Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
18 April 2026
A A
Purwokerto .MOJOK.CO

Ilustrasi Kota Purwokerto (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kalau membuka media sosial seperti TikTok atau Threads, kamu pasti sering melihat orang memuja-muja Purwokerto. Kota di kaki Gunung Slamet ini sering disebut sebagai tempat pensiun terbaik, pelarian paling sempurna dari penatnya ibukota. 

Testimoni yang sering muncul di kolom komentar biasanya berkisar tentang udara yang sejuk, jalanan yang bebas macet, dan tentu saja, harga kebutuhan pokok yang masih sangat murah.

Banyak orang yang akhirnya menjadikan Purwokerto sebagai kota impian untuk mencari gaya hidup santai alias slow living. Salah satu orang yang membagikan ceritanya di media sosial adalah Budi (36), yang memutuskan “pensiun” sebagai pegawai kantoran dan memilih kerja remote di kota ini sejak 2019 lalu.

Pada tahun-tahun pertama menetap di Purwokerto, ia memang merasakan hidup enak.

“Pagi hari saya bisa jalan kaki dengan tenang. Udaranya bersih. Kulinernya enak dan harganya tidak bikin kantong jebol,” kisahnya kepada Mojok, Jumat (17/4/2026).

Namun, fase bulan madu itu ternyata tidak bertahan selamanya. Memasuki tahun ketiga, apalagi setelah pandemi Covid-19, Budi mulai merasakan “efek samping” dari gaya hidup santai tersebut. Ia mulai mengeluhkan ritme kerja di daerah yang menurutnya terlalu lambat. 

Niat hidup damai di Purwokerto, malah “mati kutu”

Pengalaman Budi ini memvalidasi apa yang sering diperdebatkan di media sosial. Purwokerto memang kota pensiun yang nyaman, tapi kota ini jelas bukan untuk semua orang. 

Banyak netizen yang nekat pindah ke sana demi slow living, tapi akhirnya malah “mati kutu”. Mereka mengeluh tidak ada hiburan malam, kesulitan mencari sirkel pertemanan profesional yang cepat, hingga mengeluh soal fasilitas hiburan yang itu-itu saja.

Hal ini dibenarkan oleh Riza, seorang pekerja lepas (freelancer) usia 30-an yang memutuskan pindah ke Purwokerto dua tahun lalu. Menurut Riza, Purwokerto sangat enak untuk menetap asalkan mental kita sudah benar-benar siap. 

“Ibaratnya begini, kalau kepalamu masih berlari seratus kilometer per jam, pindah ke kota yang berjalannya cuma dua puluh kilometer per jam itu sama saja bunuh diri. Kamu bakal stres sendiri,” tegasnya, Jumat (17/4/2026).

Berdasarkan pengalaman Riza dan realitas di lapangan, setidaknya ada beberapa skill yang wajib kamu miliki kalau ingin bertahan hidup dan menikmati masa pensiun di Purwokerto.

#1 Mengelola rasa bosan 

Di kota besar seperti Jakarta, mencari hiburan itu sangat mudah. Kamu bisa pindah dari satu mal ke mal lainnya setiap akhir pekan. 

Di Purwokerto, pusat perbelanjaan besar sangat terbatas. Kamu tidak bisa mengandalkan mal sebagai tempat cuci mata setiap minggu.

Menurut Riza, kamu butuh keahlian untuk menciptakan “hiburanmu sendiri”. 

Iklan

“Kalau pindah ke sini, kamu harus punya hobi rumahan,” katanya. Entah itu berkebun di halaman, membaca buku di teras, memelihara burung, atau sekadar bersepeda keliling jalan desa. 

Kalau kamu tidak punya hobi di luar kebiasaan menghabiskan uang di pusat perbelanjaan, kata Riza, ya bakal mati gaya karena kebosanan.

#2 Mandiri dalam mobilitas keliling Kota Purwokerto 

Keahlian selanjutnya yang tidak kalah penting adalah kemampuan membawa kendaraan sendiri, terutama sepeda motor. Purwokerto sebenarnya sudah memiliki fasilitas transportasi umum yang bagus, salah satunya adalah bus Trans Banyumas yang nyaman dan terjangkau. 

