• 33
    Shares

MOJOK.CO – Sufi zaman dulu suka menyendiri, tetapi tak individualis. Salah satu cara yang bisa ditiru adalah bikin toilet umum untuk tempat menyendiri massal.

Seorang teman bertanya kepada Bahlul dengan sangat serius.

“Bahlul, kira-kira usaha apa ya yang paling gampang dapet banyak duit, sekaligus bisa melakukan kebaikan dan dapat pahala?”

Tidak langsung menjawab, Bahlul merenung sejenak, seakan-akan dia Aristoteles.

“Usaha kloset!” jawabnya tiba-tiba.

“Maksudmu jual beli perabotan toilet?”

“Bukan, jasa toilet umum.”

“Jancuuk,” teriak teman Bahlul.

Lho apanya yang salah dari usulan Bahlul?

Di mana-mana di dunia ini, profesi atau bisnis terkait jasa memang hanya berkutat pada pengobatan, guru, tukang urut atau prostitusi yang memang jelas-jelas membutuhkan jasa dari profesional yang terlatih.

Artinya, itu profesi yang tidak semua orang bisa melakukannya. Namun khusus untuk toilet umum, tidak perlu ada keahlian khusus bukan?

Hanya saja tidak pernah ada seorang yang merasa berpendidikan bakal terpikirkan bahwa toilet umum merupakan bagian dari jasa. Padahal dalam kamus besar bahasa Indonesia, jasa adalah perbuatan baik atau berguna dan bernilai bagi orang lain, negara, instansi, dan sebagainya

Jadi jelas, jawaban Bahlul tidak salah. Lagian secara logika bisnis sederhana saja, yang namanya toilet itu dibutuhkan oleh semua makhluk hidup yang berakal dan berdubur. Ini jelas peluang besar bagi para entrepreneur muda yang ingin merintis usahanya. Sekaligus menyelamatkan banyak manusia dari penyakit yang diakibatkan oleh menahan boker terlalu lama.

Lagian secara etika, toilet umum sangat berguna bagi mereka yang tidak terbiasa pipis sembari berdiri di pinggir jalan. Artinya toilet umum dibutuhkan bukan saja sebagai pemenuhan kebutuhan manusia, tetapi sebagai sarana mengaplikasikan etika pipis. Biar nggak pipis sembarangan.

Para pengusaha toilet umum secara tidak langsung, memiliki potensi menghasilkan pahala-pahala yang tidak pernah terhitungkan oleh pebisnis lainnya.

Misalnya di depan toilet umum miliknya ditempel tulisan doa dan adab membuang hajat, atau menempel tulisan-tulisan yang menginspirasi seperti, “Jarak antara kau dengan kematian tidak lebih dari dua jarimu, maka jagalah sisa tiga jari lainnya.”

Baca juga:  Kelahiran dan Kematian Rabi’ah al-Adawiyyah

Sementara dari sisi estetika, toilet menjadi ruang inspirasi bagi mereka yang pikirannya sedang tertutup. Siapa tahu saja, dari toilet nyaman yang kita sewakan bisa menghasilkan karya-karya besar seperti puisi, lagu, ide revolusi, pesawat luar angkasa, baju Iron Man, dan sebagainya.

Jadi, mereka yang habis nyewa toilet umum milikmu bakal jadi pribadi yang lebih baik lagi dengan ide-ide segar yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh umat manusia. Dunia ini terlalu sempit, kita butuh toilet yang luas untuk membuka kembali ide-ide yang selama ini tersendat.

Kalau ada yang dengan tegang membantah ketiga fungsi toilet di atas, mereka harus lebih giat membaca lagi, terutama kata-kata mutiara ini: “Khudz al-hikmah walau min dubur ad-dajajah.” Ambillah kebijaksanaan meski itu keluar dari dubur seekor ayam.

Jadi sangat mashook kalau disebut toilet umum merupakan perusahaan jasa yang sangat dibutuhkan manusia di era milenial ini. Lha gimana? Urusan dubur ayam aja bisa jadi penting, apalagi ini: urusan dubur manusia.

Ini belum membicarakan toilet dari sisi bisnis dan ekonomi lho. Ya kan siapa tahu, banyaknya toilet umum yang disediakan akan membantu menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Dari mulai membuka lapangan kerja bagi para kuli bangunan, penjaga toilet, pembuat kotak untuk menyimpan sementara hasil keuntungan hari ini, tukang perabotan, gayung, ember, toko kelontong, sabun, dan masih banyak lagi yang terbantu ekonominya dari jasa toilet umum.

“Lah, kau ini serius sekali, Bahlul?” tanya teman Bahlul.

“Ya, iya dong. Negeri ini kebanyakan pagi, tapi kekurangan senja. Kebanyakan gairah, kekurangan perenungan.”

Lama-lama manusia emang lebih mencintai pagi daripada malam, lebih tertarik dengan keramaian daripada kesendirian. Banyak para guru dan motivator mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Namun sangat jarang sekali yang mengingatkan bahwa manusia membutuhkan kesendirian, perenungan, dan air mata betulan di pojokan kamar mandi.

Akan tetapi jangan samakan antara sikap individualis dan kegiatan menyendiri. Para sufi zaman dulu senantiasa dianjurkan untuk menyendiri, tetapi tidak pernah bersikap individualis. Dan salah satu cara untuk bisa membantu orang lain menyendiri tapi tidak individualis adalah: buka toilet umum.

Baca juga:  Cerita Tiga Orang Tuli dan Seorang Sufi Bisu

Kalau kata Jalaludin Rumi, “Sibukkan jasmanimu kepada urusan dunia dan sibukkan hatimu kepada Tuhan.”

Bahlul seakan mengajak kita berpikir bahwa toilet jangan hanya diartikan sebagai tempat boker semata. Dia menyindir manusia modern yang kekurangan tempat untuk menyendiri dari keramaian dan satu-satunya tempat yang dianggap paling efektif untuk menyendiri menurut ya toilet.

Sayangnya, manusia zaman ini benar-benar telah kehilangan privasinya sebagai makhluk penyendiri. Di mana saja ia bertempat, di sana pasti ada smartphone dan media sosial yang secara psikologis pasti merusak suasana romantis manusia dengan diri sendirinya, sehingga, karena terlalu sibuknya, manusia menjadi tidak pernah mengenal dan berkomunikasi dengan dirinya.

Padahal Nabi pernah bersabda, “Siapa saja yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”

Jika masjid belum mampu menjadi tempatmu berkenalan dengan dirimu, siapa tahu toilet nyaman dan bersih bisa membuatmu berkomunikasi dan bersapa kabar lagi dengan dirimu.

Barangkali sempat ada konflik horizontal, perbedaan persepsi, kebohongan dan keresahan yang tak kunjung terselesaikan karena sibuknya dirimu dengan dunia luar.

Pada beberapa tradisi keilmuan sufi, banyak di antara teman Bahlul yang menjalankan tirakat puasa khawas al-khawash (sangat khusus) yaitu puasa bicara, yang di dalam bahasa tasawuf disebut al-Sukut dan al-Shumt.

Mereka boleh melakukan apa saja seperti makan, minum, tidur dan sebagainya kecuali berbicara atau berkomunikasi, baik menggunakan mulut atau alat komunikasi lainnya.

Tujuannya hanya satu, agar terciptanya suatu keadaan romantis, sakral, dan intim untuk “berduaan” dengan diri sendiri.

Kata Nabi dalam hadis qudsinya, “Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri maka ia akan tersesat semakin jauh.”

Jadi pertanyaannya, sudahkah kamu mengenal dirimu sendiri untuk kemudian mengenal Tuhanmu?

Jika belum, coba perhatikan lagi, jangan-jangan di sekitarmu memang tidak ada toilet umum?

  • 33
    Shares


Loading...



No more articles