Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

Redaksi oleh Redaksi
30 Maret 2026
A A
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

Ilustrasi - Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Wacana penerapan kebijakan work from home (WFH) 1 hari Aparatur Sipil Negara (ASN) agak sensitif terhadap kondisi pekerja informal di Indonesia. Meski alasannya adalah efisiensi energi dan adaptasi era digital, tapi kebijakan ini memiliki potensi risiko ketimpangan sosial. 

ASN work from home (WFH) 1 hari: sudah mapan, dimanjakan

Kebijakan WFH bagi ASN—jika nantinya benar-benar diterapkan— berpotensi memperlebar jurang ketimpangan antara pekerja formal (dalam hal ini ASN) dan informal: yakni para pekerja dengan hubungan kerja yang longgar, tanpa kepastian pendapatan, serta minim perlindungan sosial.

Iklan

Sementara Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal. Per November 2025, proporsinya mencapai sekitar 57% dari total angkatan kerja. 

Dalam benak pekerja informal: enak betul ASN. Sudah punya kepastian gaji, punya jaminan kesejahteraan sosial, tapi masih dimanjakan dengan fleksibilitas WFH. Bayangkan, lima hari kerja, tapi masih terpangkas satu hari lagi untuk WFH. 

Sementara di luar sana, banyak pekerja informal harus bertahan hidup dalam situasi tidak pasti. Kerja bisa seminggu penuh, itupun dengan gaji mini dan tidak menentu, serta masa tua yang amat rentan terjerembab dalam jurang kemiskinan karena ketiadaan Jaminan Hari Tua (JHT) sebagaimana pekerja formal seperti ASN. 

Efek work from home (WFH) ASN tidak signifikan

Sejumlah pengamat, seperti CORE Indonesia menyebut, kebijakan work from home (WFH) 1 hari dalam seminggu bagi ASN maupun pekerja swasta sebenarnya “tidak memiliki dampak signifikan” terhadap penghematan BBM nasional. Karena konsumsi BBM nyatanya lebih banyak didorong oleh sektor logistik, distribusi barang, dan mobilitas non-kerja.

Dengan kata lain, kontribusi ASN terhadap total konsumsi energi nasional relatif terbatas. Jika demikian, maka kebijakan ini lebih bersifat simbolik ketimbang substantif dalam konteks penghematan energi.

Padahal penting untuk memastikan bahwa setiap kebijakan publik memiliki dasar manfaat yang proporsional dengan dampak sosial yang ditimbulkannya.

Pikirkan nasib pekerja informal 

Meski begitu, kebijakan tersebut sebenarnya tidak keliru-keliru amat. Hanya saja, pemerintah harusnya juga menaruh kepekaan terhadap ketimpangan yang dirasakan oleh pekerja informal. 

Pemerintah tetap bisa melaksanakan WFH, terutama bagi ASN. Tetapi perlu diiringi juga dengan intervensi yang menyasar sektor informal. Berupa penguatan jaminan sosial, perluasan akses pelatihan, serta penciptaan lapangan kerja formal. 

Tanpa intervensi yang memadai dan komprehensif, kebijakan yang terasa “memanjakan” satu kelompok (ASN) berpotensi mempertegas ketimpangan bagi kelompok lainnya (pekerja informal). Maka, pemerintah harus memastikan bahwa setiap langkah pembaruan birokrasi berjalan seiring dengan upaya memperkecil kesenjangan sosial.

Akhir kata, ukuran keberhasilan kebijakan publik tidak hanya terletak pada efisiensi yang dihasilkan. Tetapi pada kemampuannya menghadirkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Redaksi Mojok.co

BACA JUGA: Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah atau konten-konten Mojok lainnya di Mojok.co

Terakhir diperbarui pada 30 Maret 2026 oleh

Tags: ASNpekerja informalWFHwfh asnwork from home
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO
Kilas

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026
ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker MOJOK.CO
Sekolahan

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker

24 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS
Sehari-hari

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026
MLSC, Yogyakarta.MOJOK.CO

Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal

26 Juni 2026
Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? MOJOK.CO

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid?

22 Juni 2026
Derita 17 Hari Naik Honda Revo Jadi Penagih Utang MOJOK.CO

17 Hari Menjadi Penagih Utang dengan Risiko Kehilangan Nyawa Naik Honda Revo Biru Sudah Cukup Membuat Saya Menyerah

23 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.