Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Framing Busuk Trans7 ke Pesantren Lirboyo dengan Citra Perbudakan adalah Kebodohan yang Tidak Bisa Dimaafkan Begitu Saja

Yusuf Fadlulloh oleh Yusuf Fadlulloh
14 Oktober 2025
A A
Ilustrasi Pesantren Lirboyo diserang framing TransTV yang kelewatan - MOJOK.CO

Ilustrasi Pesantren Lirboyo Diserang Framing Busuk yang Merusak. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Trans7 “menyerang” Pesantren Lirboyo dengan framing busuk. Narasinya? Perbudakan! Pesantren seperti kamp perbudakan.

Ada siklus abadi di negeri ini yang lebih pasti dari pergantian musim. Instansi besar berulah, netizen marah dan bikin tagar, lalu instansi itu mengeluarkan surat permohonan maaf dengan kop surat kinclong dan tanda tangan basah. Selesai. Kopi diseduh lagi, cicilan dilanjut lagi, semua kembali normal. Sampai nanti ada yang berulah lagi. Begitu terus sampai Kiamat kurang dua hari.

Iklan

Siklus inilah yang kembali kita saksikan saat Trans7, lewat programnya yang namanya terdengar sangar, Xpose Uncensored, menayangkan episode pada 13 Oktober lalu. Isinya? Oh, bukan main. 

Mereka, dengan gagah berani, atau mungkin lebih tepatnya dengan keteledoran level dewa, mem-framing kehidupan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Narasinya? Perbudakan!

Sampeyan tidak salah baca. Lirboyo, Bos! Salah satu episentrum peradaban Islam Nusantara yang usianya sudah seabad lebih, yang alumninya menyebar dari Sabang sampai Merauke jadi apa saja, tiba-tiba dicitrakan mirip kamp kerja paksa di film-film Hollywood. 

Santri yang mengabdi di kediaman kiai, disamakan dengan budak yang tak punya pilihan. Sebuah kesimpulan yang tidak hanya dangkal, tapi juga semprulnya minta ampun.

Lirboyo diserang, publik meradang

Reaksi publik tentu saja meledak. Pihak Pondok Pesantren Lirboyo sendiri sampai perlu melayangkan surat teguran resmi. Belum lagi GP Ansor Jatim yang meradang dan KPID Jatim yang ikut turun tangan. 

Tagar #BoikotTrans7 pun menggema di mana-mana. Sepertinya Trans7 salah pilih lawan. Lha wong tukang becak kok berani-beraninya nabrak kereta api.

Begini, saya yakin para kiai dengan kelapangan dadanya sangat mudah untuk memaafkan Trans7. Tapi para santri? Mereka tidak akan diam jika kiainya dilecehkan. Singkat cerita, gelombang protes inilah yang berujung pada apa yang sudah kita duga, yaitu surat permohonan maaf resmi dari PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh.

Suratnya, seperti yang bisa kita lihat, ditulis dengan bahasa yang sangat korporat, begitu formal, dan terlalu… template. Isinya mengakui “keteledoran” dan berjanji akan menjadikan ini “pembelajaran berharga”. Klasik. 

Formula yang sama persis ketika ada produk yang salah komposisi atau ketika ada layanan pelanggan yang mengecewakan. Masalahnya, yang mereka serang ini bukan produk gagal, tapi Lirboyo, sebuah institusi peradaban yang marwahnya dibangun ratusan tahun.

Maka, pertanyaan besarnya adalah apakah maaf saja cukup? Jelas tidak.

Baca halaman selanjutnya: Dampak merusak dari framing busuk.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2025 oleh

Tags: kiaikiai lirboyoLirboyoperbudakanPesantrenpesantren lirboyoTivi Tujuhtrans7Xpose Uncensored
Yusuf Fadlulloh

Yusuf Fadlulloh

Seorang penulis dan peneliti dengan latar belakang pendidikan Islam yang kuat dari Pesantren Lirboyo dan jenjang pendidikan tinggi. Berpengalaman dalam organisasi, pengembangan konten, dan manajemen media. Memiliki spesialisasi dalam kajian keislaman, retorika dakwah, dan produksi konten digital. Aktif sebagai pengurus di Lembaga Ta'lif wa Nasyr (LTN) NU dan Rijalul Ansor, serta memiliki pengalaman memimpin unit usaha dan lembaga produksi.

Artikel Terkait

Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Tayangan Trans7 tentang pesantren memang salah kaprah. Tapi santri juga tetap perlu berbenah MOJOK.CO
Kabar

Trans7 Memang Salah Kaprah, Tapi Polemik Ini Bisa Jadi Momentum Santri untuk “Berbenah”

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Tren selebrasi di panggung wisuda seperti minta difotoin rektor ala wisudawati UINSA: mengejar atensi maya hingga pergeseran batas hierarki formal MOJOK.CO

Difotoin Rektor: Selebrasi Wisuda biar Berkesan, Atensi Maya, dan Pergeseran Batas Hierarki Formal

30 Juli 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Putusan MK Perlu Diapresiasi, tapi Anggaran MBG Harus Tetap Keluar dari Dana Pendidikan Mulai 2027

30 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.