• 79.2K
    Shares

Bagi hampir semua perempuan, tubuh yang ideal, yang montok, yang semok, yang semledot, adalah sebuah garis finish yang selalu layak untuk diperjuangkan dan diidam-idamkan. Namun, selayaknya garis finish, ia adalah zona yang tidak semua orang bisa melewatinya.

Banyak perempuan yang punya tubuh yang kurus laksana gagang padi, pun tak sedikit perempuan yang punya tubuh yang makmur dan sentosa (untuk tidak menyebutnya gemuk).

Yang pertama biasanya jarang dikeluhkan, nah, yang kedua ini yang hampir selalu menjadi momok yang mengerikan. Banyak perempuan yang selalu merasa tidak nyaman dengan berat badan yang berlebih. Tak heran jika kemudian sampai muncul anekdot tentang dua suara yang paling ditakuti oleh perempuan: bunyi terompet sangkakala, dan pernyataan “Kamu gemukan, ya.”

Tak dapat disangkal bahwa berat badan berlebih adalah hal yang begitu menakutkan bagi perempuan. Banyak perempuan yang bahkan sampai rela menderita, menahan lapar, mengurangi cemilan, terus-menerus berolahraga, semata demi terhindar dari berat badan berlebih (Hasyah, sebut saja gendut, gemuk. Pakai sok-sokan diperhalus segala).

Ada banyak faktor yang membuat perempuan bisa menjadi gemuk, dari mulai faktor keturunan, gaya hidup, sampai urusan makan.

Nah, soal gemuk ini, ada satu fakta yang cukup menarik. Usut punya usut, berdasarkan hasil sebuah penelitian oleh para peneliti yang layak ditempeleng, eh, dipercaya, ternyata salah satu sebab perempuan bisa punya tubuh gemuk adalah lancarnya hubungan asmara. Nah lho…

Ini serius. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Queensland, Australia dengan melibatkan sekitar 6.459 perempuan selama 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa perempuan yang mempunyai hubungan asmara yang baik dan menggembirakan cenderung mudah mengalami kenaikan berat badan.

Dalam hasil penelitian tersebut, disebutkan bahwa perempuan yang bahagia dengan kekasihnya punya kecenderungan kenaikan berat badan antara 4-5 kilogram.

Ada beberapa analisis tentang penyebab kenaikan berat badan ini. Di antaranya adalah faktor kebersamaan. Perempuan ketika sedang bersama kekasihnya cenderung suka menghabiskan waktu untuk makan bersama. Semakin banyak waktu bersama, semakin banyak pula makannya.

Faktor Kedua adalah faktor kekompakan. Saat makan bersama, perempuan cenderung ingin mengimbangi nafsu makan kekasihnya. Ia merasa senang bila bisa makan dengan porsi yang sama dengan sang kekasih. “You jump, i jump, you makan banyak, i juga makan banyak.”

Secara biologis, nafsu makan lelaki lebih besar dari perempuan, sehingga jika seorang perempuan ingin mengimbangi nafsu makan kekasihnya, maka konsekuensinya adalah ia harus makan dengan porsi yang jauh lebih besar ketimbang porsi yang biasa ia makan.

Faktor ketiga, perempuan yang bahagia cenderung lebih banyak menghabiskan cemilan manis. Padahal seperti yang sudah jamak diketahui, makanan manis adalah salah satu makanan yang paling mudah meningkatkan berat badan.

Faktor keempat, ini faktor yang sifatnya psikologikal. Saat pasangan kekasih sudah saling mencintai, terlebih sudah berada dalam tingkatan yang serius, atau bahkan malah sudah menikah, keduanya cenderung tidak memperhatikan penampilan, sebab satu sama lain merasa pasangannya bisa menerima apa adanya. Si lelaki merasa tidak perlu memperhatikan kebersihan dan kerapihan tubuhnya, sedangkan si perempuan tidak terlalu memperhatikan berat badannya. Klop. 

Nah, Gimana? Menarik bukan? Berbekal fakta ini, mulai sekarang, jangan mudah menilai perempuan berbadan bongsor dan makmur sebagai perempuan yang tidak mau menjaga berat badan atau menjaga penampilan. Bisa jadi ia gemuk karena memang ia menjalani hubungan asmara yang baik dan menggembirakan.

Intinya, tak selamanya gemuk itu kelabu. Bukan begitu, mbak-mbak “Pecel Lele” (Persekutuan Cewek Lemu-Lemu)?

  • 79.2K
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles