Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Alasan Kenapa Negeri Ini Butuh Lebih Banyak Toilet Umum

Faza Syahriza Mutahajjad oleh Faza Syahriza Mutahajjad
14 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sufi zaman dulu suka menyendiri, tetapi tak individualis. Salah satu cara yang bisa ditiru adalah bikin toilet umum untuk tempat menyendiri massal.

Seorang teman bertanya kepada Bahlul dengan sangat serius.

“Bahlul, kira-kira usaha apa ya yang paling gampang dapet banyak duit, sekaligus bisa melakukan kebaikan dan dapat pahala?”

Tidak langsung menjawab, Bahlul merenung sejenak, seakan-akan dia Aristoteles.

“Usaha kloset!” jawabnya tiba-tiba.

“Maksudmu jual beli perabotan toilet?”

“Bukan, jasa toilet umum.”

“Jancuuk,” teriak teman Bahlul.

Lho apanya yang salah dari usulan Bahlul?

Di mana-mana di dunia ini, profesi atau bisnis terkait jasa memang hanya berkutat pada pengobatan, guru, tukang urut atau prostitusi yang memang jelas-jelas membutuhkan jasa dari profesional yang terlatih.

Artinya, itu profesi yang tidak semua orang bisa melakukannya. Namun khusus untuk toilet umum, tidak perlu ada keahlian khusus bukan?

Hanya saja tidak pernah ada seorang yang merasa berpendidikan bakal terpikirkan bahwa toilet umum merupakan bagian dari jasa. Padahal dalam kamus besar bahasa Indonesia, jasa adalah perbuatan baik atau berguna dan bernilai bagi orang lain, negara, instansi, dan sebagainya

Jadi jelas, jawaban Bahlul tidak salah. Lagian secara logika bisnis sederhana saja, yang namanya toilet itu dibutuhkan oleh semua makhluk hidup yang berakal dan berdubur. Ini jelas peluang besar bagi para entrepreneur muda yang ingin merintis usahanya. Sekaligus menyelamatkan banyak manusia dari penyakit yang diakibatkan oleh menahan boker terlalu lama.

Lagian secara etika, toilet umum sangat berguna bagi mereka yang tidak terbiasa pipis sembari berdiri di pinggir jalan. Artinya toilet umum dibutuhkan bukan saja sebagai pemenuhan kebutuhan manusia, tetapi sebagai sarana mengaplikasikan etika pipis. Biar nggak pipis sembarangan.

Iklan

Para pengusaha toilet umum secara tidak langsung, memiliki potensi menghasilkan pahala-pahala yang tidak pernah terhitungkan oleh pebisnis lainnya.

Misalnya di depan toilet umum miliknya ditempel tulisan doa dan adab membuang hajat, atau menempel tulisan-tulisan yang menginspirasi seperti, “Jarak antara kau dengan kematian tidak lebih dari dua jarimu, maka jagalah sisa tiga jari lainnya.”

Sementara dari sisi estetika, toilet menjadi ruang inspirasi bagi mereka yang pikirannya sedang tertutup. Siapa tahu saja, dari toilet nyaman yang kita sewakan bisa menghasilkan karya-karya besar seperti puisi, lagu, ide revolusi, pesawat luar angkasa, baju Iron Man, dan sebagainya.

Jadi, mereka yang habis nyewa toilet umum milikmu bakal jadi pribadi yang lebih baik lagi dengan ide-ide segar yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat manusia. Dunia ini terlalu sempit, kita butuh toilet yang luas untuk membuka kembali ide-ide yang selama ini tersendat.

Kalau ada yang dengan tegang membantah ketiga fungsi toilet di atas, mereka harus lebih giat membaca lagi, terutama kata-kata mutiara ini: “Khudz al-hikmah walau min dubur ad-dajajah.” Ambillah kebijaksanaan meski itu keluar dari dubur seekor ayam.

Jadi sangat mashook kalau disebut toilet umum merupakan perusahaan jasa yang sangat dibutuhkan manusia di era milenial ini. Lha gimana? Urusan dubur ayam aja bisa jadi penting, apalagi ini: urusan dubur manusia.

Ini belum membicarakan toilet dari sisi bisnis dan ekonomi lho. Ya kan siapa tahu, banyaknya toilet umum yang disediakan akan membantu menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Dari mulai membuka lapangan kerja bagi para kuli bangunan, penjaga toilet, pembuat kotak untuk menyimpan sementara hasil keuntungan hari ini, tukang perabotan, gayung, ember, toko kelontong, sabun, dan masih banyak lagi yang terbantu ekonominya dari jasa toilet umum.

