang di pasar,” katanya kepada saya, Rabu (16/09/2026).
Bukan karena bapaknya tidak bekerja. Justru sebaliknya. Bapaknya bekerja dengan tenaga sendiri. Dari satu proyek ke proyek yang lainnya.
Hanya saja, bagi Ardi ketika itu, menyebut bapaknya sebagai kuli bangunan terasa memalukan. Sekarang bapaknya sudah tidak bisa lagi ia banggakan dengan cara apa pun.
Dulu malu menyebut pekerjaan bapak yang hanya sebagai kuli bangunan
Ardi mengaku rasa malu itu tumbuh sejak sekolah. Ia merasa pekerjaan bapaknya berbeda dari pekerjaan orang tua teman-temannya yang dianggap lebih bergengsi.
“Kayaknya waktu itu saya mikir, kalau bilang bapak saya kuli bangunan, nanti orang mandang saya gimana?” ujarnya.
Maka jawaban “karyawan swasta” menjadi jalan keluar. Jawaban itu ia pertahankan bertahun-tahun. Bahkan ketika sudah dewasa, ia tetap membawa pekerjaan bapaknya sebagai sesuatu yang tidak perlu diceritakan.
Ada semacam anggapan bahwa pekerjaan tertentu lebih pantas disebutkan daripada pekerjaan lain. Karyawan kantor, pegawai negeri, polisi, tentara, pengusaha atau pekerjaan dengan jabatan tertentu terdengar lebih mudah dibanggakan. Sementara pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik kerap ditempatkan di lapisan berbeda.
Padahal, sektor konstruksi bukan pekerjaan kecil dalam kehidupan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat sektor konstruksi menyumbang 9,83 persen terhadap PDB Indonesia pada 2025. BPS juga secara khusus mencatat tenaga kerja, upah, dan aktivitas pekerja konstruksi sebagai bagian penting dari statistik sektor tersebut.
Bapaknya Ardi memang bukan orang yang namanya tercatat dalam laporan perusahaan konstruksi besar. Ia hanya menerima pekerjaan dari proyek ke proyek. Namun dari pekerjaan itulah rumah mereka bertahan hidup.
Karena pekerjaan bapak, obrolan di rumah jadi tidak sehangat itu
Hubungan Ardi dengan bapaknya sebenarnya tidak buruk. Hanya tidak terlalu dekat. Obrolan mereka lebih sering berlangsung seperlunya.
Makan. Bertanya sudah pulang atau belum. Membicarakan kebutuhan rumah. Selebihnya, masing-masing sibuk dengan urusannya.
“Kalau ngobrol sama bapak dulu ya cuma sekenanya saja, tidak yang seintens itu lah” kata Ardi.
Ia tidak punya banyak cerita tentang percakapan panjang bersama bapaknya. Tidak ada kebiasaan duduk berdua berjam-jam membicarakan hidup. Bapaknya juga bukan tipe orang yang banyak bercerita.
Ketika usia mulai bertambah dan Ardi akhirnya bekerja di Kalimantan, jarak justru membuatnya perlahan memahami sosok bapaknya.
Sekitar tiga tahun lalu, ketika pekerjaannya sudah cukup mapan, Ardi mulai melihat pekerjaan bapaknya dari sudut yang berbeda.
Ia mulai sadar bahwa selama ini bapaknya bekerja dengan cara yang sederhana: menerima pekerjaan ketika ada, mengerjakan sampai selesai, lalu membawa hasilnya pulang.
“Dari situ saya mulai mikir, ternyata pekerjaan bapak ya nggak ada yang salah, toh kerjanya juga halal,” katanya.
Yang salah, menurut Ardi, justru rasa malu yang selama ini ia pelihara sendiri.
Padahal, dari pekerjaan bapak itu dia bisa berjalan sejauh ini
Kesadaran itu datang terlambat. Sebab selama bertahun-tahun, uang hasil kerja bapaknya ikut membiayai kehidupan Ardi. Termasuk sekolah hingga akhirnya ia bisa bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.
Bahkan setelah Ardi sudah mampu mencari uang sendiri, bapak dan ibunya masih sering menanyakan hal yang sederhana.
“Masih ada uang nggak, Le, di sana?”
