Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

Pengalaman Kesurupan Massal di Sekolah Siang Hari

Redaksi oleh Redaksi
8 Agustus 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Masa-masa indah di SMA seolah belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengalaman kesurupan massal yang mencekam.

Setiap kali ada berita kesurupan massal yang muncul di televisi, tak pernah sekalipun aku membayangkannya bakal terjadi di kehidupan nyata. Tapi hari-hari itu akhirnya tiba juga.

Iklan

Namaku Erlina, dan aku masih duduk di kelas 10. Aku kira, hidup sebagai anak SMA itu menyenangkan dan bakal penuh dengan kisah-kisah tak terlupakan soal cinta dan persahabatan. Sayangnya, suatu hari, sekolahku diserang sesuatu yang aneh.

Kelasku adalah satu-satunya kelas yang dibangun dengan lantai lebih tinggi. Ada dua anak tangga di depan pintu. Entah apa penyebabnya, padahal kelas lain dibangun dengan biasa saja.

Di hari itu, segalanya terasa lain. Awalnya terjadi waktu istirahat tiba. Seorang kakak kelas, namanya Kak Tia, berjalan di depan kelasku. Tiba-tiba saja dia berhenti dan berdiri di lapangan yang memang ada tepat di depan kelas.

Lama-kelamaan, aku menyadari apa yang terjadi. Kak Tia bukan berhenti berdiri—dia tidak bisa berjalan mendadak. Air mukanya ketakutan dan menangis. Teman-temannya datang mengelilinginya karena merasa ada yang tidak beres.

“Ketempelan,” kata salah seorang dari mereka.

Kak Tia tidak bisa bergerak. Ia bahkan tak bisa berkata-kata. Air matanya turun terus, sampai-sampai guru agama kami datang dan berusaha menolong. Suasana mendadak mencekam.

Belum selesai soal Kak Tia, dari arah musala terdengar ramai-ramai. Kak Ranti, salah seorang kakak kelas yang lain, disebut-sebut kesurupan dan berteriak tak henti-henti. Saat teman-temannya ingin membawa ke lapangan yang lebih luas dan lega, teriakannya makin keras, apalagi saat melewati depan kelasku.

Suasana kesurupan massal makin tak terkendali. Seorang kawan di kelas sebelah mendadak pingsan setelah berteriak panjang. Beberapa perempuan mulai menangis, sebagian karena ketakutan, sebagian lagi sambil tertawa tak jelas.

Di tengah hiruk pikik dan ketakutan, cerita-cerita aneh malah beredar. Ada yang kembali mengingatkan bahwa sekolah kami dulunya adalah bekas kuburan dan kelasku adalah daerah “yang paling mengerikan”. Dari kabar ini, banyak yang percaya bahwa tentu ini wajar kalau ada kesurupan massa terjadi. Sementara itu, Kak Tia masih tak bisa bergerak dan bicara. Guru-guru kami berusaha menenangkan murid.

Aku sendiri masih tetap di dalam kelas, meski desas-desus aneh mulai terdengar. Di luar rasanya terlalu mengerikan dan aku sesungguhnya adalah seorang penakut.

Sialnya, di keadaan genting kesurupan massal ini, aku malah kebelet pipis.

Karena tak tahan, aku memberanikan diri pergi ke toilet sekolah. Sepanjang perjalanan hingga masuk ke bilik toilet, aku bernyanyi dalam hati dengan maksud mengalihkan ketakutanku. Oh iya, toilet sepi hari itu. Hanya ada dua bilik di sana.

Iklan

Saat aku masih di dalam, aku mendengar suara air keran dari bilik sebelah. Deg! Siapa?

Selesai buang air kecil, aku langsung mencuci tangan di wastafel. Tidak ada cermin di sana, jadi aku tak bisa sambil diam-diam mengintip ke arah bilik satunya.

Tapi saat aku agak menunduk dan mencuci tangan dengan sabun, ada suara yang terdengar jelas di belakangku: “Halo!”

Aku refleks menoleh. Tak ada siapa pun.

Di saat bersamaan, di luar toilet, seorang siswa berteriak keras sekali, diikuti dengan suara “Bruk!” dan kalimat yang cukup lantang, “Tolong! Di sini juga ada yang kena!”

Aku, di depan wastafel, mendadak kaku dan tak bisa bergerak, bahkan sekadar untuk minta tolong. (A/K)

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2019 oleh

Tags: guru agamakesurupan massalketempelansekolahSMA
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Sekolahan

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO
Esai

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Sekolahan

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Alasan seorang ibu tak ragu kuliahkan anak di Universitas Terbuka (UT). Perjalanan dan pencapaian anak jadi jawabannya MOJOK.CO

Saat Ibu Dukung Anak Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Berbuah Pencapaian Membanggakan

30 Juli 2026
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

1 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.