“Lah, kau ini serius sekali, Bahlul?” tanya teman Bahlul.

“Ya, iya dong. Negeri ini kebanyakan pagi, tapi kekurangan senja. Kebanyakan gairah, kekurangan perenungan.”

Lama-lama manusia emang lebih mencintai pagi daripada malam, lebih tertarik dengan keramaian daripada kesendirian. Banyak para guru dan motivator mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Namun sangat jarang sekali yang mengingatkan bahwa manusia membutuhkan kesendirian, perenungan, dan air mata betulan di pojokan kamar mandi.

Akan tetapi jangan samakan antara sikap individualis dan kegiatan menyendiri. Para sufi zaman dulu senantiasa dianjurkan untuk menyendiri, tetapi tidak pernah bersikap individualis. Dan salah satu cara untuk bisa membantu orang lain menyendiri tapi tidak individualis adalah: buka toilet umum.

Kalau kata Jalaludin Rumi, “Sibukkan jasmanimu kepada urusan dunia dan sibukkan hatimu kepada Tuhan.”

Bahlul seakan mengajak kita berpikir bahwa toilet jangan hanya diartikan sebagai tempat boker semata. Dia menyindir manusia modern yang kekurangan tempat untuk menyendiri dari keramaian dan satu-satunya tempat yang dianggap paling efektif untuk menyendiri menurut ya toilet.

Sayangnya, manusia zaman ini benar-benar telah kehilangan privasinya sebagai makhluk penyendiri. Di mana saja ia bertempat, di sana pasti ada smartphone dan media sosial yang secara psikologis pasti merusak suasana romantis manusia dengan diri sendirinya, sehingga, karena terlalu sibuknya, manusia menjadi tidak pernah mengenal dan berkomunikasi dengan dirinya.

Padahal Nabi pernah bersabda, “Siapa saja yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”

Jika masjid belum mampu menjadi tempatmu berkenalan dengan dirimu, siapa tahu toilet nyaman dan bersih bisa membuatmu berkomunikasi dan bersapa kabar lagi dengan dirimu.

Barangkali sempat ada konflik horizontal, perbedaan persepsi, kebohongan dan keresahan yang tak kunjung terselesaikan karena sibuknya dirimu dengan dunia luar.

Pada beberapa tradisi keilmuan sufi, banyak di antara teman Bahlul yang menjalankan tirakat puasa khawas al-khawash (sangat khusus) yaitu puasa bicara, yang di dalam bahasa tasawuf disebut al-Sukut dan al-Shumt.

Mereka boleh melakukan apa saja seperti makan, minum, tidur dan sebagainya kecuali berbicara atau berkomunikasi, baik menggunakan mulut atau alat komunikasi lainnya.

Tujuannya hanya satu, agar terciptanya suatu keadaan romantis, sakral, dan intim untuk “berduaan” dengan diri sendiri.

Kata Nabi dalam hadis qudsinya, “Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri maka ia akan tersesat semakin jauh.”

Jadi pertanyaannya, sudahkah kamu mengenal dirimu sendiri untuk kemudian mengenal Tuhanmu?

Jika belum, coba perhatikan lagi, jangan-jangan di sekitarmu memang tidak ada toilet umum?

Terakhir diperbarui pada 14 Maret 2019 oleh

Tags: entrepreneur mudairon manjalaludin rumisufitoilet umum
Faza Syahriza Mutahajjad

Faza Syahriza Mutahajjad

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

Artikel Terkait

Habib Luthfi yang Saya Kenal: Habib yang Menangis ketika Membicarakan Waliyullah dan Rasulullah MOJOK.CO
Esai

Habib Luthfi yang Saya Kenal: Habib yang Menangis ketika Membicarakan Waliyullah dan Rasulullah

4 Oktober 2022
Nafkah-Tony-Stark-MOJOK.CO
Esai

Jika Iron Man Orang Indonesia, Sudah Pasti Dia Orang Madura!

25 Juli 2021
Imam As'ad Lelah Miskin, Meniti Jalan Sufi dan Zikir, Malah Hidup Berkecukupan
Liputan

Lelah Miskin, Meniti Jalan Sufi, Malah Hidup Berkecukupan

4 Juni 2021
Kolom

Kisah Nabi Isa dan Orang Bebal

8 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.