ADVERTISEMENT

Skena Hiburan Kabupaten: Ekonomi Sulit Tetap Nyawer Biduan Dangdut karena Gengsi, Uang Ludes Pikir Nanti

Skena hiburan kabupaten: in this economy tetap nekat nyawer biduan di acara dangdut demi kepuasan MOJOK.CO

Nyawer dangdut menjadi semacam “ritual kepuasan” yang seolah tidak boleh dilewatkan dalam skena hiburan kabupaten. Kondisi ekonomi yang sulit tidak bisa menjadi alasan. Untuk nyawer tidak boleh ditahan-tahan. 

***

Hajatan pernikahan berupa dangdut di sebuah desa di Jawa Timur menjadi “berkah” tersendiri bagi sejumlah warga maupun pemuda di desa Arka (27), belum lama ini. Ada tontonan buat gayeng-gayengan. 

Memang bukan dangdut dalam panggung besar yang diisi oleh penyanyi populer. Hanya dangdut level kecamatan. Namun sudah sangat cukup untuk membuat warga—khususnya pemuda desa—menjadi sangat antusias. 

Memberi hiburan dangdut: cara dihormati masyarakat

Kondisi ekonomi yang semakin sulit bukannya tidak dirasakan oleh warga desa Arka di Jawa Timur. Mayoritas warga desa tetap misuh-misuh ketika tahu harga-harga naik: belanja dapur mahal, BBM yang terasa mencekik, harga sebat yang melambung, dan seterusnya. 

Masalahnya, rata-rata warga desanya adalah pekerja informal dengan upah kecil dan tanpa jaminan sosial. Banyak pemuda bekerja di pabrik dan serabutan. Sementara kalangan orang dewasa lebih banyak di sektor pertanian dan tidak sedikit yang juga menjadi pekerja serabutan. 

“Tapi sudah menjadi standar umum, kalau menggelar hajatan, terutama nikahan, harus ada hiburannya. Kalau di desaku sejak dulu dangdutan,” ungkap Arka, Rabu (16/9/2026). 

Dalam konteks pemilik hajat yang belum lama ini melangsungkan hajat pernikahan anaknya, kata Arka, memang cenderung dipaksakan untuk menggelar hiburan dangdut. Pasalnya, itu menjadi cara agar ia dihormati masyarakat. 

“Kalau bikin dangdut, itu kan masyarakat bisa menikmati. Jadi disegani lah sama orang-orang. Akhirnya, meski harus utang besar entah dari mana, pokoknya yang penting ada dangdutan buat hiburan masyarakat dan tamu undangan,” sambung Arka. 

Tabuhan kendang bikin jadi seperti orang kesurupan

Pemilik hajat tersebut masih kerabat dengan Arka. Tidak pelak jika ia juga turut rewang saat acara berlangsung. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pemuda-pemuda di desa ikut berdendang dan bergoyang dengan alunan musik koplo

Menurut Arka, dangdut adalah hiburan puncak bagi warga desanya. Mereka yang datang bukan sekadar ingin menikmati musik koplo atau lagu-lagu Jawa yang dibawakan. Lebih dari itu, mereka ingin melepas penat. 

“Mangkanya, sekali mereka sudah maju mendekat ke panggung, dekat dengan biduan yang bernyanyi, mereka seketika langsung seperti orang kesurupan,” beber Arka. 

“Tiba-tiba langsung bergoyang luwes. Lepas aja. Yang udah punya istri ya nggak takut dilihat istrinya,” sambungnya. 

Adegan selanjutnya adalah adegan yang tidak Arka sangka. Di tengah keluhan-keluhan soal keuangan yang terasa seret dan mencekiknya harga-harga kebutuhan, mereka justru dengan lepas merogoh berlembar-lembar rupiah dari kantong celana: nyawer biduan yang bernyanyi di atas panggung dangdut kecil tersebut. 

Nyawer dangdut: mencari kepuasan dan gengsi tidak mau kalah

Malam itu, pada mulanya sejumlah warga tampak hanya ikut bergoyang saja menikmati lagu dan musik koplo. Sesekali ada yang request lagu dan bahkan bersedia ikut duet bernyanyi bersama si biduan. 

“Wah masa nggak ada sawerannya ini!.” Lalu tiba-tiba celetukan itu terdengar. Provokasi itu sangat manjur untuk menyenggol ego dan gengsi mereka yang tengah berada di area panggung dangdut. 

Satu orang mengeluarkan selembar uang Rp10 ribuan. Lalu yang lain tidak mau kalah. Bahkan, saking tidak mau kalah satu sama lain, ada yang mengeluarkan lembar-lembar Rp20 ribu-Rp50 ribu untuk nyawer. 

“Nyawer itu kan memberi sensasi kepuasan. Kata mereka yang hobi nyawer, sensasi puas yang dirasakan adalah seolah punya kendali ke biduan. Karena dia akan nyanyi sambil meraih lembar-lembar uang yang penonton putar-putar,” beber Arka. 

“Nggak ada yang mau kalah soal urusan ini. Kalau nggak nyawer, kesannya itu kok sekere itu,” imbuhnya. 

Uang habis pikir nanti

Seperti dikatakan Arka sebelumnya, rata-rata adalah pekerja informal-serabutan berupah kecil. Namun, kenapa mereka tidak eman nyah-nyoh dalam nyawer di acara dangdutan? 

Apalagi dalam situasi ekonomi seperti sekarang, uang rentan habis lebih cepat karena harga kebutuhan yang melambung tinggi sementara upah tetap mini. 

“Sebagaimana kebiasaan selama ini, kalau sudah nyawer, Rp500 ribu sampai Rp1 juta alias separuh upah bisa ludes dalam semalam,” kata Arka. 

“Mereka nggak akan kepikiran soal itu. Kalau nanti uang habis, ya pikir nanti. Yang penting malam itu puas dulu, gembira dulu.” Begitu cara pandang yang sudah sangat Arka kenali dari kebiasaan pemuda desanya nyawer di acara dangdut selama ini. 

Sehingga Arka tidak heran, meski mereka mengeluhkan masalah pekerjaan dan ekonomi, mereka akan tetap jur-juran untuk nyawer. Karena perkara kebutuhan setelahnya, toh masih bisa utang. Pinjol pun saat ini menjadi habit yang sudah menjangkiti kalangan pemuda desa Arka. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 17 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.