• 645
    Shares

MOJOK.COTempo hari, video santri yang dirazia polisi ketika membawa kardus sempat viral. Di balik kisah sedih berakhir bahagia tersebut, tersirat hubungan erat antara santri dan kotak kertas ini.

Seorang santri membawa ransel dan kardus itu dikepung beberapa personel Brimob. Dia diminta membuka kardus, kemudian ranselnya. Dengan masygul dan sewot dia mengobrak-abrik isi kardus. Menunjukkan kepada aparat bahwa dia bukan teroris. Video ini viral. Bertambah sedap ketika dibumbui sentimen “kriminalisasi santri”, “Islamofobia di negeri mayoritas muslim”, “santri dicurigai teroris”, dan gorengan isu lain.

Padahal, video itu happy ending. Dia malah berswafoto dengan beberapa aparat yang “mengepung”-nya. Remaja itu kabarnya bernama Zaki Saputra, santri Pondok Pesantren Al-Hidayah, Prapak, Kranggan, Temanggung. Pesantren ini diasuh oleh M. Furqon Masyhuri (Gus Furqon) yang juga Ketua PCNU Temanggung Jateng.

Oke. Dari sini jelas. Video berakhir santai. Oke oce saja. Yang menjadi masalah, video ini didramatisir sedemikian rupa. Sama sekali tidak disebutkan hasil akhirnya.

Lagi pula, saya cek, beberapa fesbuker yang memviralkan aksi “santri, kardus, dan polisi” dan menggiring opini jika santri mulai “dikriminalisasi” ini sebagian besar juga bukan dari kalangan pesantren kok. Mereka juga tidak memunculkan akhir dari peristiwa yang didramatisir itu. Bagi mereka, tidak penting hasil akhirnya, yang paling utama bisa digoreng sesuai dengan citarasa politisnya.

Dengan video itu, kita bisa melihat dampak aksi terorisme. Kita memaklumi ekspresi santri yang kesal karena diminta membuka kardus dan ransel di ruang publik, tapi kita juga memaklumi kewaspadaan aparat. Jika Amrik punya Kim Kardashian, kita punya Kim Kardushian. Yang pertama membangkitkan imajinasi aneh-aneh, yang kedua menerbitkan teror dalam seonggok kardus.

Baca juga:  Pujangga China Misterius di Sebuah Pesantren

Pada hari-hari ini tekanan mental dan psikologi para polisi mungkin mencapai titik jenuh. Dengan tugas mengamankan obyek vital dan menjaga keamanan, mereka juga menjadi target aksi terorisme. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana mereka membangun kewaspadaan. Di satu sisi menjadi target serangan, di sisi lain tetap harus menerapkan prosedur, di sisi sananya lagi malah dicurigai sebagai tukang setting peristiwa terorisme. Berat nian.

Polisi itu biasanya nggak begitu disuka dalam urusan razia lalu lintas, tapi dalam urusan terorisme, mayoritas rakyat mendukungnya dan berduka cita apabila ada anggotanya yang gugur dalam tugas.

Kembali ke santri dan kardusnya, relasi keduanya itu persis hubungan mereka dengan kitab. Intim, tak terpisahkan. Sebab, ketika mereka mudik, kardus mie instan menjadi koper darurat. Isinya bisa baju, bisa pula kitab. Tapi, soal kemasan kardus, mereka pilih-pilih. Jika diurutkan dari level top ke yang lebih rendah, yang paling sering dipilih adalah kardus mie instan, kemudian kardus air mineral, disambung kardus makanan ringan. Itulah mengapa kita tidak bakal menjumpai santri menggunakan kardus bekas dengan merek Mamypoko, Charm Body Fit, maupun Kiranti. Tabu, mungkin.

Dengan pilihan yang sama ini, kardus mereka berpotensi tertukar karena sama-sama bekas wadah Mie Sedaap, misalnya. Siasatnya, mereka menuliskan nama, alamat pondok, kompleks asrama dan nomor kamar di kardusnya. Dengan cara ini mereka yakin, barang akan kembali ke alamat jika tertukar dengan milik sesama santri maupun milik penumpang bis.

Baca juga:  Megawati Diusulkan Jadi Pahlawan Demokrasi Merupakan Satire Paling Cadas Abad Ini

Ketika kembali dari rumah ke pondok, lagi-lagi kardus menjadi pilihan utama. Isinya baju atau kitab ditambah dengan oleh-oleh. Baik untuk diberikan kepada kiainya maupun untuk kawan-kawan.

Demikian pentingnya fungsi kardus, ia sudah menjelma menjadi wahana egaliterianisme di pesantren. Kaya atau miskin, putra kiai atau bukan, pintar maupun tidak, semua memanfaatkan kardus sebagai koper alternatif. Bahkan, di awal mondok, jika belum memiliki almari, kardus menjelma wahana penyimpanan baju darurat. Sedikit banyak bisa dibilang, kardus punya peran signifikan dalam melancarkan pendidikan Islam di pesantren. Halah.

Soal relasi harmonis antara santri dengan kardus, saya ingat cerita Romo Frans Magnis Suseno dalam kata pengantar buku Gus Dur-Ku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita karya Muhammad A.S. Hikam. Romo Frans bercerita, bersama beberapa kawannya, dia mengunjungi Presiden Gus Dur di Istana Negara. Di gedung itu mereka melewati suatu gang ke kamar makan. Di gang tersebut dia melihat ada beberapa kardus yang diikat dengan tali rafia.

Dia pun bertanya kepada seseorang, kok ada bungkus kardus? Jawaban petugas protokoler Istana, besok Presiden Gus Dur akan melakukan kunjungan kenegaraan ke RRC. Romo Magniz geleng-geleng, Presiden RI membawa barang-barang ke kunjungan negara dalam kardus persis masyarakat di kereta api ekonomi? Gus Dur dilawan.