Namun, untuk benar-benar menikmati gaya hidup santai menyusuri jalanan pedesaan yang sejuk, mengendarai motor sendiri adalah jalan terbaik.

Riza bercerita, kalau kamu terlalu manja dan terus-terusan bergantung pada taksi atau ojek online untuk pergi ke mana-mana, dompetmu akan pelan-pelan terkuras habis. Ruang gerakmu juga akan sangat terbatas. 

“Dengan membawa motor sendiri, kamu bebas menjelajah Purwokerto tanpa tanpa takut memikirkan ongkos,” jelasnya.

#3 Menurunkan ego dan berbaur ala warga lokal Purwokerto 

Di apartemen atau perumahan mewah ibukota, kamu bisa saja hidup bertahun-tahun tanpa tahu nama tetangga sebelahmu. Di Purwokerto, privasi tingkat tinggi seperti itu sulit diterapkan. 

Kata Riza, kamu harus rela menurunkan ego orang kota dan mulai berbaur dengan warga sekitar. Kamu diharapkan ikut kerja bakti, kumpul RT, atau membantu tetangga yang sedang punya hajatan.

Selain itu, kamu harus siap mental dengan karakter warga lokal. Berdasarkan pengalamannya, Riza mengetahui bahwa warga Banyumas memiliki sifat bawaan yang namanya “cablaka” alias blak-blakan. 

Mereka terbiasa berbicara jujur, apa adanya, tanpa basa-basi. Jadi, kalau suatu pagi tetanggamu tiba-tiba bertanya soal urusan pribadimu dengan suara khas ngapak yang lantang, itu bukan berarti mereka tidak sopan atau mau ikut campur. Justru, itulah cara mereka merangkul dan menunjukkan rasa akrab.

#4 Menahan gengsi yang berbau gaya hidup 

Keahlian terakhir yang tidak kalah penting adalah menahan gengsi. Banyak orang kota berpikir bahwa hidup di daerah itu otomatis murah. Padahal, murah atau tidaknya hidup sangat bergantung pada gaya hidup. 

Logikanya seperti ini: standard hidup warga lokal dan upah minimum di wilayah Kabupaten Banyumas itu berputar di kisaran dua jutaan rupiah sebulan. Dengan standard itu, warga lokal bisa hidup layak.

Namun, kalau kamu menetap di sana tapi masih nekat mempertahankan gaya hidup anak Jakarta, ceritanya akan berbeda. 

“Kalau kamu masih rutin ngopi yang harganya tiga puluh lima ribuan setiap sore, uangmu akan cepat habis,” kata dia. “Keahlian utama di sini adalah menekan gengsi.” 

Menurut Riza, seseorang harus bisa membiasakan diri dengan mindset bahwa makan seadanya seharga di bawah 10 ribuan, di warung pinggir jalan, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat perut kenyang dan hati senang. Tak perlu mahal-mahal dan boros.

Pada akhirnya, Purwokerto memang menawarkan ketenangan yang sulit dicari di kota besar. Namun, bagi Riza, ketenangan adalah soal kesiapan pikiran. Kalau belum siap, slow living yang kamu cari hanya akan berubah menjadi kebosanan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 April 2026 oleh

Tags: banyumasbiaya hidup purwokertokota pensiunkota purwokertopensiunpilihan redaksiPurwokertoslow livingslow living di purwokerto
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
pertemanan di usia 30.MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda MOJOK.CO

Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda

4 Mei 2026
Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo MOJOK.CO

Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa

4 Mei 2026
Merasa terkecoh saat kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) gara-gara ulah mahasiswa organisasi ekstra hingga dosen cabul MOJOK.CO

Kuliah di UIN dengan Ekspektasi Tinggi: Berujung “Terkecoh” karena Fakta Tak Sesuai Tampilan Luar dan Menyimpang

7 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.