Pertanyaan itu sekarang justru menjadi salah satu hal yang paling ia ingat. Dulu mungkin terdengar biasa. Sekarang, setelah bapaknya meninggal, kalimat itu terasa berbeda.
Bapaknya tidak pernah menanyakan pekerjaan anaknya dengan ukuran gaji atau jabatan. Ia hanya ingin memastikan anaknya masih punya cukup uang untuk hidup di perantauan.
“Padahal sampai saya kerja pun, bapak masih mikirin saya punya uang atau enggak, bisa makan atau engga, dan selalu nanya kapan pulang, gitu,” kata Ardi.
Di titik itu, pekerjaan bapaknya menjadi tidak penting lagi dibanding apa yang telah diberikan dari pekerjaan tersebut. Ia tidak mendapatkan uang dari pekerjaan bapaknya secara langsung. Ia mendapatkan kesempatan untuk sekolah, tumbuh, dan akhirnya bekerja sendiri. Dan kesempatan itu ternyata dibangun dari pekerjaan yang dulu malu ia sebutkan.
Penyesalan datang setelah bapak pergi
Bapaknya kemudian sakit. Tenaganya tidak lagi seperti dulu. Ajakan bekerja di proyek bangunan mulai jarang diterima. Sampai akhirnya pekerjaan itu benar-benar berhenti.
Lalu bapaknya meninggal. Empat puluh hari setelah kepergian itu, Ardi justru banyak memikirkan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah dianggap penting.
Termasuk satu hal yang tampak sepele: ia tidak pernah benar-benar bangga menyebut pekerjaan bapaknya.
“Yang saya sesalkan itu mungkin saya dulu malu. Sekarang saya sudah nggak bisa memperbaikinya,” katanya.
Saya kemudian bertanya kepadanya, kalau waktu bisa diputar kembali, apa yang ingin ia jawab ketika gurunya bertanya pekerjaan bapaknya. Ardi diam sebentar.
“Ya saya jawab saja kuli bangunan.”
Tidak ada pekerjaan yang bisa mengulang percakapan itu. Tidak ada kesempatan bagi Ardi untuk menemui bapaknya lalu mengatakan bahwa sekarang ia bangga. Yang tersisa hanya ingatan tentang seorang bapak yang bekerja dengan tangannya sendiri.
Mungkin kita juga pernah malu pada pekerjaan orang tua kita
Cerita Ardi barangkali bukan hanya tentang seorang anak yang kehilangan bapak. Ia juga tentang cara kita memberi nilai pada pekerjaan.
BPS mendefinisikan pekerja informal antara lain mencakup pekerja bebas dan pekerja keluarga, serta mencatat bahwa pekerjaan informal berkaitan dengan kondisi kerja yang belum tentu memperoleh perlindungan sosial, upah, dan jam kerja yang layak.
Tetapi pekerjaan informal bukan berarti pekerjaan yang tidak bernilai. Bagi keluarga seperti Ardi, pekerjaan seorang bapak bukan sekadar jabatan yang ditulis dalam formulir sekolah.
Pekerjaan itu adalah beras di rumah, uang sekolah, biaya hidup dan jalan bagi anak untuk tumbuh sampai akhirnya bisa berdiri sendiri. Ardi baru menyadarinya setelah bapaknya tidak ada.
“Kalau sekarang ditanya bapak saya kerja apa, saya malah pengin bilang kuli bangunan,” katanya.
Kali ini tidak ada alasan untuk mengganti jawabannya menjadi “karyawan swasta”. Hanya saja, orang yang ingin ia banggakan sudah tidak bisa mendengarnya.
Fenomena seperti Ardi bukan hal baru dalam lingkaran pertemanan saya, ada banyak kawan saya yang merasakan hal serupa. Malu untuk menjelaskan pekerjaan orang tua dan malu karena pekerjaan bapak yang tidak se-prestisius itu.
Dan mungkin itulah penyesalan paling menyakitkan dari sebuah pekerjaan yang dulu ia malu sebutkan: bukan karena pekerjaan itu rendah, melainkan karena ia baru memahami betapa berharganya pekerjaan tersebut ketika tangan yang mengerjakannya sudah berhenti selamanya.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Menyesal Tak Tertular Skill Hidup Bapak karena Kesan Pekerjaan Kasar, Padahal Berguna buat Hidup Laki-laki Dewasa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan