Ivan Lanin: Saya Pancasilais saja, lah. Lebih mudah menjadi “penganut” (Pancasilais) daripada menjadi “yang dianut” (Pancasila).

#SayaIndonesiaSayaPancasilais

Itu dari segi ketepatan diksi. Namun, saya setuju dengan pendapat Pak Masmimar Mangiang bahwa ucapan “Saya Pancasila” dari Jokowi tak perlu dipersoalkan baik dan benarnya dari segi bahasa yang dipakai. Beliau bicara untuk kepentingan politik. Bahkan, untuk kepentingan politik, bisa saja beliau mengatakan, “Napas dan dan darah saya Pancasila.”

Uksu Suhardi: Sesungguhnya dalam bahasa Indonesia tidak ada akhiran “-is”. “Nasionalis”, misalnya, bukanlah bentukan dari “nasional” + “is”, melainkan serapan langsung dari “nationalist” (bahasa Belanda/Inggris). “Jurnalis” dan “novelis” adalah contoh lain. Keduanya serapan dari “journalist” dan “novellist”. Maka “cerpenis”, misalnya, merupakan kata bentukan yang “dibikin-bikin” atawa menyimpang dari kaidah. Juga Pancasilais.

Triawan Munaf: “Saya suka dikritik atas pekerjaan yang saya sudah lakukan. Tapi lebih suka dikritik oleh orang yg sudah melakukan pekerjaannya. Apalagi oleh mereka yang sudah terbukti sukses dalam pekerjaannya.”

Buat yang mengkritik secara dahsyat bahwa ‘Saya Indonesia, saya Pancasila’ itu salah, dan seharusnya katanya “Saya Orang Indonesia, saya Pancasilais”, ini respon saya:

Kami menggunakan idiom anak muda yg ‘Elliptic’ agar kena dan sesuai dengan apa yg mereka sering gunakan sehari-hari. Apalagi ini adalah slogan yang harus ‘catchy’. Seperti istilah ‘A dream come true’, secara grammar harusnya ‘A dream (that has) come true’. Juga ‘a horse [that was] left behind atau ‘A day [that has/is] gone by’.

Mungkin belum banyak yang paham mengenai hal tsb. Maklum bukan anak millennials. Dan terbukti slogan ini mendapat sambutan yg luar biasa hingga viral. Hanya anak millennials yg mengerti. Belum pernah sebelumnya kampanye Pancasila bisa diterima lewat pop-culture. Tidak basi seperti yang sudah-sudah.

BACA JUGA:  Begitulah Dwitasari

Sedangkan bagi yang mengkritik bahwa pemilihan penggunaan kata ‘saya’ itu tidak ‘merangkul’, dan seharusnya menggunakan ‘kami’. Jawaban saya: penggunaan kata ‘SAYA Indonesia, SAYA Pancasila’ justru lebih mengikat secara personal akan KOMITMEN setiap jiwa warga negara dan tidak berlindung di belakang yang lain.

Karena Pancasila seyogyanya ada di aliran darah dan di detak jantung SETIAP orang Indonesia.

Saran saya bikin saja kampanye yang lebih bagus dan lebih kena untuk generasinya sendiri.

Saya menghormati pendapat yang beragam. Pancasila mengajari kita untuk seragam dalam memahami keberagaman. Pancasila, aku padamu!

Puthut EA: “Salah satu misteri besar di negeri ini: Apakah jenis kelamin burung Garuda Pancasila?” (Kapsul Joyobintoro)

Komentar
Add Friend
No more articles