MOJOK.COMitosnya, makanan dibungkus tidak seenak makanan yang dimakan di tempat karena warungnya pake pesugihan. Jadi efek pesugihannya cuma berlaku selama di warung, gitu. Sungguh teori yang seru, tapi bolong sana-sini.

Orang Wonogiri tidak bisa dipisahkan dari mi ayam. Kami bisa berdebat enakan mana ayam goreng Bu Paryanti vs Mbak Ning, atau nila bakar Pak Glinding vs Moro Seneng, tapi soal mi ayam, kami sudah mengamalkan sila ketiga Pancasila: semua mi ayam di Wonogiri enak.

Nyatanya tetap saja kami kadang masih berdebat tentang warung mi ayam. Bukan soal rasa, melainkan perkara mistis. Kami bahkan punya penilaian tersendiri untuk warung mi ayam yang larisnya nggak masuk akal: pasti pakai pesugihan. Indikatornya? Kalau mi ayamnya dibungkus dan dibawa pulang, rasanya jadi nggak enak.

Dulu saya percaya-percaya saja. Bukannya menghindari, saya memilih selalu makan di tempat. Pegangan saya, daripada kalah sama ketakutan, tapi kehilangan pengalaman religius ketika makan mi ayam, mending saya makan di tempat. Lagian, ngapain juga makan mi ayam dibungkus?

Saya kira pandangan itu hanya ada di kampung saya, tapi begitu saya merantau untuk berpura-pura kuliah di Jogja, saya menemukan orang yang punya pendapat sama. Mereka berpendapat kalau makanan yang dibungkus tidak enak semata terjadi karena penjualnya melakukan praktik pesugihan. Tapi makin lama saya hidup, saya menemukan bahwa makanan yang jadi tak enak ketika itu…

Baca juga:  Menjawab Mitos-mitos Seputar Virus Corona

sebenarnya…

hanya berlaku untuk makanan yang enaknya memang dimakan ketika masih panas/hangat.

Saya sih yakin pesugihan cuma mitos. Dan setelah riset kecil-kecilan, saya mendapat penjelasan bahwa perubahan suhu dapat mengubah rasa. Jadi ini bukan soal dijilat atau tidak dijilat pocong ya, gaes.

Jadi begini. Makanan menjadi tidak enak karena suhu makanannya berubah dalam bungkus. Suhu itu ngaruh banget. Perubahan suhu yang drastis bisa merusak rasa. Ayam goreng yang anget kinyis-kinyis akan membawamu ke surga. Sedangkan ayam goreng anyep membawamu ke penyesalan.

Ketika makanan dibungkus untuk dibawa pulang, ada hal-hal yang harus dikorbankan. Yang pertama, tekstur, dan yang kedua adalah pengurangan (((fitur))). Kita ambil contoh mi ayam. Mi ayam ketika dibungkus, bahan pembungkusnya biasanya plastik. Tekstur mie yang berubah karena perubahan suhu menyebabkan mi terasa aneh ketika dimakan. Kuah atau mie akan dikurangi untuk menghindari plastik pecah, maka porsinya terasa lebih sedikit dan taste-nya jadi beda.

Kecuali nasi padang. Memang nggak ada lawan ini makanan.

Perubahan suhu, tekstur, dan ukuran porsi membuat makanan terasa berbeda ketimbang yang kita santap di warungnya langsung. Rasa yang berbeda itu kemudian kita terjemahkan menjadi “tidak enak”.

Beda dengan lotek atau gado-gado, anget opo ora podo wae. Rasanya tetap sama ketika makan di tempat atau dibungkus karena makanan itu tidak mengharuskan kita makan dalam keadaan panas/hangat. Tapi makanan itu hanya harus dimakan secepat mungkin setelah disajikan. Kamu beli lotek jam 12 siang buat dimakan jam 9 malem ya tetep nggak enak, Bro. Kenyang engga, mencret iya.

Baca juga:  Mitos Makan Timun dan Nanas bagi Ibu Hamil

Jadi sekarang kita bisa berbaik sangka bahwa tempat makanan langganan nggak ada lah itu pakai pesugihan-pesugihan segala. Meskipun makanan yang dibungkus tidak enak, kita udah tahu penyebabnya dari kacamata (((sains))). Tapi setelah ini terjawab tolong jangan tanya, “Mas, kenapa kalau makan sendirian itu nggak enak, enaknya sama pasangan?” Angel meneh iki.

BACA JUGA Konten adalah Kunci, Tapi Nggak Ngambil Foto Orang Meninggal Juga Kali dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.