Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Pancasila atau Pancasilais?

Redaksi oleh Redaksi
8 Juni 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ivan Lanin: Saya Pancasilais saja, lah. Lebih mudah menjadi “penganut” (Pancasilais) daripada menjadi “yang dianut” (Pancasila).

#SayaIndonesiaSayaPancasilais

Iklan

Itu dari segi ketepatan diksi. Namun, saya setuju dengan pendapat Pak Masmimar Mangiang bahwa ucapan “Saya Pancasila” dari Jokowi tak perlu dipersoalkan baik dan benarnya dari segi bahasa yang dipakai. Beliau bicara untuk kepentingan politik. Bahkan, untuk kepentingan politik, bisa saja beliau mengatakan, “Napas dan dan darah saya Pancasila.”

Uksu Suhardi: Sesungguhnya dalam bahasa Indonesia tidak ada akhiran “-is”. “Nasionalis”, misalnya, bukanlah bentukan dari “nasional” + “is”, melainkan serapan langsung dari “nationalist” (bahasa Belanda/Inggris). “Jurnalis” dan “novelis” adalah contoh lain. Keduanya serapan dari “journalist” dan “novellist”. Maka “cerpenis”, misalnya, merupakan kata bentukan yang “dibikin-bikin” atawa menyimpang dari kaidah. Juga Pancasilais.

Triawan Munaf: “Saya suka dikritik atas pekerjaan yang saya sudah lakukan. Tapi lebih suka dikritik oleh orang yg sudah melakukan pekerjaannya. Apalagi oleh mereka yang sudah terbukti sukses dalam pekerjaannya.”

Buat yang mengkritik secara dahsyat bahwa ‘Saya Indonesia, saya Pancasila’ itu salah, dan seharusnya katanya “Saya Orang Indonesia, saya Pancasilais”, ini respon saya:

Kami menggunakan idiom anak muda yg ‘Elliptic’ agar kena dan sesuai dengan apa yg mereka sering gunakan sehari-hari. Apalagi ini adalah slogan yang harus ‘catchy’. Seperti istilah ‘A dream come true’, secara grammar harusnya ‘A dream (that has) come true’. Juga ‘a horse [that was] left behind atau ‘A day [that has/is] gone by’.

Mungkin belum banyak yang paham mengenai hal tsb. Maklum bukan anak millennials. Dan terbukti slogan ini mendapat sambutan yg luar biasa hingga viral. Hanya anak millennials yg mengerti. Belum pernah sebelumnya kampanye Pancasila bisa diterima lewat pop-culture. Tidak basi seperti yang sudah-sudah.

Sedangkan bagi yang mengkritik bahwa pemilihan penggunaan kata ‘saya’ itu tidak ‘merangkul’, dan seharusnya menggunakan ‘kami’. Jawaban saya: penggunaan kata ‘SAYA Indonesia, SAYA Pancasila’ justru lebih mengikat secara personal akan KOMITMEN setiap jiwa warga negara dan tidak berlindung di belakang yang lain.

Karena Pancasila seyogyanya ada di aliran darah dan di detak jantung SETIAP orang Indonesia.

Saran saya bikin saja kampanye yang lebih bagus dan lebih kena untuk generasinya sendiri.

Saya menghormati pendapat yang beragam. Pancasila mengajari kita untuk seragam dalam memahami keberagaman. Pancasila, aku padamu!

Puthut EA: “Salah satu misteri besar di negeri ini: Apakah jenis kelamin burung Garuda Pancasila?” (Kapsul Joyobintoro)

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2017 oleh

Tags: bahasahari lahir pancasilaivan laninPancasilapancasilaisPuthut EAsaya indonesia saya pancasilatriawan munafuu suhardi
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Ancaman "Indomi" bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma MOJOK.CO

Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

4 Mei 2026
universitas brawijaya mojok.co malang

Universitas Brawijaya, Universitas Malang tapi Rasa Jakarta

20 Februari 2025
Menjadi penulis jika ingin sejahtera maka jangan hanya fokus menulis MOJOK.CO

Panduan untuk Calon Penulis agar Hidup Sejahtera, Karena Tak Cukup kalau Andalkan Royalti Saja

19 Januari 2025
kaum ngapak di kemang jakarta selatan.MOJOK.CO

Orang Ngapak Melawan Rasisnya Warga Jakarta: ‘Bukan Dielek Ndeso, Aneh, Keras, Apalagi Bahasa Alien’

17 Januari 2025
Ngobrol Santuy Bareng Puthut EA Selain Soal Kepenulisan

Ngobrol Santuy Bareng Puthut EA Selain Soal Kepenulisan

24 November 2024
Puthut EA: 25 Tahun Berkarya Rilis Buku Waktu yang Pendek untuk Cinta yang Panjang

Puthut EA: 25 Tahun Berkarya Rilis Buku Waktu yang Pendek untuk Cinta yang Panjang

24 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.